Surabaya Kaji, Penggunaan Voucher Parkir

Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: maul;ana
Kamis, 14 Agustus 2014 00:10 WIB

Surabaya mengaki untuk memberlakukan parkir dengan menggunkan voucher.

SURABAYA-(BangsaOnline)

Penarikan retribusi parkir di Surabaya menggunakan voucher kini sedang dikaji. Pengkajian ini tengah dilakukan melibatkan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Voucher ini merupakan salah satu opsi yang tengah dikembangkan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya. Pungutan retribusi parkir menggunakan voucher diyakini bisa menghindari kebocoran retribusi parkir.

Menurut Eddi, Kepala Dishub Kota Surabaya, dengan memakai voucher pembayaran retribusi parkir di lapangan juga lebih praktis. Sebab masyarakat akan membeli voucher seperlunya sesuai kebutuhan parkir tiap bulannya. Pembayaran retribusi parkir juga hanya menggunakan voucher sehingga tak perlu lagi ada uang pengembalian dari juru parkir (jukir).

"Masyarakat juga akan dimudahkan untuk pembayaran parkir. Sebab tak perlu harus menyiapkan uangpecahan atau receh setiap kali akan membayar parkir kendaraannya. Hanya menyerahkan voucher yang telah dibeli sebelumnya, voucher itu diserahkan kepada jukir yang berjaga," kata Eddi, Rabu (13/8).

Dari voucher yang terkumpul dari pengguna parkir itu kemudian para jukir menyerahkannya kepada Dishub Surabaya dan mengambil bagian haknya sesuai yang ditentukan. Dishub akan memberikan hak para jukir sesuai dengan nilai voucher yang didapatkan.

Selain pembayaran parkir menggunakan voucher, yang juga tengah dikaji oleh Dishub adalah penerapan sistem zona. Penetapan zona parkir ini disesuaikan dengan klasifikasi wilayah kota. Wilayah pinggiran tentu akan berbeda dengan wilayah yang ada di pusat kota seperti Central Bussines Distric (CBD).

"Bisa saja di kawasan yang masuk CBD dikenakan tarif parkir seperti parkir valley di hotel berbintang 5 atau plaza dan mall. Kawasan CBD bisa ditarik parkir lebih mahal antara Rp.25 ribu sampai Rp.30 ribu," ujar Eddi.

Dengan penerapan kawasan zona parkir ini maka Dishub Surabaya akan bisa mengendalikan kepadatan lalin karena sering terjadi kemacetan disebabkan banyaknya mobil parkir di pinggir jalan. Hal ini yang oleh Dishub akan dikoreksi agar lebih baik lagi dalam penataan parkir di Surabaya.

Sedangkan yang kini sedang diterapkan adalah model parkir progresif pada parkir khusus yang menggunakan lahan milik Pemkot Surabaya. Parkir progresif ini tarifnya lebih mahal jika kendaraan diparkir lama di tempat tersebut, dihitung progresif mulai jam ketiga dan seterusnya. Model parkir ini sudah diterapkan antara lain di kantor UPTSA Jl. Menur, Ampel, THP Kenjeran, Convention Hall dan di UPTD Balai Pemuda. Sistem parkir ini juga sudah diterapkan di terminal terminal Surabaya sesuai Perda Nomor 12 Tahun 2010. Untuk sepeda motor Rp.500 untuk dua jam pertama dan Rp.100 tambahan perjam berikutnya atau Rp.2.500 perhari. Sedangkan Mobil pribadi dan mobil box/pickup sebesar Rp.2.000 untuk dua jam pertama dan Rp.500 tambahan perjamnya atau Rp.10.000 perhari.

"Parkir ini menggunakan gateway dengan sistem progresif atau meningkat pada jam jam berikut setelah dua jam pertama. Keistimewaan parkir ini PAD bisa tercapai karena makin lama kendaraan parkir tarifnya makin mahal," lanjut Eddi.

Soal kajian yang kini sedang dikerjakan Unair menurut Eddi kini sedang berlangsung. "Kita wacanakan ke depan terus kita bicarakan dengan instansi terkait. Kita ingin pelayanan dan operasional perparkiran makin hari makin baik," tutup Eddi.