Pelepah Palem Bisa Diubah jadi Tas Cantik

Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: nisa
Rabu, 13 Agustus 2014 19:42 WIB

Tas yang terbuat dari pelepah palem.

Memanfaatkan pelepah palem, mahasiswa jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya), Maureen Florencia Dharmawan memanfaatkannya menjadi berbagai model tas yang ia beri nama Areca. Areca diambil dari nama Arecaceae, nama botani untuk keluarga palem.

Ditemui di kampusnya, Maureen menuturkan awal mula ia berinisiatif mengolah pelepah daun yang berserakan di halaman luar pagar rumahnya menjadi produk yang bernilai guna. “Menurut saya pelepah palem ini bagus, punya tekstur garis-garis vertikal, warna cokelatnya juga bagus," ujar dara asli Surabaya itu. Ia menjelaskan, ada 3 jenis pohon palem yang ia pakai yaitu palem raja, palem putri, dan palem ekor tupai. "Ketiganya saya manfaatkan sebagai bahan dasar untuk membuat tas-tas ini,” lanjut alumni SMA Kr Petra 5 itu.

Adapun bahan pendukung selain pelepah palem agar menjadi sebuah tas yang unik diantaranya karton, kain, lem epoksi, dan kulit. Bahan-bahan pendukung ini didesain sedemikian rupa hingga saling menyatu membentuk tas yang berkesan natural, eksotis, edgy, dan bertekstur garis-garis keras sebagaimana karakter pelepah palem itu sendiri. Konsepnya pun terinspirasi dari ArtDeco yaitu desain berunsur geometri.

SURABAYA-(BangsaOnline)

Dengan mendesainnya sebagai bagian dari produk lifestyle, produk ini diperuntukkan bagi kalangan wanita berusia 20-30 tahun.

"Untuk sementara, saya membuat tas pelepah palem ini menjadi 3 jenis yaitu clutch yang saya nama cluecy bag dengan desain rantai sebagai handle-nya. Ada tas tablet yang saya namai tabby dengan desain lebih besar dan terdapat tempat menyimpan tab maksimal berukuran 8 inch di dalamnya. Serta tas jinjing bernama LoLa bag dengan desain paling besar dan bergaya serut sebagai pembuka bagian dalamnya," paparnya.

Bagaimana cara membuatnya? Maureen mengaku tidak mudah. elepah palem awalnya dicuci agar bersih dan dikeringkan namun tidak sampai terlalu kering. Kemudian pelepah palem harus melalui proses kimia seperti dengan merendamnya dengan bayclin maupun soda api agar diperoleh tekstur warna yang diinginkan.

Selanjutnya, pelepah palem yang sudah memiliki warna tertentu dipotong dan ditata sesuai dengan pola desain tertentu dengan alas karton. Sebagai proses finishing, pelepah palem yang sudah ditata di atas karton dibentuk menjadi berbagai model tas dengan hiasan kulit, resleting, dan gantungan logo. “Prosesnya sendiri memakan waktu 1-2 minggu per produk,” ujar Maureen anak bungsu dari dua bersaudara.

Tas-tas tersebut dikemas dalam packaging dengan desain yang sesuai sebelum dipasarkan. Masing-masing tas dibanderol dengan harga sekitar Rp 400 ribuan. Ke depannya, tas-tas ini mungkin akan dipamerkan melalui media sosial, pameran produk handmade, dan gerai-gerai toko untuk menarik konsumen.

“Pembuatan tas milik Maureen ini semua dilaksanakan dengan hand made sehingga masih tampak kurang sedikit rapi akibat bahan palem yang mudah menyusut. Bagi adik tingkat yang akan ingin mengolah lebih lanjut bahan palem, saya sarankan untuk pemotongan menggunakan mesin pemotong sederhana supaya hasilnya bisa sama besar,” ungkap Wyna Herdiana ST MDs, salah satu dosen pembimbing tugas akhirnya.