Pengemudi Angkutan Lebaran Harus Cek Kesehatan

Editor: rosihan c anwar
Wartawan: yogik mz,yudi indrawan
Jumat, 18 Juli 2014 22:43 WIB

Perugas Dishub sedang mengecek kelayakan bus. Foto:istimewa

BONDOWOSO (bangsaonline) –Sesuai tren tahunan, angka kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas menjelang dan saat Hari Raya Idul Fitri selalu meningkat. Merespon itu, Polres Bondowoso menyiapkan ratusan personelnya untuk disiagakan di titik-titik rawan kejahatan dan kecelakaan.

Kapolres Bondowoso AKBP M Sabilul Alif mengatakan, di Bondowoso ada beberapa titik daerah rawan kejahatan maupun kecelakaan. Yakni jalur Arak-Arak, Cermee dan Maesan. Di tiga jalur itu, kata dia, tahun lalu ada sebanyak 100 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Sabilul menambahkan, 300 personel akan dikerahkan untuk disiagakan di titik-titik rawan tersebut. Ratusan personel itu adalah gabungan dari Polres, TNI, Dinas Perhubungan dan Dinas Kesehatan. Mereka akan bertugas dalam rangka melaksanakan Operasi Ketupat, yang akan dilaksanakan tujuh hari sebelum dan setelah Lebaran.

“Dan diharapkan dengan pengamanan tahun ini melalui Operasi Ketupat, mampu menurunkan angka kecelakaan lalu lintas dibandingkan tahun lalu,” kata Sabilul kepada sejumlah wartawan, Jumat (18/7). Dia berharap Lebaran tahun ini Bondowoso aman dan kondusif.

Sementara itu, guna mewujudkan keamanan dan kenyamanan bagi para pemudik yang akan berlebaran di Jember, pihak kepolisian setempat akan melakukan cek kesehatan kepada seluruh pengemudi angktan Lebaran. Itu dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan selama arus mudik-balik.

Kepala Terminal Tawang Alun Jember Samson Wahyu Priyono mengatakan, cek kesehatan awak angkutan Lebaran akan dilaksanakan bekerjasa sama dengan Sat Lantas Polres Jember. Selain itu, cek kondisi dan kelayakan kendaraan juga akan dilakukan.

Rencananya, jelas Samson, cek kesehatan pengemudi dan kondisi kendaraan angkutan Lebaran akan dilakukan dua hari, H-7 sampai H-5 sebelum Lebaran.Diharapkan, dengan dilakukannya cek kesehatan pengemudi dipastikan dalam kondisi prima. ”Tidak seperti tahun lalu dimana ada beberapa pengemudi dalam kondisi mabuk,” tandasnya.

Kepada perusahaan otobus, Samson berharap perusahaan tidak memanfaatkan lonjakan penumpang di momen Lebaran dengan menggenjot para pengemudinya bekerja di luar batas kemampuan dan ketentuan. Dengan begitu, angka kecelakaan lalu lintas bisa ditekan. ”Jika melanggar pemilik otobus akan diancam dengan hukuman 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 2 miliar,” ancam Samson.