Sekolah Roboh, Disapu Angin Puting Beliung

Editor: abdurrahman ubaidah
Wartawan: Dito Suwandito
Kamis, 11 Desember 2014 12:39 WIB

Sebuah sekolah roboh disaou puting beliung


NGANJUK (BangsaOnline) - Bencana alam kembali terjadi di wilayah Kabupaten Nganjuk. Setelah Nganjuk diporak-porandakan puting beliung yang mengancurkan 504 rumah di 3 kecamatan, kali ini hujan deras yang disertai angin merobohkan sebuah bangunan sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Salafiyyah Darussalam, di Desa Kemaduh Kecamatan Baron, sekitar pukul 20.00.WIB. Namun, gedung ini tetap digunakan belajar anak-anak meski atapnya ambruk.

Selain merobohkan sekolahan, hujan deras disertai angin puting beliung yang terjadi sejak siang hingga malam hari juga merobohkan rumah milik Sunarto (52), warga RT.02/04 desa setempat. Beruntung insiden terjadi pada malam hari saat situasi di lokasi sepi, sehingga tidak ada korban jiwa.

Kepala TK dan SD Salafiyyah Kemaduh, Achmad Mujib saat ditemui HARIAN BANGSA mengatakan, pihaknya baru mengetahui atap ruang kelas TK roboh pagi harinya. Kepala sekolah yang tinggal di satu kompleks sekolah ini baru tahu kerusakan pada bangunan saat hendak masuk kantor dan anak-anak pada berdatangan. “Malam itu angin berputar seperti gasing, tahu-tahu genting sudah berjatuhan, kerangka atapnya juga roboh,” kata Achmad Mujib.

Setelah mengetahui atap sekolahannya roboh, seketika itu juga sejumlah guru langsung mengecek bagian dalam ruangan. Rupanya kondisi atap masih utuh meskipun sebagian terkena imbas reruntuhan atap di teras. Karena pertimbangan jumlah ruang kelas yang terbatas, Mujib pun kemarin nekat tetap menggunakan ruangan untuk kegiatan belajar. “Yang rusak ruang kelas TK A, pagi hari dipakai buat belajar, kalau sore dipakai mengaji,” imbuh Mujib.

Diakui oleh Mujib, bangunan di sisi timur kompleks sekolah itu memang sudah termasuk bangunan tua. Sampai sekarang gedung ini belum pernah direnovasi, sejak berdiri tahun 1969. Hal itu dibuktikan dengan kayu atap yang roboh tampak lapuk bekas dimakan rayap. Bangunan yang roboh ini adalah gedung perintis yang dibangun secara swadaya oleh yayasan sekolah. Sedangkan bangunan di sisi barat masih terlihat kokoh, karena dibangun oleh pemerintah daerah. "Yang saya pikirkan itu anak-anak, mereka tidak tenang dalam belajar," ujar Mujib.

Menurutnya, ruang kelas yang atapnya roboh ini ditempati sekitar 20 anak. Sedangkan total siswa TK di sekolah sekitar 70 anak, yang sebagian tinggal di kampung sekitar sekolah. Dengan adanya bencana ini, pihak sekolah tidak bisa cepat-cepat merenovasi bangunan karena dana terbatas. Satu-satunya jalan, terpaksa terus menggunakan ruang tersebut untuk kegiatan belajar mengajar. "Kami mengharapkans ada bantuan dari Pemkab Nganjuk," jelas Mujib.

 

sumber : harian bangsa