Sabuk Pengaman Tak Berfungsi, Menteri Jonan Larang Bus Berangkat

Jumat, 24 Juni 2016 23:01 WIB

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan melakukan inspeksi di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Jumat (24/6) untuk mengetahui kesiapan moda transportasi jelang masa arus mudik Lebaran.

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan bersama rombongan dari Kementerian Perhubungan meninjau Terminal Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (24/5). Hasilnya Jonan melarang sebuah bus tujuan Sumedang karena sabuk pengaman sopir bus tersebut tidak berfungsi.

Setibanya di Terminal Kampung Rambutan, Jonan langsung masuk ke dalam bus Medal Sekarwangi bernopol Z 7517 AA. Di dalamnya, Jonan melakukan pengecekan terhadap perlengkapan bus tersebut.

Setelah melakukan pengecekan, Jonan menemukan adanya sebuah kekurangan yakni sabuk pengaman sopir bus yang tidak berfungsi. Ia pun memerintahkan anak buahnya untuk melarang bus tersebut beroperasi sebelum kekurangan yang ada diperbaiki.

"Pengecekan hari ini di Terminal Kampung Rambutan ada satu bus yang speedometer, lampu, dan wiper berfungsi, kaca tidak pecah, ban juga oke tapi seatbelt pengemudi ada cuma enggak berfungsi, dtarik bisa tapi cantolannya enggak ada. Jadi busnya enggak bisa jalan, dibetulin dlu," ujar dia.

Jonan menegaskan, pihaknya bersama PO (Perusahaan Otobus) telah menjalin sebuah kesepakatan bahwa ada sejumlah aspek yang harus dipenuhi oleh bus agar layak beroperasi. Jika ternyata hal itu tidak bisa dipenuhi maka konsekuensinya mereka tidak boleh jalan.

"Kesepakatannya tahun ini rem tangan berfungsi, speedometer berfungsi, kaca tidak pecah, ban enggak gundul dan seatbelt. Itu kesepakatannya dan udah dipanggil 130 pengusaha. Sebelum tanggal 24 Juni akan diperbaiki semua, kalau enggak ya enggak boleh jalan," ungkap dia.

Selain itu, Jonan meminta jajarannya mewaspadai cuaca buruk yang diprediksi terjadi pada dua minggu ke depan, termasuk saat arus mudik Lebaran. Untuk itu, ia meminta jajarannya untuk teliti memeriksa prasarana, khususnya rel untuk kereta api.

Menurut Jonan untuk moda transportasi kereta api secara sarana, tidak ditemui banyak masalah. Namun, ia menegaskan kepada jajarannya untuk memeriksa prasarana rel, terutama di daerah yang rawan bencana alam seperti longsor.

"Saya sudah mendapat informasi dari BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) bahwa dalam satu hingga dua minggu ke depan cuacanya kurang bersahabat, terutama daerah-daerah tertentu, seperti di daerah selatan Jabar (Jawa Barat), selatan Jateng (Jawa Tengah) harus sangat diperhatikan jalan relnya," ujar Jonan.

Jonan menyampaikan bahwa dalam masa mudik Lebaran tahun ini jumlah pemudik pun diprediksi akan mencapai sekitar 18 juta orang, atau naik dua persen dibandingkan dengan angkutan Lebaran tahun lalu.

"Ini enggak bisa kita hindari, karena sepanjang ekonomi tumbuh, maka daya beli orang akan meningkat dan kesempatan orang untuk bepergian makin tinggi," katanya.

Jonan mengatakan, pihaknya menargetkan zero accident, atau tidak ada kecelakaan saat mudik Lebaran pada angkutan umum. Ia menegaskan, jika ada cuaca buruk lebih baik perjalanan ditunda.

"Kalau cuaca buruk, saya tegaskan tidak boleh berangkat khususnya laut dan udara. Kalau mau delay (ditunda), ya delay aja. Memang banyak yang protes ke saya, tetapi kalau cuaca jangan ke saya dong, ke yang bikin cuaca saja. Ini kan daripada tidak pernah sampai, menyusahkan sekali," katanya. (mtv/okz/det/ns)