Sambo Lelaki Sejati, Faktor Seks Jadi Klimaks? Siapa Penyusun Skenario?

Sambo Lelaki Sejati, Faktor Seks Jadi Klimaks? Siapa Penyusun Skenario? Dahlan Iskan

JAKARTA, BANGSAONLINE.com Pada era disrupsi, media resmi “balapan” dengan media sosial (medsos). Hanya saja trust atau kepercayaan publik tetap berada di media formal karena dijaga kode etik jurnalistik.

Itulah tampaknya yang juga terjadi pada kasus yang kini jadi tersangka pembunuhan .

Maka, meski ada skenario keterangan pers untuk menutupi peristiwa yang sebenarnya, tapi realitas yang terjadi justru di luar kehendak Sambo.

Tapi benarkah pembunuhan itu hanya faktor seks, bukan yang lain? Benarkah ada skenario menyusun keterangan pers?

Silakan baca tulisan wartawan kondang, Dahlan Iskan, di HARIAN BANGSA hari ini, Jumat, 12 Agustus 2022. Atau di BANGSAONLINE.com di bawah ini. Selamat membaca: (PENGANTAR REDAKSI BANGSAONLINE).

MEDIA inilah yang harus dicatat sebagai pembuka peristiwa Duren Tiga. Media mainstream. Kalau tidak, bisa jadi peristiwa itu terkubur –mungkin untuk selama-lamanya.

Media itu ada di . Wartawan itu sebenarnya telat tahu: ada polisi, asal , yang mati tertembak. Sudah dua hari sebelumnya.

Wajar telat. Rumah polisi itu di pedalaman. Sang korban juga dikubur di pedalaman itu. Kurang bisa menarik perhatian seketika.

Si wartawan lantas ke Polda . Humas Polda tidak tahu. Ia meminta Si wartawan ke Kabid Propam. Mungkin bidang Propam yang tahu. Ini kan menyangkut anggota .

Tapi Propam Polda juga tidak tahu. Tidak bisa menjawab. Maka Propam menanyakan itu ke Propam Mabes .

pun ambil kesimpulan: berarti peristiwa Duren Tiga sudah diketahui media. Tidak bisa lagi ditutupi. Harus disiapkan jawaban yang tepat. Yang bisa membantu menyusun jawaban itu harus orang yang memahami media.

Irjen Pol tidak sulit mencari orang yang punya kualifikasi dekat dengan media. Ia juga sosok yang aman. Tepercaya. Ia penasihat ahli Kapolri, bidang komunikasi publik.

Maka Jenderal Sambo menelepon Sang penasihat media: Fahmi Alamsyah.

Awalnya muncul berita Fahmilah yang diminta menyusun skenario jalannya peristiwa. Baiknya seperti apa. Agar bisa diterima logika media. Belakangan Fahmi membuat klarifikasi: ia hanya diminta membuat draf press release.

Sampai di sini kita belum bisa memastikan. Versi mana yang benar. Kita juga belum tahu. Seberapa sama draf yang disusun Fahmi itu dibanding dengan keterangan pers yang dibacakan Kahumas Mabes yang bersejarah itu.

Saya menghubungi Fahmi. Ia terlihat ramah dan terbuka. Saya pun berkenalan. "Apakah kita pernah bertemu?" tanya saya. Ternyata kami belum pernah berjumpa. Setelah basa-basi saya mulai bertanya: apakah pengunduran dirinya sebagai penasihat Kapolri itu suka rela atau diminta.

Ia mulai tidak menjawab. Demikian juga pertanyaan lain yang menjurus ke inti persoalan. Saya memaklumi. Ini soal yang sensitif baginya.

Simak berita selengkapnya ...

Lihat juga video 'Tak Kuat Menanjak, Truk Mengalami Rem Blong Hingga Menyebabkan Kecelakaan Beruntun':