​Nancy Veandita, dari Penyanyi Dangdut Banting Stir jadi Perancang Busana

Editor: Choirul
Wartawan: -
Selasa, 03 April 2018 22:46 WIB

Nancy Veandita saat tampilkan karya-karyanya. foto: istimewa

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Mahasiswi UNESA yang dikenal dengan nama Nancy Veandita (22) ini meraih omzet minimal Rp 5 juta tiap bulannya setelah beralih dari penyanyi dangdut menjadi perancang busana.

Usaha yang dirintis sejak 3 tahun lalu dengan dibantu suaminya, bermula dari hobinya untuk membuat baju sendiri setiap ia tampil sebagai penyanyi dangdut. Orang-orang yang tertarik pada baju buatannya banyak membeli baju yang ia kenakan. Melihat adanya potensi maka ia pun mulai bersedia menerima pesanan.

Hingga saat ini, ia memiliki 4 pegawai yang khusus untuk menjahit, pegawai lain untuk memotong dan pemasang brukat. Dengan seluruh jumlah pegawainya, ia mengaku hanya butuh 3 jam hingga satu baju sampai pada tahap finishing.

Dalam sehari, seluruh pegawainya mampu merampungkan 16 potong baju dengan model pendek. Gaun panjang atau bahkan gaun pengantin dapat memakan waktu lebih lama. Bukan hanya membuat gaun, adapun pegawainya yang mengerjakan aksesories.

“Cuma jualan online aja kok. Karena nggak ada waktu buat nungguin tokonya, dan nggak ada waktu kalau mau ketemuan-ketemuan karena di samping kerja ini saya kuliah yang sangat padat terus untuk bagi waktunya pun sulit. Di mana untuk kuliah, belanja, kuliah... dan ditambah kalau harus cari aksesoris” begitu terangnya ketika ditanya alasannya tidak membuka toko untuk menjual bajunya.

Meski menjual baju secara online, ia mengaku tidak kesulitan untuk menentukan ukuran baju yang dipesan. Ia sudah menyiapkan ukuran tersendiri. Pemesan cukup mengirimkan foto mereka tanpa edit, ditambah keterangan berat badan dan tinggi badan.

Sejauh ini, dia berbelanja bahan-bahan untuk bajunya hanya di Surabaya. Ia mengaku, di Surabaya ada lebih banyak motif. Selain memilih sendiri motif dan bahan, ia sendiri juga yang membuat semua desain baju yang dijualnya.

“Yang pesen... dari Korea udah masuk, Papua, Kalimantan, Sumatera, Lampung sudah banyak yang order tapi yang dominan masih Jawa Tengah, Jawa Timur sama Jakarta.” Jelasnya pasal dari mana saja pesanan yang datang.

Baju yang ia jual minimal bernilai Rp 300.000, dan hingga kini baju dengan harga ini adalah yang terlaris dibanding yang lain. Pesanan yang ia terima tak selalu ramai, ia tetap mengalami pasang surut. Pesanan paling banyak datang pada bulan Agustus dan selepas hari raya. Pada bulan-bulan itu omzetnya mampu bertambah hingga dua kali lipat. Pada bulan-bulan sepi seperti Januari hingga Maret, ia mampu menjual lebih dari 80 potong baju dalam satu bulan.

Untuk ke depannya, ia berharap agar usahanya lebih berkembang. Ia pun menunggu waktu yang tepat untuk bisa membuka tokonya sendiri. Dan bisa menawarkan desain-desain yang lebih fresh kepada pelanggannya. (*)

 

sumber : *Fikma Arifiyani A