“Wanablukum bi al-syarr wa al-khair fitnah”. Kemudian Tuhan memberi ujian untuk dilihat hasil dan prestasi masing-masing. Mana nafs yang lulus dan mana yang gagal. Materi ujinya ada yang berupa “al-syarr”, hal yang tidak enak, yang buruk, yang menyengsarakan. Dan ada yang bersifat “al-khair”, yang enak-enak yang nyaman-nyaman, yang menyenangkan.
Di antara hamba Tuhan ada yang diuji dengan kemiskinan, hidup sengsara bahkan ditakdir sakit berkepanjangan. Tapi mampu bersabar dan menerima ujian itu dengan suka hati. Dia tetap bersimpuh dan makin bersimpuh di hadapan Tuhan. Ingat Nabi Ayyub A.S. yag diuji kemiskinan dan penyakitan, tapi tetap tersenyum ikhlas di hadapan Tuhan.
Seperti seorang sahabat bernama Imran ibn Hashin yang diuji menderita sakit selama tiga puluh tahun, berbaring di atas ranjang, hingga kurus dan memilukan. Beberapa sahabat membezuk. Mereka meneteskan air mata.
Tapi Sahabat Imran ibn Hashin langsung menegur para sahabat yang membezuk itu. ”Kenapa kalian menangis. Jika Tuhan rela dengan sakit saya ini, maka saya juga rela. Janganlah air mata kalian mengganggu kerelaan saya kepada-Nya,” kata Sahabat Imran Ibn Hashin.










