Angka Kelahiran pada Kelompok Usia Muda di Purbalingga Tinggi, Faktor Pernikahan Dini

Wartawan: Dicky Edyano
Senin, 15 Agustus 2016 15:09 WIB

PURBALINGGA, BANGSAONLINE.com - Angka kelahiran atau fertilitas pada kelompok usia muda (15-35 tahun) yang di antaranya remaja (15-19 tahun), makin meningkat di Purbalingga. Meningkatnya angka fertilitas kelompok tersebut menyumbang terjadinya stagnasi angka kelahiran total atau TFR sebanyak 2,4 anak per perempuan, melampui target pemerintah sebanyak 2,1 anak per perempuan.

Kepala Bidang KB Badan KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Purbalingga Hendroko Surono Senin (15/8) mengatakan, angka kelahiran memang menggelembung tinggi di usia remaja sejak beberapa tahun terakhir.

Dari jumlah total pasangan usia subur (PUS) sebanyak 189.430, diperkirakan 40 persen di antaranya berusia remaja. Penyebabnya rata-rata usia kawin perempuan masih rendah atau melakukan pernikahan dini. “Meningkatnya jumlah pasangan muda memang terjadi di Purbalingga,” katanya.

Rendahnya usia kawin pada masa remaja yang berdampak pada banyaknya remaja melahirkan, dinilai tak lepas dari situasi sosial. Menurutnya, banyaknya remaja perempuan yang putus sekolah menengah pertama (SMP) dan memilih bekerja di pabrik, berpengaruh pada keputusan untuk kawin di usia masih rendah.

Jika tiap tahun ada 2.000 perempuan bekerja di pabrik dan separuhnya kelompok usia muda dan kawin muda, maka ada potensi kelahiran sejumlah 1000. “Di Purbalingga, kelahiran setiap bulan 6.385. Tapi data pasti berapa jumlah remaja yang melahirkan kami tidak ada,” imbuhnya.

Persoalan lain tingginya remaja melahirkan,karena PUS muda di satu sisi tidak ingin menambah anak tetapi enggan menggunakan KB. Akibatnya potensi kehamilan tetap tinggi, padahal ada beberapa risiko, mulai dari potensi tingginya angka kematian ibu (AKI) dan Bayi (AKB) sampai laju pertumbuhan penduduk yang tak terkontrol.

“Pengetahuan tentang KB yang rendah juga jadi penyebab. Karena itu kami juga ada program generasi berencana,” ujarnya.

Dijelaskan Hendroko, untuk menekan jumlah kelahiran di Purbalingga dibutuhkan kerjasama lintas sektoral. Selain itu, juga penyampaian pentingnya tingkat pemakaian KB dan sosialisasi kesehatan reproduksi perempuan di sejumlah sekolah, untuk menekan pernikahan di usia remaja.

Pemakaian KB di Purbalingga baru 145.904 PUS atau 77,02 persen, karena banyak yang enggan melakukan KB permanen. “KB yang paling banyak dipilih suntik sebanyak 7.262. Tapi ini tingkat kelengahannya tinggi. Saat harus suntik, misalnya yang bersangkutan lupa,” ungkapnya. (bym1/rev)