Gus Solah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan | BANGSAONLINE.com - Berita Terkini - Cepat, Lugas dan Akurat

Gus Solah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Minggu, 19 Maret 2017 00:28 WIB

JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Pengasuh Pesantren Jombang, KH Salahuddin Wahid menilai, sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah dan masyarakat luas. Hal itu diungkapkan Gus Solah saat meresmikan berdirinya Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), di , Sabtu 18 Maret 2017.

Yayasan yang didirikan oleh belasan tokoh lintas ormas, cendekiawan lintas kampus, dan beberapa pengusaha muslim tersebut dimaksudkan untuk menguatkan peran dalam tiga ranah. Yaitu, sebagai benteng pembangunan karakter, pembangunan ekonomi umat, dan salah satu pilar kekuatan kepemimpinan bangsa.

Dalam sambutannya, Gus Solah yang ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pembina YP3I mengulas peran dan ulama dalam sejarah perjalanan bangsa. "Kalau tidak ada kiai dan , maka patriotisme warga nusantara --yang kemudian menjadi bangsa Indonesia-- akan hancur berantakan," ungkap Gus Solah mengutip catatan Douwes Dekker.

Menurut Gus Solah, harus diakui bahwa kalangan di luar adalah kelompok yang mulai menumbuhkan rasa kebangsaan dalam Kongres Pemuda II pada 1928.

"(Tapi) nasionalisme yang mereka usung adalah nasionalisme yang tidak memberi tempat memadai bagi sesuatu yang berbau keislaman," ujarnya di hadapan ratusan kiai yang memenuhi Aula H. Bachir Pesantren .

Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini kemudian mengulas upaya-upaya peminggiran Islam dalam catatan sejarah. "Dalam buku berjudul 'The Idea of Indonesia, A History' karya RE Elson, tidak ada tempat bagi Islam. Nama KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan dan H Agus Salim tidak tertulis dalam buku itu. Buku karya Ricklefs juga bernada sama. Yang tertulis hanya nama HOS Tjokroaminoto," tandasnya

Pada saat itu, imbuh Gus Solah, pandangan kalangan luar terhadap dapat disimpulkan dari pidato Bung Karno saat mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari IAIN Ciputat pada 1964. Dalam pidato tanpa teks, Bung Karno mengkritik dengan menyebutnya sebagai gudang besar yang tidak punya pintu dan jendela, sehingga terasa pengap dan apek.

Terhadap penilaian tersebut, Gus Solah lalu mengutip pendapat Menteri Agama saat itu. "Menurut KH Saifuddin Zuhri (Menag saat itu), yang menganggap bahwa tidak punya jendela dan pintu adalah mereka yang tidak tahu di mana letak pintu dan jendela () itu," tegasnya, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video