​In Memoriam Peter A Rohi: Saya Jurnalis Elang, Bukan Emprit

Editor: Tim
Kamis, 11 Juni 2020 20:25 WIB

Peter A Rohi dalam adegan film Jejak-jejak Bung Karno yang disutradarai Hari Nugroho. foto: ist.

Oleh: Hari Nugroho

Jakarta sangat terik saat itu. Angin musim panas menjatuhkan daun-daun kering di jalan dan trotoar. Beberapa daun jatuh juga di teras sebuah hotel di kawasan Senayan, tempat saya dan Pak Peter A. Rohi berdiri menungu jemputan. Kami baru saja bertemu Pak Panda Nababan, sahabat sekaligus atasan Pak Peter saat menjadi wartawan di Sinar Harapan.

Tiba-tiba, entah datang dari mana, belasan wartawan lengkap dengan segala peralatan liputan bergegas masuk lobi hotel. Sejurus kemudian, mereka mengerumuni seseorang untuk diwawancarai. Saya tidak bisa melihat siapa narasumber yang sedang mereka buru. Mereka, para pemburu berita itu, sedang melakukan ‘door stop’. Salah satu jurus andalan untuk bisa bertemu dan mewawancarai narasumber.

Tak ada yang salah dari kejadian itu. Meskipun sangat jarang, selama menjadi jurnalis, saya juga pernah melakukan door stop, meskipun saya kurang suka melakukannya. Persitiwa itu membuat Pak Peter tertawa kecil. “Industri media sekarang ini membuat mereka seperti itu,” ujar Pak Peter tak melepas senyumnya.

Sebenarnya saya tahu arah pembicaraan jurnalis senior ini. Saya sudah hafal jalan pikirannya. Tapi karena mobil jemputan belum datang, saya mencoba mengorek apa yang sedang dipikirkan jurnalis mantan anggota KKO (marinir) ini.

“Industrialisasi media mau tidak mau harus menciptakan wartawan seperti burung Emprit (pipit). Burung Emprit selalu terbang berbondong-bondong. Mencari makan juga bersama-sama. Memang harus ada Emprit, tapi harus ada Elang,” jelas Pak Peter.

Elang, lanjutnya, selalu terbang sendiri. Terbang jauh dan tinggi, matanya tajam menatap ke bawah untuk mencari mangsa. Setelah menemukan mangsa ia akan turun dan mengejar sasarannya hingga dapat. Setelah itu, ia akan kembali ke sarangnya. Elang makan secukupnya.

(Hari Nugroho memegang kamera (kiri). Foto: ist)

Perumpamaan Pak Peter sangat tepat. Mudah saya cerna. “Saya tidak bisa jadi jurnalis burung Emprit. Saya jurnalis Elang. Kita harus jadi Elang,” tambahnya.

Saat itu, kami sedang membuat film penelusuran jejak kehidupan Bung Karno. Tokoh yang sangat dikagumi dan dihormati Pak Peter. Ia memilih berhenti menjadi anggota KKO saat Laksamana TNI Sudomo yang saat itu menjadi Pangkopkamtib memberikan tawaran pensiun dini atau pemberhentian paksa kepada para Marinir. Merasa aneh dengan tawaran itu, Pak Peter memilih berhenti.

“Ini aneh, Indonesia begitu luasnya, dengan wilayah maritim yang luas, malah ada pengumuman pemberhentian atau pensiun dini. Saat itu saya yakin KKO sedang “dibersihkan”. Saya memilih berhenti dari KKO,” kisah Pak Peter pada suatu ketika.

Tragedi 1965 memang menimbulkan polemik tersendiri dalam sejarah militer Indonesia. KKO dan ALRI TNI AL menjadi korban bersih-bersih unsur (yang dianggap) PKI dan loyalis Sukarno.

(Hari Nugroho penulis artikel ini. foto: ist)

Matra laut dalam sejarah militer Indonesia memang terkenal loyalis Presiden Sukarno. Jenderal KKO Marinir Hartono sempat mempopulerkan slogan "Pejah gesang nderek Bung Karno" yang artinya mati hidup ikut Bung Karno. Ada juga slogan “Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO, putih kata Bung Karno, putih kata KKO" dan "KKO selalu kompak di belakang Bung Karno".

Loyalitas terhadap Bung Karno itulah yang saya duga membuat Pak Peter sangat bersemangat saat melakukan pengambilan gambar di lapangan. Matanya selalu berbinar dan tajam saat berada di lokasi, melakukan wawancara, atau menjelaskan tentang lokasi atau tempat yang berhubungan dengan perjalanan hidup Presiden Soekarno.

Loyalitas terhadap Bung Karno itulah yang mungkin membuatnya lebih bertenaga saat di lapangan. Tidak ada lelahnya. Bahkan, seringkali saya ketinggalan beberapa langkah saat berjalan bersamanya.

Selera humornya yang tinggi kadang membuat saya terkekeh. Saat kami syuting di Penjara Banceuy Bandung, tempat Bung Karno pernah dipenjara, Pak Peter minta disyuting sedang tiduran di diepan yang digunakan Bung Karno tidur. Setelah syuting selesai, Pak Peter berseloroh “sekarang saya syah menjadi Anak Bangsa, karena sudah tidur di tempat tidur Bapak Bangsa”. Ucapan itu disambut kru film yang lain dengan ikut merasakan tidur di dipan kayu beralaskan tikar pandan itu. Saya juga ikut mencoba. Keluar dari sel, Pak Peter kembali berkelakar dengan bertanya “syah?”, saya jawab ”syaaah!”.

Hari ini (10/6), saya mendapat kabar Peter Apollonius Rohi, host film kami, meninggal dunia di Surabaya. Sudah lama ia terserang stroke. Kabar ini membuat saya terkenang pada percakapan tentang Emprit dan Elang di teras sebuah hotel di kawasan Senayan di musim panas yang menggugurkan daun-daun.

Terima kasih atas kerja kita, salam hormatku dan selamat jalan Jurnalis Elang, tajam, dan binar matamu selalu kukenang.

(Hari Nugroho)