GRESIK (bangsaonline) - Mantan Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi menginggatkan kiai-kiai agar dalam mengambil keputusan dengan melalui pertimbangan yang lengkap.
Begitu juga dalam memutuskan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) hendaknya tabayyun atau berkumpul untuk musyawarah.
"Saya harap kiai NU dalam memutuskan pertimbangannya lengkap. Harus tabayyun atau berkumpul untuk musyawarah. Sehingga pemikiran NUharus menjadi pemikiran masional," ujarnya dalam Silaturrahim Bersama Ulama dan Tokoh Masyarakat se Kabupaten Gresik yang berlangsung di Kantor PC NU Gresik, kemarin.
Rois Syuriah PBNU tersebut menyatakan mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla karena pertimbangankepentingan Nahlatul Ulama (NU) serta kepentingan bangsa Indonesia.
Menurutnya, Jusuf Kalla (JK) tak perlu diragukan ke-NU-an. Bukan sekedar JK duduk sebagai mustasyar PBNU. Tetapi, JK juga mampu mengurai keruwetan bangsa ini.
"Diperlukan orang yang mampu mengurai keruwetan bukan menambah keruwetan," paparnya.
Hasyim Muzadi mengaku bukan tim sukses dari pasangan Jokowi-JK. Namun, dia mendukung sepenuhnya JK untuk menjadi wakil presiden.
"Ada empat hal yang bisa melihat seseorang itu NU atau bukan," tandasnya.
Untuk JK, sambung Hasyim Muzadi, dapat dilihat dari amaliyahnya. Ternasuk, JK ketika menjabat wakil presiden mampu meredam berbagai konflik yang terjadi di Indonesia.
"NU tak pernah ribut Ada amaliyah untuk NU dan untuk negara. JK memadamkan konflik bukan membuat konflik," paparnya.
Terkait dengan sosokJokowi, sambung Hasyim Muzadi, sudah pernah dicek langsung ke Solo. Ternyata, semua kabar miring yang beredar adalah salah. "Jokowi sudah haji, sering umroh. Ibunya muslimah taat. Ya, kalau Jokowi ngajinya tidak seperti lulusan pesantren,"paparnya.



