​Ini Alasan Mulia Kiai Asep Beri Bingkisan Ratusan Polisi, TNI, Purnawirawan dan Guru Besar

Editor: MMA
Sabtu, 23 Mei 2020 21:12 WIB

Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.Ag. foto: MMA/ bangsaonline.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.Ag, terus menebar sedekah dan berkah. Bukan hanya kepada para relawan dan korban terdampak sosial ekonomi covid-19, tapi juga kepada para purnawirawan yang menjadi ujung tombak kemerdekaan RI. Para relawan itu berkumpul di aula Pondok Pesantren Amanatul Ummah Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Sabtu (23/5/2020) siang.

“Subhanallah, saya merasa beruntung sekali memperhatikan mereka. Mereka senang sekali bertemu dengan para teman sejawatnya,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim kepada BANGSAONLINE.COM usai acara pertemuan dengan para purnawirawan itu.

Para purnawirawan itu memang bisa bercengkrama satu sama lain, setelah sekian lama tak pernah berjumpa. “Insyaallah banyak menyenangkan,” kata Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, mereka adalah perjuang terdepan dalam memerdekaan negeri ini. Karena itu, Kiai Asep sangat peduli kepada mereka. “Di sini (kawasan Siwalankerto-Red) ada sekitar 70 sampai 100 purnariwan,” tutur Kiai Asep.

(Demi masyarakat yang terdampak sosial ekonomi Covid-19, aparat polisi dari Polsek Wonocolo ini masuk-keluar kampung membantu pembagian sedekah Kiai Asep Saifuddin Chalim di kawasan Siwalankerto Utara Surabaya. foto: MMA/ bangsaonline.com)

Usia mereka sekitar 80 tahun. Menurut Kiai Asep, ada sekitar 20 orang yang tak bisa hadir karena kondisi fisiknya yang sepuh. Tapi bukan mereka tak dapat bingkisan. “Kita antar ke rumahnya masing-masing,” kata Kiai Asep. Bingkisan itu berupa beras, uang, dan sarung. Mereka tampak senang, karena merasa ada yang memperhatikan.

Kiai Asep juga peduli terhadap aparat kepolisian, anggota TNI, dan bahkan para guru besar. Loh, bukankah mereka sudah dapat gaji dari pemerintah? Ternyata Kiai Asep punya alasan mulia.

Menurut putra pendiri NU, KH Abdul Chalim itu, aparat kepolisian dan anggota koramil adalah petugas Covid-19 terdepan, di samping para tenaga medis dan dokter. “Tapi mereka kan tidak boleh mengambil BLT (Bantuan Langsung Tunai). Padahal amil zakat saja dapat bagian,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu.

(Para polwan dari Polsek Wonocolo juga berjibaku membantu warga terdampak sosial ekonomi Covid-19 di kawasan Siwalankerto Utara Surabaya. foto: MMA/ bangsaonline.com) 

Lalu bagaimana dengan para guru besar? “Maaf, saya masih punya guru saat saya kuliah di IKIP atau Unesa. Mereka masih jumeneng. Usianya 80 tahunan,” kata Kiai Asep. Mereka lalu diajak berkumpul sekaligus diberi bingkisan. “Bagi mereka tidak dengan jumlah soal uangnya. Mereka senang karena ada muridnya yang masih ingat, masih ada yang memperhatikan,” kata Kiai Asep.

Alasan Kiai Asep ini tentu sangat inspiratif. Bagi seorang guru, apalagi sudah sepuh, perhatian para murid sangat menyenangkan.

Lalu berapa jumlah para anggota polisi dan Koramil yang diberi bingkisan. “Di Polsek Wonocolo Surabaya ini ada sekitar 80 anggota polisi dan 14 anggota Koramil,” tutur Kiai Asep. Sedangkan di Pacet Mojokerto, anggota Polseknya 34 orang, sementara anggota Koramil 29 orang.

Menurut Kiai Asep, harta yang diesedekahkan tak akan berkurang sedikit pun. Ia mengutip Hadits Rasulullah SAW, “Demi Allah tak akan berkurang harta yang disedekahkan.” 

Kiai Asep juga mengutip hadits lain yang artinya, “Carilah rezeki dengan umpan sodaqoh,”. Kiai Asep mengaku sudah merasakan sendiri tentang hadist ini. “Sejak 15 tahun lalu, memang terasa sekali, rezeki terus meningkat,” kata Kiai Asep.

Kiai miliarder ini juga mengingatkan bahwa dirinya sama sekali bukan riya’ jika selama ini menceritakan tentang harta atau rezeki dari Allah SWT yang melimpah. Sebaliknya, justru untuk tahadduts binni’mah. “Karena kenikmatan itu harus diceritakan kepada orang,” kata Kiai Asep. Harapanya, orang lain bisa mengambil pengalaman dan merasakan kenikmatan yang sama.

Kiai Asep juga mengutip Hadits yang artinya: Bahwa di antara hamba Allah ada hamba yang diberi kenikmatan yang sebagian kenikmatan itu untuk kebutuhan manusia. Allah akan menetapkan kenikmatan itu sepanjang mereka mau menyerahkan sebagian kenikmatan (harta) untuk kebutuhan manusia lain. Tapi jika mereka tidak mau lagi berbagi, maka Allah akan mencabut dan akan memindahkan kenikmatan itu kepada orang lain.

“Ini sebagai motivasi lah, sehingga aghniya’ (orang kaya) kekal kenikmatannya,” pungkas Kiai Asep.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE.COM, pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Kiai Asep sibuk membagikan 300 ton beras kepada para relawan penanganan covid-19 dan korban terdampak sosial ekonomi virus corona. Selain beras 5 kilo perorang, Kiai Asep juga membagikan 40 ribu sarung dan uang Rp 50 ribu perorang.(MMA).