John Lee Boneka Lucu Tiongkok, Tak Ada Demokrasi di Hong Kong dan Singapura

Editor: mma
Selasa, 24 Mei 2022 09:32 WIB

Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.comJohn Lee, seorang polisi, terpilih sebagai pemimpin pemerintahan Hong Kong. Yaitu sebagai Kepala Ekskutif Hong Kong.

Para aktivis demokrasi menggambarkan dia sebagai Picachiu. Ia tak lebih sebagai boneka kucing dalam serial kartun Pokemon. Artinya: John Lee boneka lucu-lucuan Tiongkok.

Menarik? Silakan baca tulisan wartawan kondang, Dahlan Iskan, di HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com, Selasa 24 Meti 2022. Selamat menikmati:

Pikachiu Demokrasi

BEGITU sering saya membaca berita serius ini: perusahaan asing di Hong Kong pindah ke Singapura. Pun di masa pandemi kemarin.

Alasannya: tidak ada demokrasi lagi di Hong Kong. Tentu ada alasan lain: sentimen ke Tiongkok. Bukankah di Singapura juga tidak ada demokrasi?

Sentimen itu bertambah-tambah menjelang Pemilu di Hong Kong. Tanggal 8 Mei lalu. Masih bertambah juga setelahnya.

Yang terpilih di Pemilu barusan adalah John Lee. Musuh Amerika. Ia termasuk orang pertama yang dijatuhi sanksi Amerika. Di samping 9 pemimpin Tiongkok/Hong Kong lainnya.

Tapi John Lee aman.

Kredit rumahnya sudah lunas. Sejak beberapa tahun lalu. Tidak ada lagi urusan dengan bank.

Latar belakang John Lee membuat aktivis demokrasi di Hong Kong kecewa. John Lee adalah polisi tulen. Ia sudah masuk kepolisian di umur 20 tahun. Itu karir pertamanya. Selamanya.

Baru tahun lalu John Lee diangkat menjadi sekretaris negara Hong Kong. Oleh pemimpin Hong Kong yang Anda sudah kenal: . Tentu, setelah ada lampu hijau dari Beijing.

(John Lee. Foto: reuters/sindonws)

Lampu hijau untuk John Lee itu sebenarnya sekalian menjadi lampu merah untuk . Dan wanita ini tahu diri. Dia tidak ngotot maju lagi memperpanjang periode kepemimpinannyi.

sial banget. Dua tahun masa kepemimpinannyi disibukkan oleh demo pro-demokrasi. Kian hari kian besar. Jadi arus utama di Hong Kong. Lalu berdarah-darah.

Demo itu akhirnya reda. Dengan sendirinya. Tapi yang meredakannya adalah bencana: Covid-19.

Maka dua tahun BERIKUTNYA hanya sibuk dengan Covid.

Sebenarnya sangat pro-Beijing. Maka banyak yang mengira dia bakal maju lagi. Namun begitu jadwal Pemilu sudah mepet tiba-tiba dia menyatakan ini: tidak mencalonkan diri. "Saya akan fokus ke keluarga," katanyi.

Empat tahun –ibu dua anak yang kini berumur 65 tahun– dilanda kemelut politik dan Covid.

Media pun kaget. Lalu berspekulasi: siapa the next-nya.

Barulah orang menghubung-hubungkan: mengapa John Lee diangkat menjadi sekretaris kabinet. Tahun lalu. Rupanya ia dimagangkan di pemerintahan. Ia disiapkan sebagai the next.

Beijing pun akhirnya memperjelas semuanya: pemerintah pusat merestui John Lee. Dan hanya John Lee. Maka sampai penutupan pendaftaran hanya satu nama itu yang jadi calon.

John Lee pun memenangi Pemilu dengan persentase tertinggi dalam sejarah Hongkong: 98 persen. Tidak ada kotak kosong sebagai pesaingnya.

Di Pemilu lalu, 2017, Beijing masih merestui dua calon: dan John Tsang. Seru. yang menang: 66,8 persen.

(John Lee (kiri), Kepala Eksekutif terpilih Hong Kong foto bersama dengan , Kepala Eksekutif Hongkong, dalam pertemuan di Kompleks Pemerintah Pusat menjelang konferensi pers di Hong Kong, Senin, 9 Mei 2022. Foto: Foto: Anthony Kwan/Pool Photo via AP/Republika)

Bulan madu kekuasaan tidak lama. Kalah dengan kemunculan berita kriminal yang sangat menarik yang Anda sudah tahu: wanita muda Hong Kong, 20 tahun, hamil. Namanyi Poon Hiu-wing.

Poon diajak pacarnya yang satu tahun lebih muda ke Taiwan. Liburan Imlek. Sang pacar, Tony Chan Tong-kai, membunuhnyi. Di sebuah hotel di Taipei. Tony juga mengambil barang dan uangnyi. Termasuk yang masih di bank –ia tahu password kartu bank sang pacar.

Heboh.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video