Program Pertanian Organik Go International Kota Batu masih Banyak Kendala

Minggu, 14 Juni 2015 20:59 WIB

Kadistanhut Kota Batu, Ir Budi Santoso. (foto: galih purnomo/BANGSAONLINE)

KOTA BATU, BANGSAONLINE.com - Program Pemkot Batu untuk menyukseskan visi misi pertanian organik Go Internasional masih banyak menemui kendala. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Pemkot dan Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut).

Beberapa kendala utama itu ialah ialah kesejahteraan ekonomi petani, memberikan pengetahuan model organik, fasilitas teknologi bagi petani, keterampilan petani dan yang paling penting adalah pasar khusus organik.

“Bila hal tersebut belum bisa diatasi oleh Distanhut dan Pemkot Batu, saya rasa sangat sulit mewujudkan harapan tersebut. Namun kami tak putus asa mensukseskan pertanian organik,” papar Kadistanhut Batu, Ir. Budi Santoso di kantornya.

Budi Santoso menambahkan, lima masalah utama itu adalah kendala yang ada selama ini. Yang paling utama adalah Pemkot diharuskan membantu ekonomi petani. Ekonomi menjadi momok menakutkan bagi petani karena mereka takut cocok tanam organik hasilnya tidak maksimal.

“Masih banyak kekhawatiran disitu, seperti bagaimana hasilnya? Apakah bisa mencover kebutuhan para petani setiap hari,” terang pria yang biasa disapa Tosy ini.

Ia mengatakan pertanian organik tidak bisa disamaratakan di seluruh wilayah Batu. Ke depan, pemetaan wilayah akan diutamakan. Target sasaran operasi ditujukan pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) agar nanti mudah memberikan pengetahuan, fasilitas teknologi, ketrampilan bagi para petani.

“Setiap wilayah memiliki potensi masing-masing. Setiap Gapoktan dan petani juga memiliki kesungguhan yang berbeda-beda di organik. Nanti kami akan pilah siapa yang berpotensi dan memiliki kesungguhan akan lebih kami utamakan,” ujar dia lagi.

Kemudian yang terpenting adalah bagaimana pasar untuk produk organik. Sebenarnya pasar organik sangat banyak penawaran. Namun permintaan para penyalur produk organik adalah kontinyuitas dan standarisasi produk.

“Banyak pasar organik, tapi PR sampai sekarang adalah standart produk dan kesinambungan terus menerus. Itu yang akan kami carikan solusi, karena pasar yang bisa menjamin agar petani mau berorganik,” tegas dia.

“Intinya jangan sampai ada pembohongan publik, kalau memang keberhasilan hanya 10 persen, dari total 100 persen, ya itu yang harus disampaikan pada publik. Dengan semua itu, semoga kedepan pertanian organik lebih maksimal dan berjalan sesuai target wali kota,” pungkas dia. (bt1/thu/ns)