​ Siap-siap, Barang Bajakan Bikinan Jerman Bakal Serbu Pasar

Editor: rosihan c anwar
Kamis, 14 Agustus 2014 06:40 WIB

repro dw.de

KÖLN (bangsaonline) - Jerman menduduki peringkat dua dalam ranking negara-negara produsen produk bajakan. Kerugian terhadap sektor teknik Jerman diperkirakan mencapai 7,9 miliar Euro.

Bagi banyak perusahaan Jerman yang menjadi korban pelanggaran hak intelektual, pelakunya bisa jadi tetangga sebelah.

Mengutip dw.de, Cina telah lama menjadi yang terdepan di dunia terkait barang bajakan, namun sebuah studi yang dirilis tahun 2014 mengindikasikan bahwa Jerman juga punya banyak copycat.


Hampir seperempat barang bajakan dan tiruan merek ternama datang dari perusahaan Jerman, menaruh ekonomi terbesar di Eropa itu di belakang Cina dan di depan Turki serta India, demikian tertulis dalam studi asosiasi industri VDMA menyangkut pembajakan produk.

Bajakan Buatan Jerman

Namun tidak seperti tiruan yang tersedia di negara paling padat penduduk di dunia, imitasi buatan perusahaan Jerman kerap berkualitas tinggi. Menurut VDMA, pemalsu Jerman umumnya mengopi mesin berteknologi tinggi, komponen mesin atau onderdil.

Studi menyebut persaingan ketat sebagai motif paling umum untuk melanggar hak intelektual perusahaan lain.

Secara keseluruhan, VDMA memperkirakan produk bajakan merugikan industri teknik sekitar 7,9 miliar Euro pada tahun 2013. Ini akibat kehilangan penjualan. Meski membahas "jumlah yang memprihatinkan" terkait produk bajakan di Jerman, studi tersebut juga mencatat bahwa mengukur perkembangan di sektor lain tergolong sulit.

"Banyak perusahaan yang khawatir reputasi mereka akan rusak," ujar Steffen Zimmermann, direktur VDMA untuk kelompok kerja perlindungan produk dan know-how.

Banyak orang di Jerman yang teringat nenek mereka kalau mendengar 4711 Eau de Cologne. Tidak heran, karena 4711 sudah ada sejak awal abad ke-18. Jenis wewangian ringan ini diciptakan di Köln dan berawal sebagai obat. 4711 begitu ikonis hingga sempat dimiliki oleh raksasa pemasaran Procter & Gamble selama beberapa tahun.

Maraknya barang bajakan di Jerman telah menginspirasi segelintir orang untuk berpikir kreatif dalam melawan tren ini.

Sejak tahun 1977, sebuah kelompok bernama Aktion Plagiarius menganugerahkan penghargaan palsu bagi perusahaan-perusahaan yang dipandang sebagai pelaku utama pemalsuan produk.

Selain para tersangka yang biasa dari Cina, penerima penghargaan juga mencakup beberapa perusahaan Jerman.

Satu contoh yang mencolok adalah dudukan pel magnetis buatan sebuah perusahaan di negara bagian Baden-Württemberg. Begitu produk ini dilempar ke pasar, salah satu pesaing perusahaan ini di wilayah Franken mulai membuat model yang serupa.

Sengketa dudukan pel menempatkan perusahaan di Franken itu pada posisi tiga penerima penghargaan Plagiarius tahun 2014 dan tempat di museum Plagiarius di Solingen.

Kalau berbicara pemalsuan produk, tak ada sektor yang aman, ujar jurubicara Plagiarius, Christine Lacroix.

Kini pengimitasi menarget siapapun mulai dari produsen mainan hingga alat bertukang - sesuatu yang membuat tugas pemburu barang bajakan jauh lebih susah.

Jika produk imitasi terdahulu dapat teridentifikasi dengan mudah karena kualitasnya buruk, spektrum bajakan zaman sekarang meliputi tiruan murah sampai replikasi berkualitas tinggi, tambah Lacroix.

Dan sementara Plagiarius berupaya melindungi inovasi asli dengan menginformasikan konsumen, banyak perusahaan inovator yang beralih ke trik yang lebih teknis. Komponen yang rentan dipalsukan dilapisi resin, misalnya, atau ditandai dengan hologram.

Di sisi lain, Politisi dan kalangan ekonomi Jerman mengajukan protes keras terhadap Uni Eropa terkait rencana pembuatan aturan baru bea cukai. Jika diberlakukan, aturan ini bisa membawa dampak buruk bagi label “Made in Germany“.

