Penulis Buku Cara-Cara Membunuh Suami Ditangkap Polisi

Editor: mma
Minggu, 19 Juni 2022 08:09 WIB

Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Penulis novel ini ditangkap polisi. Nancy Lee Crampton – berusia 71 tahun – pernah menulis buku "Cara-Cara Membunuh Suami".

Kenapa ditangkap? Ikuti saja tulisan wartawan kawakan, Dahlan Iskan, di BANGSAONLINE.com pagi ini, Ahad, 19 Juli 2022. Selamat membaca:

WANITA Amerika ini suka mengenakan java jones bikinan Bandung. Tipe pakaian longgar itu terasa enak di badan –bagi yang tidak langsing.

Dia sangat bersedih ketika suaminyi mati ditembak orang dari belakang.

Sehari setelah penembakan itu, mahasiswa, alumni, dan karyawan mengadakan acara duka di halaman parkir. Banyak yang memberi kesaksian tentang almarhum. Termasuk sang istri. "Ia suami yang sangat saya cintai. Ia juga sangat mencintai saya," ujar sang istri.

Dua hari kemudian Sang istri ditangkap polisi –dituduh sebagai pembunuh suami.

Namanyi Nancy. Lengkapnyi: Nancy Lee Crampton. Sekarang berumur 71 tahun.

Nancy produktif. Novel percintaan. Sembilan novel dia hasilkan. Novelnyi kurang laku. Banyak yang membeli novelnyi justru setelah dia ditangkap polisi.

Novel-novel roman itu dia terbitkan sendiri. Dia jual di online. Termasuk lewat Amazon. Dari jejak di Amazon itulah diketahui: yang me-review novelnyi tidak sampai 100 orang.

Sembilan novel itu dia ''ikat'' dalam satu seri: Seri Salah (Wrong Series). Itu bisa dilihat dari judul-judulnya: Wrong Cop, Wrong Lover, Wrong SEAL, Wrong Brother, dan banyak lagi. Termasuk Wrong Husband.

Salah satu karya tulisnyi –bukan novel– berjudul Cara-Cara Membunuh Suami: kalau pakai pisau itu terlalu personal dan jarak dekat, kalau pakai racun terlalu mudah dilacak, kalau pakai senjata api bersuara keras dan perlu keahlian.

Nancy sendiri pilih membunuh suami pakai senjata api. Dia beli senjata lewat online. Merek Glock. Lalu beli lagi tambahan kelengkapannya: agar ketika dipakai tidak terlacak jenis peluru yang melesat dari senjata itu.

Dengan demikian kepemilikan senjatanyi aman. Biar saja polisi tahu dia punya senjata. Toh tidak akan cocok dengan peluru yang ditemukan di tubuh suaminyi.

Dia tidak punya izin senjata. Itu senjata gelap. Kalau pun ketahuan dia sudah menyiapkan dalih: itu hanya bagian dari riset senjata untuk kepentingan akurasi penulisan novel.

Pagi itu Nancy membuntuti suaminyi ke tempat kerja. Sang suami biasa bangun sangat pagi. Langsung ke tempat kerja: sebagai instruktur kuliner di sebuah lembaga pendidikan masak. Oregon Culinary Institute. Ia ahli masak. Mulai bikin roti sampai masakan Prancis.

Saat suami di dapur sekolah itulah Nancy menembaknya. Dari belakang. Dia lantas kabur. Belum ada orang di situ. Murid-murid belum datang.

Murid sekolah masak itulah yang menemukan mayat guru mereka terkapar di lantai. Mereka mencoba memberikan pertolongan tapi sudah tidak bernyawa.

Nama sang guru: Daniel Brophy. Usia 63 tahun.

Polisi akhirnya menemukan jejak di kamera yang dipasang di sekitar sekolah itu: ada mobil Nancy lewat di situ. Sepagi itu. Nancy pun ditangkap. Senjata apinyi dirampas.

Sekolah itu sendiri tidak memasang kamera. Kedatangan Nancy tidak terekam. Nancy berusaha berkelit.

"Sehari itu saya di rumah. Menulis novel," kilah Nancy. Dia tidak tahu kalau polisi sudah punya rekaman mobil yang lewat itu.

Tapi Nancy punya dalih lainnya. Terutama ketika rekaman itu ditunjukkan padanyi. "Oh iya. Itu mobil saya. Saya lupa itu. Kesedihan saya luar biasa atas kematian suami saya. Saya sampai lupa kalau lewat di situ," katanyi.

Dia pun memberikan alasan susulan. "Bagi saya muter-muter di situ itu biasa saya lakukan. Cari ide. Saya merasa nyaman muter di situ," kata Nancy.

Pengacara Nancy mengajukan teori lain: perampokan yang gagal. Perampoknya gelandangan. Karena kepergok, gelandangan itu menembak Daniel.

Di kota Portland, Oregon, memang banyak gelandangan. Saya beberapa kali ke Portland, hanya dua jam naik mobil dari Seattle. Sang pengacara yakin pembelaannya sukses. Tidak ada bukti apa pun yang melibatkan Nancy. Soal mobil adalah bukti yang lemah. Peluru yang menembus punggung sang suami pun tidak meninggalkan jejak di Glock yang disita.

Begitu rapi pembunuhan guru kuliner ini. Tidak ada sidik jari. Tidak ada jejak telapak. Terutama dari arah mobil berhenti ke dapur sekolah. Memang diakui, Nancy sempat berhenti tidak jauh dari sekolah kuliner. Itu karena dia tiba-tiba punya ide penulisan. Yang harus dia catat. Agar tidak lupa.

Saya belum menemukan salah satu pembaca Disway yang bisa mereka-reka peristiwa seperti ini. Mengapa begitu sempurna.

Apa pula motifnya. Soal cinta? WIL? PIL? Atau ketidakpuasan di ranjang?

Nancy mengaku hubungan ranjang dengan sang suami tidak ada masalah. Memang ada saja persoalan dalam rumah tangga. Biasa. Tapi lebih banyak yang menyenangkan daripada yang menjengkelkan.

"Saya itu pemuja suami. Ia hebat. Ia juga pemuja saya," ujar Nancy, tanpa takut disanggah suami.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video