Kampung Salak, Wisata Kuliner Unik di Bangkalan, Tersedia Jajanan Inovatif Berbahan Salak

Editor: Choirul
Wartawan: Tari
Jumat, 22 September 2017 22:21 WIB

Berbagai varian jajanan berbahan salak. foto: Tari UTM/ BANGSAONLINE

BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Ada kampung salak di Kebupaten Bangkalan. Destinasi wisata kuliner ini patut untuk dicoba. Pasalnya, di Kampung Salak di Desa Kramat Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan ini, tedapat berbagai jajanan olahan dengan bahan dasar salak.

Adalah Saniah (52), Ketua Anggota Tani di Dusun Mor Kolak, Desa Kramat, Kabupaten Bangkalan, yang menemukan resep berbagai jenis jajanan yang amat berbeda. Saniah sendiri mendapatkan bimbingan dari Dinas Pertanian pada 2004. Sedangkan pada tahun 2006 Saniah mulai dikukuhkan sebagai Ketua Anggota Tani.

Pada tahun 2006, Saniah memiliki ide, bagaimana untuk memanfaatkan buah salak bertebaran di seluruh kampungnya.

Awal mula, Saniah berinovasi menjadikan salak seakan kurma. Prosesnya mudah, salak yang sudah masak, dikupas dari kulitnya lalu direbus hingga warnanya coklat kemudian dijemur hingga kering. Kurma salak bisa bertahan selama 1 tahun.

Sedangkan salak ukuran kecil, dijadikan seakan kismis. Dan cita rasa pun nyaris seperti kismis.

Bahkan, untuk menjaga pelanggan, setiap tahun, Saniah terus berinovasi seputar olahan buah, biji, kulit dan isi salak.

Bisnis yang berkembang setiap tahunnya berhasil meraih omzet Rp 30 juta per bulan.

Di gerainya, kini didapati produk kurma salak, dodol salak, kismis salak, coklat salak, sirup salak, biji kopi salak, dan keripik salak. “Kini dikembangkan teh dari kulit salak,” kata dia.

Saniah memekerjakan tiga orang untuk seluruh proses produksinya, dengan menghabiskan 60 kg salak per hari. Sedangkan untuk panen raya, ada sekitar 200 kg salak yang disimpan digudang untuk stok olahan.

“Salak yang kami olah berbeda dengan salak di kota lain. Rasa dari salaknya tersendiri memiliki rasa sedikit asam, hal ini yang menjadi ciri khas dari olahan salak di tempat kami,” kata Saniah.

Saniah pun memiliki kebun salak di halaman rumahnya. Selain dihasilkan dari kebunnya sendiri, Saniah juga mendapatkan stok salak dari sekeliling desanya. Setiap warga yang memiliki kebun salak bisa menjual hasil salaknya ke tempat olahan salak di rumah Saniah.

Saniah mengaku bahwa dia tidak mementingkan keuntungan dalam olahan salak, melainkan dia membantu warga setempat untuk mendapatkan lapangan pekerjaan meskipun hanya sebagai petani salak. Untuk itu, Saniah tak pernah mengambil salak di luar dari Kramat.

Pemasaran olahan salak ini dijual di area Madura, dan tak akan buka cabang. “Kampung kami sudah dikunjungi wisatawan dari berbagai tempat. Seperti wisatawan Jember, wisatawan Gorontalo maupun Bandung. Semua stasiun televisi pun pernah meliput kampung unik ini.

Tertarik? (Tari UTM)

Berbagai perhargaan telah disabet.