Nasib Terigu seperti Pemikul Salib, Harga Indomie Terus Naik, RI Impor Gandum dari Ukraina | BANGSAONLINE.com - Berita Terkini - Cepat, Lugas dan Akurat

Nasib Terigu seperti Pemikul Salib, Harga Indomie Terus Naik, RI Impor Gandum dari Ukraina

Editor: mma
Kamis, 24 Maret 2022 10:56 WIB

Dahlan Iskan di area persawahan Amerika Serikat yang ditanami gandum. Foto: ist

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Harga mie, roti dan makanan lain yang bahan bakunya terus merangkak naik. Ironisnya, Indonesia tak bisa menanam . Negara kita justru impor dari Ukraina yang sekarang lagi perang. Tapi benarkah jadi bencana nasional? Apa hubungannya dengan pemikul salib?

Simak tulisan wartawan kondang, Dahlan Iskan, di HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com pagi ini, Kamis 24 Maret 2022. Selamat membaca:

APA sih maunya Rusia ini? Kok lama banget tidak menyelesaikan serangannya ke Ukraina. Harga di Indonesia sudah begini tingginya. Juga harga elpiji. Dan banyak lainnya.

Apa juga sih maunya Ukraina ini? Kok begitu-begitu terus. Ini, harga batu bara sudah tak tertahankan.

Dan apa sih maunya NATO itu? Seperti membiarkan keadaan digantung tidak menentu.

Sampai-sampai saya baca berita di kantor berita asing, Al Jazeera, kemarin dulu: orang Medan kini lebih sulit mencari di toko-toko. Diceritakan di situ: satu orang Medan sangat fanatik . Ia begitu mengeluhkan kelangkaan . Harga yang biasanya Rp 2.300-Rp 2.500 kini menjadi Rp 2.700 - Rp 2.800. Ia tahu: sulitnya mendapat itu akibat perang di Ukraina.

Saya pun bertanya ke beberapa sumber yang dekat dengan . Ternyata Indonesia memang impor sangat besar dari Ukraina: 3 juta ton. Setahun. Itu angka tahun 2020.

Anehnya dari negara lain juga terpengaruh. Misalnya yang dari Australia. Ikut terganggu. "Kami kian sulit mendapat dari Australia," ujar pengusaha di Makassar. "Masih bisa dapat sih, tapi harganya naik drastis," katanyi. "Naik sampai 50 persen," tambahnyi.

Kenaikan harga itu membuat pengusaha mie dan roti di persimpangan jalan. Sebagian berani menaikkan harga jual. Sebagian lagi pilih mengurangi produksi. Hanya sedikit yang berani menurunkan kualitas: dengan cara mengganti bahan baku dengan yang lebih murah.

Dengan kenaikan " rel="tag">harga sampai 50 persen, tidak mungkin tidak menaikkan harga jual. Pada akhirnya. Kecuali perang segera selesai. Terigu kembali normal.

Faktor harga sangat sensitif bagi produk seperti .

Bisa saja, awalnya, produsen akan memilih menurunkan produksi. Tanpa menaikkan harga. Sekadar untuk mengurangi kerugian. Sekalian untuk merencanakan pembentukan harga baru. Sambil lihat-lihat apa yang dilakukan pesaing.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video