Tanya-Jawab Islam: Cara Menyikapi Suami yang Sering Marah-marah karena Terkena PHK

Editor: Abdurrahman Ubaidah
Senin, 08 Juni 2020 07:17 WIB

Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.

>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said MA. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<<

Pertanyaan:

Pak Ustadz, bagaimana caranya menghadapi suami yang sedang terkena musibah di-PHK dari pekerjaannya. Belakangan suami saya suka nongkrong begadang sama teman-temannya. Orangnya keras dan suka marah-marah. Bahkan sering bersikap kasar pada adik saya. Mohon pencerahan. (Nur Fadilah, Bendul Merisi, Surabaya)

Jawaban:

Semoga Ibu sekeluarga segera diberikan jalan keluar oleh Allah swt. Poin penting pertama yang harus saya sampaikan adalah, Ibu harus terus berusaha memberikan pemahaman kepada suami ibu, bahwa PHK itu bukanlah akhir dari segala-galanya.

Bisa jadi ini adalah awal dari permulaan karir yang baik pada bidang pekerjaan lainnya. Artinya, Allah sedang membukakan pintu-pintu rezeki yang lain yang belum diduga.

Kedua, bersikap sabar dan terus berusaha untuk mendapatkan peluang pekerjaan baru, serta terus melatih keterampilan yang dimilikinya. Sebab, Allah tidak akan menguji hambanya kecuali dengan kadar kemampuannya:

“… Allah tidak akan memberikan beban hambanya kecuali sesuai kadar kemampuannya …”. (QS. al-Baqarah:286). Artinya cobaan yang sedang Ibu dan Bapak hadapi masih dalam koridor batas kemampuan, maka harus tetap yakin akan pertolongan dari Allah.

Ketiga, selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa momentum cobaan ini (di-PHK) bahwa Allah sedang mengatur kehidupan keluarga Ibu untuk menjadi lebih baik, bukan malah berprasangka sebaliknya. Artinya selama kita yakin baik, Allah pasti akan memberikan ladang rezeki terbaik.

Abu Hurairah melaporkan bahwa Rasulullah bersabda: “Aku (Allah) menurut prasangka hambaku …”. (Hr. Bukhari:6970)

Keempat, berdoa kepada Allah dengan penuh permohonan. Sebab selain usaha yang keras, doa juga harus diistiqomahkan. Andaikan sudah takdir, dengan berdoa kepada Allah takdir itu dapat berubah. Dan juga berdoa agar rezeki keluarga ibu dapat segera dibukakan melalui tangan suami Ibu, sehingga Ibu tidak perlu meninggalkan adik Ibu yang sedang sakit.

Sahabat Salman melaporkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali”. (Hr. Turmuzi:2139)

Artinya dengan intens berdoa dan benar-benar memohon kepada Allah, segala masalah yang sedang dihadapi akan segera mendapatkan jalan keluarnya.

Kelima, selalu memperbanyak membaca istighfar, yaitu dengan mengakui segala kesalahan dan memohon ampun kepada Allah, baik dengan lafadz istighfar yang diucapkan ataupun disadari penuh dengan hatinya. Bagi hamba-hamba yang beristighfar ini Allah menjanjikan banyak hal, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun-, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (Qs. Nuh:10-12)

Air hujan di atas dapat dipahami dengan rezeki yang diturunkan oleh Allah Swt, kebun-kebun, dan sungai-sungai dapat dipahami dengan dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Maka, sikap Ibu yang terbaik adalah tetap mengerjakan apa yang menjadi kewajiban Ibu di rumah tangga dan membantu pekerjaan mertua, di samping juga berdoa dengan sungguh-sungguh semoga suami Ibu segera mendapatkan pekerjaan baru atau bahkan menciptakan pekerjaan.

Dan terpenting, setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Jika dipahami positif dengan terus mengasah skill, insya Allah problematika itu akan segera tersolusikan selama tidak berputus asa dan menyalahkan Allah. Wallahu a’lam.