Masjid Jamik Keraton Sumenep Penuh Pesan Filosofis

Editor: rosihan c anwar
Wartawan: lukman
Selasa, 15 Juli 2014 21:41 WIB

? Keindahan Masjid Jamik Keraton Sumenep yang dibangun dengan perpaduan tiga seni arsitektur. foto lukman/BANGSAONLINE

Sebuah masjid ternyata tidak semata berfungsi untuk tempat ibadah umat Islam. Masjid juga dipenuhi makna filosofis yang mengatur tingkah laku manusia, khususnya selama berada di masjid itu. Masjid yang dipenuhi makna filosofis di setiap detail bangunannya ini misalnya Masjid Jamik Keraton Sumenep.

Masjid Jamik Keraton Sumenep terletak di pusat kota Sumenep, kabupaten paling timur di pulau Madura. Masjid ini merupakan masjid bersejarah yang merupakan peninggalan kerajaan Sumenep yang masih terjaga keasliannya hingga saat ini.

Masjid ini merupakan salah satu dari 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas, perpaduan seni arsitekCina, dan Jawa dan Madura. Harian BANGSA berkesempatan mengunjungi masjid ini, Selasa (15/7) kemarin.

Masjid ini, dibangun pada pemerintahan Panembahan Somala Penguasa Sumenep XXXI, oleharsitektur asal Tionghua yang bernamaLauw Phia Ngo. Menurut catatan sejarah Sumenep, pembangunan Masjid Jamik Sumenep dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai 1787 Masehi.

Lauw Phia Ngo, merupakan salah seorang tukang keturunan bangsa Cina, yang terdampar di pesisir Desa Pasongsongan. Keberadaan Lauw ini ditemukan oleh Panembahan Somala setelah melakukan salat istikarah. Lauw merupakan, cucu Lauw Khun Thing, satu dari enam pemuda asal Cina yang terdampar di Pasongsongan setelah melarikan diri dari daratan Cina akibat perang besar.

Tempat ibadah ini merupakan salah satu bangunan pendukung Karaton, yakni sebagai tempat ibadah bagi keluarga Karaton dan Masyarakat.

Ada sejumlah keunikan yang terpampang dari bangunan Masjid Jamik Keraton Sumenep, misalnya sekeliling masjid yang memakai pagar tembok dengan pintu gerbang berbentuk gapura. Bangunan ini dinamakan gapura, asal kata dari bahasa Arab, ‘Ghafura’, yang artinya pengampunan.

Gapura ini syarat akan ornamen yang mempunyai banyak filosofi sebagai salah satu harapan dari Panembahan Sumolo kepada rakyatnya ketika menjalankan ibadah.

Sedangkandi atas gapura terdapat ornamen berbentuk dua lubang tanpa penutup, keduanya diibaratkan dua mata manusia yang sedang melihat. Lalu diatasnya juga terdapat ornamen segilima memanjang keaatas, diibaratkan sebagai manusia yang sedang duduk dengan rapi menghadap arah kiblat dan dipisahkan oleh sebuah pintu masuk keluar masjid, yang mengisyaratkan bahwa apabila keluar masuk masjid harus memakai tata krama.

Di kanan kiri gapura juga terdapat dua pintu berbentuk lengkung, keduanya mengibaratkan sebagai kedua telinga manusia,dimaksudkan agar para jemaah masjid ketika dikumandangkan adzan, bacaan Alquran, atau pun disampaikannya khotbah diharapkan untuk tidak berbicara dan mendengarkan dengan seksama.

Di sekeliling gapura juga terdapat ornamen rantai, hal ini dimaksudkan agar kaum Muslim haruslah menjaga ikatan Ukhuwah Islamiyah agar tidak bercerai berai. Masjid ini juga dilengkapi prasasti yang ditulis tahun1806M, sebuah wasiat dari Panembahan Sumolo sebagai Nadir Wakaf sebelum beliau naik tahta menjadi Adipati Sumenep XXXII.“Masjid ini adalah baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa Negeri/Karaton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya masjid ini adalah wakaf, tidak boleh diwarisi dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak,”.

Menurut Ferdy Hartono, Wakil Ketua III Takmir Masjid Jamik Keraton Sumenep,bahwa sebenarnya makna filosofi dari bangunan masjid Jamik Keraton Sumenep sangat beragam. Ferdy mengaku banyak menerima masukan dari peziarah luar Madura dan pihak akademisi yang melaksanakan ibadah di masjid tersebut.

Sedangkan aktifitas masjid selama bulan ramadan, Ferdy menjelaskan,dimulai sejak waktu shalat ashar yaitu kuliah ashar yang berisi pengajian atau mengaji bersama. “Setelah adzan maghrib dilakukan buka bersama, sehingga pengunjung dapat berbuka gratis”, jlentrehnya kepada Harian BANGSA.

Kegiatan lainnya, usai salat mahgrib, digelar salat tarawih dan tadarus Alquran. Setiap ramadan, juga rutin digelar peringatan Nuzulu Quran, yang digelar pada tanggal 17 ramadan. “Masjid juga menggelar malam takbiran saat akhir ramadan,” pungkas Ferdy Hartono. (luk/sta/bersambung)