“Made in Germany“ yang selama 125 tahun telah menjadi simbol jaminan mutu- terancam bahaya. Hal ini terjadi, jika aturan bea cukai yang baru yang ditetapkan oleh Uni Eropa jadi diberlakukan. Dalam aturan ini, Uni Eropa mewajibkan agar semua barang yang beredar, kecuali produk makanan- untuk menyertakan nama asal dimana barang tersebut dibuat. Aturan bea cukai baru ini dibuat oleh Uni Eropa dengan tujuan untuk memperkuat perlindungan terhadap konsumen serta meningkatkan daya lacak barang-barang produksi berbahaya.

Pemberlakuan aturan ini, dinilai akan sangat merugikan pengusaha kelas menengah yang biasa mengembangkan, menguji, dan menjual produknya di Jerman akan tetapi melakukan produksi di luar negri. Karena sesuai aturan bea cukai baru - barang-barang tersebut tak akan bisa lagi diberikan label “Made in Germany“, melainkan harus dipasang label negara asal dimana barang itu dibuat.

Label “Made in Germany“

Sebenarnya, seberapa penting arti label “Made in Germany“ bagi barang-barang produksi Jerman? Untuk menjawab pertanyaan itu, Germany Trade & Invest (GTAI), meminta laporan dari sejumlah korespondennya yang tersebar di beberapa negara. GTAI adalah serikat dagang dan pemasaran luar negri Jerman yang bertugas mempromosikan ekonomi dan teknologi Jerman di luar negri serta memberikan informasi kepada perusahaan-perusahaan Jerman tentang pasar luar negri.

Koresponden GTAI Moskow, Bernd Hones menulis, sejak jaman kekaisaran hingga kini barang-barang produksi Jerman masih menyandang reputasi baik di Rusia. Seperti halnya di Rusia, Steffen Ehninger, koresponden GTAI di London juga menyatakan hal yang sama. “Reputasi barang-barang dan layanan jasa yang berasal dari Jerman masih tetap baik di Inggris” lapor Ehninger.

Meski demikian, penilaian bagus semacam itu, merupakan sebuah pengecualian. Beberapa koresponden GTAI di beberapa negara melaporkan hal yang berbeda.

Label saja Tak Cukup

Oliver Döhne, koresponden GTAI di Sao Paulo menulis ”Di Brazil, label `Made in Germany` masih dianggap sebagai jaminan atas kepercayaan, daya tahan dan kualitas. Meski demikian kesiapan untuk membayar produk itu juga turun. Perusahaan-perusahaan Jerman harus melakukan investasi lebih besar dalam hal komunikasi, kedekatan dengan pelanggan dan layanan setelah pembelian.”

Masyarakat kelas atas di Brazil memang mempunyai minat tinggi terhadap barang-barang buatan Jerman, akan tetapi barang-barang produksi Jerman hampir tak dikenal di kalangan masyarakat kelas menengah Brazil.

Di Cina, label “Made in Germany“ masih laku dijual, akan tetapi hanya dengan bermodal label saja, tak akan mendatangkan sukses, tulis Stefanie Schmitt dari Peking. Persaingan di segala bidang makin tajam. Tambah lagi, produsen yang mempoduksi barang-barang mereka di luar negri harus menerangkan bahwa barang-barang buatan mereka, biasanya hanya design dan rancangannya saja yang berasal dari Jerman. Karena itu Schmitt berpendapat, produk-produk Jerman seharusnya tak hanya mengandalkan label “Made in Germany“ saja, tetapi produk-produk itu juga harus bisa membangun merek-merek mereka sendiri.

Merek Mahal dan Saingan Dagang

Di India, produk-produk Jerman memang punya reputasi baik, akan tapi hal ini tidak berlaku di semua sektor, tulis Katrin Pasvantis dari New Delhi. “Produk-produk buatan jerman menjadi simbol kualitas dan teknik yang mengesankan“. Meskipun demikian, sebagian besar pengusaha dan konsumen di India menjadi ketakukan akibat harga yang mahal.

Di Amerika Serikat, segala-sesuatu dengan embel-embel Jerman masih laku bagus dipasaran. “ Jika diketahui buatan Jerman, maka produsen atau barang produksi tersebut akan dikategorikan sebagai berkuliatas bagus, dibuat sangat teliti dan bisa diandalakan“, tulis Martin Wiekert di Washington.

Meskipun demikian Wiekert menambahkan, “Disisi lain terkadang produk Jerman juga dikaitkan dengan harga yang mahal dan merupakan produk saingan yang tak disukai dari Made in USA .“ Itulah sebabnya, perusahaan-perusahaan Jerman menggunakan embel-embel buatan Jerman secara hati-hati atau bahkan hanya menggunakannya sebagai latar belakang saja.