Cak Imin Berani Melawan Ketum PBNU, karena Digoyang atau Faktor HMI-PMII?

Editor: MMA
Rabu, 04 Mei 2022 16:15 WIB

A Muhaimin Iskandar. Foto: bangsaonline.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Publik kaget – terutama warga NU. Ketua Umum A () tiba-tiba sangat berani dan percaya diri (PD) melawan pengaruh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Tak hanya itu. terkesan “menyepelekan” pengaruh Gus Yahya.

“Bahkan, Yahya Cholil Ketum PBNU ngomong apa aja terhadap , enggak ngaruh sama sekali," kata dalam acara "Ngabuburit Bersama Tokoh" CNN Indonesia TV, Ahad (1/5/2022).

tampak sangat percaya diri. Menurut dia, semua lembaga survei menyebutkan bahwa 13 juta pemilih loyal, solid sampai ke bawah. Sehingga tidak perlu ada ketergantungan pada NU, terutama PBNU.

Yang menjadi pertanyaan besar, apa ada alasan lain yang lebih mendasar sehingga berani secara terbuka dan terang-terangan melawan Gus Yahya, ketua umum PBNU? Bukankah partai lain sangat hati-hati pada PBNU. Bahkan menunduk-nunduk agar dapat “barokah suara” melimpah?

Paling tidak, agar tak ada stigma negatif. Misalnya partainya tak dianggap berseberangan dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Tapi kenapa justru mendeklarasikan “perang terbuka”?

sebenarnya cukup lama berpikir mandiri, tidak tergantung pada PBNU. Tepatnya ketika PBNU dipimpin oleh KH Hasyim Muzadi. Maklum, Kiai Hasyim Muzadi tak bisa didekte. Sehingga tak punya akses ke PBNU.

Saat itu, – dalam diskusi-diskusi internal – memberi contoh Partai Amanat Nasional (PAN). 

“PAN tanpa didukung Muhammadiyah bisa jalan,” kata dalam beberapa kesempatan. membayangkan bahwa profesional dengan tanpa ketergantungan pada bantuan PBNU.

Ide itu didukung penuh oleh kakak kandungnya, A Halim Iskandar, yang saat itu masih ketua DPC Jombang. Kini Gus Nanang – panggilan akrab Halim Iskandar – Ketua DPW Jawa Timur yang juga Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Tapi ketika KH Said Aqil Siroj terpilih sebagai ketua umum PBNU, mulai punya akses ke PBNU. Maklum, banyak “berperan” dalam Muktamar NU. Baik di Muktamar NU ke-32 di Makassar, lebih-lebih pada Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang. disebut-sebut sebagai aktor utama Muktamar NU terutama atas terpilihnya Said Aqil.

bahkan kemudian sukses menancapkan kader-kader untuk “mengusai” struktur PBNU. Di antaranya Helmy Faishal Zaini yang kemudian menjabat Sekjen PBNU. Kebetulan Helmy Faishal besanan dengan Said Aqil Siroj. Putri Said Aqil menikah dengan adik kandung Helmy Faishal. Klop. 

Bahkan lembaga dan banom PBNU banyak “dikuasai” kader-kader . Kader banyak menjadi ketua dan pengurus banom, lembaga, dan lajnah di PBNU. 

Tapi pada Muktamar NU ke-34 Lampung, berada di persimpangan jalan. Semula mendukung Said Aqil Siroj yang maju sebagai calon ketua umum PBNU untuk ketiga kalinya. Tapi gagal karena kalah suara dengan Yahya Staquf. Kenapa gagal dan kalah, tentu para ketua PCNU yang tahu rahasianya.

Yang pasti - sekali lagi – berada di persimpangan jalan. Buktinya, kubu Said Aqil akhirnya kecewa terhadap karena dianggap tidak all out. Pada sisi lain tidak diterima sepenuhnya di kubu Yahya Staquf.

makin tak punya harapan kepada PBNU ketika Yahya Staquf memberi pernyataan yang intinya mau mengambil jarak dengan .

"Relasi NU dengan saya kira alami sekali karena dulu dulu sendiri diinisiasi, dideklarasikan, oleh pengurus-pengurus PBNU, itu satu hal. Tapi, sekali lagi tidak boleh lalu NU ini jadi alat dari atau dikooptasi dengan ," ungkap Yahya pada program Newsroom CNN Indonesia TV, 29 November 2021.

Warga NU - terutama para kiai dan masyayikh - bangga sekali dengan pernyataan Yahya Staquf itu. Para masyayikh dan kiai menganggap Yahya Staquf independen, profesional, dan benar-benar kembali ke khittan 26: melepaskan diri dari politik praktis. Dan itulah yang menjadi harapan mayoritas warga NU.

Sebab selama PBNU dipimpin Said Aqil banyak sekali kiai-kiai NU jengah dengan “terlalu masuk”-nya pada internal NU. Bahkan hampir semua kepengurusan NU di semua level di-“intervensi” oleh . Sampai beberapa kiai menyatakan tak ada bedanya antara NU dan parpol.

(KH Yahya Cholil Staquf. Foto: Antara)

Namun para kiai akhirnya juga kecewa kepada Yahya Staquf, ketika tahu bahwa di balik pernyataan itu ternyata bukan kembali ke khittah 26, tapi ada partai lain yang “menggantikan” posisi , yaitu PDIP. Para kiai menggerutu: PBNU lepas dari ternyata jatuh ke pelukan PDIP. Setidaknya, itulah yang jadi pembahasan di grup WA para kiai NU.

Masuknya Mardani Maming, Ketua DPD PDIP Kalimantan Selatan, sebagai Bendahara Umum PBNU, menjadi bukti bahwa PBNU tetap diwarnai para politikus dan terlibat politik praktis. Bahkan Mardani tak sendirian. Masih ada kader PDIP lain yaitu Ahmad Basyarah yang ditancapkan sebagai wakil ketua Lakpesdam PBNU.

Ahmad Basyarah duduk sebagai wakil ketua Lakpesdam mendampingi Ketua Lakpesdam PBNU Ulil Abshar Abdallah, kerabat dekat Gus Yahya. Ulil adalah menantu Gus Mus.

Ironisnya, hanya dalam beberapa bulan Mardani Maming menjabat Bendahara Umum PBNU, ternyata dipanggil Pengadilan Tipikor Kalsel sebagai saksi kasus dugaan korupsi. Terlepas “hanya” sebagai saksi, tapi nama PBNU akhirnya terseret secara negatif. PBNU jadi sorotan nasional. Baru kali ini PBNU jadi sorotan publik dalam kasus dugaan korupsi. 

Karena itu banyak kiai yang prihatin. Terutama para pengurus NU di tingkat wilayah dan cabang. Apalagi ada pengerahan Banser untuk membela Mardani Maming. Itulah yang sangat disayangkan banyak kiai.

"Lha, dalam kasus ini partainya (PDIP) saja tidak melakukan pembelaan, kok PBNU malah bertindak yang berlebihan dengan pasang badan untuk Mardani Maming. Ada apa ini?," kata KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, dikutip Tempo.co., 25 April 2022.

"Para Muassis (pendiri) NU telah memberikan sikap tegas bila ada hal-hal berkaitan dengan hukum," tegas cucu Kiai Bisri Syansuri, Rais Aam Syuriah PBNU 1971-1980 itu.

Gus Salam adalah pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar. Jombang. Ia masih kerabat dekat .

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video