Tanya-Jawab Islam: Rumah di Sebelah Digosipkan Macam-macam, Saya Harus Bagaimana?

Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: .
Sabtu, 27 Juni 2020 09:43 WIB

Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.

>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said MA. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<<

Pertayaan:

Assalamu’alaikum Ustadz. Ada tetangga saya yang menyebarkan gossip tentang salah satu rumah didekat rumah saya. Rumah itu sudah dijual sipemilik sebelummya dan dibeli tetangga baru saya sekarang. Kebetulan saat itu anak tetangga baru saya sakit demam sampai dirawat dirumah sakit.

Tetangga saya yang lain (suka menggosip) bilang: “Itu mah sakitnya karna pembawaan rumah yang gak berkah. Soalnya dulu sipemilik rumah sebelumnya mengontrakan rumah tersebut dan si pengontraknya banyak yang berbuat maksiat/mesum di rumah itu.”

Dia juga bilang di rumah itu ada penunggunya (seorang kakek-kakek) yang sering mengganggu dan menyebebkan orang yang tinggal dirumah itu sering sakit-sakitan khususnya anak-anak. Tetangga baru saya termakan omongannya sampai-sampai dia ketakutan dan rumah yang baru dibeli 11 bulan lalu mau dia jual lagi.

Padahal rumahnya strategis ramai dan dekat dengan masjid. Si penyebar gossip itu juga bilang kalo sipemilik rumah yang dulu itu orangnya serakah suka mengambil hak orang lain contohnya rumah itu aja mestinya yang tempatin itu kakaknya tapi malah dia yang tempatin. Padahal saya kenal betul orangnya adalah orang baik-baik tapi kok malah digosipin gitu? Lantas bagaimana hukum islam menanggapi hal tersebut? Dan apa yang harus saya lakukan sebagai tetangga dan saudara seiman? Mohon tanggapannya Ustad

(Dani Permana, permanadani000@gmail.com).

Jawab:

Peristiwa di atas menunjukkan rasa hasut tetangga kepada tetangganya. Hasut adalah sebuah rasa dan tindakan ketidaksukaan atas kenikmatan orang lain dan berharap nikmat itu segera hilang darinya. Cerita yang dihembuskan tentang rumah itu ada hantunya atau apalah itu, -walaupun benar- tidak boleh digosipkan kepada para tetangga yang lain. Kalau itu (penunggu atau hantu) benar ada, cara terbaik adalah disampaikan kepada pemilik rumah baru itu, agar ia waspada. Bisa jadi, dengan sering digunakan ibadah dan membaca al-Quran semua itu akan hilang. Abu Hurairah melaporkan hadis dari Rasul yang berbunyi:

“Jangan jadikan rumahmu itu seperti kuburan, syetan itu akan lari dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah”. (Hr. Muslim: 780)

Maka, kalaupun toh cerita itu benar, tidak boleh disebar-sebarkan apalagi dikaitkan dengan sakit pemilik rumah yang baru. Nah, inilah yang kemudian bisa disebut dengan hasut dan iri. Sikap-sikap seperti ini telah diperingatkan oleh Rasul kita hindari. Rasul bersabda:

“Maukah kalian aku beri tahu tentang sifat-sifat yang buruk? Mereka menjawab: iya ya Rasul. Rasul lalu bersabda: yaitu orang-orang yang suka mengadu domba dan menghasut, orang-orang yang memisahkan dua orang yang hubungannya baik-baik saja, dan suka mencari kekurangan-kekurangan orang lain”. (Hr. Bukhari).

Hudzaifah juga melaporkan bahwa Rasul memberikan kabar tentang orang yang ucapannya untuk menghasut dan mengadu domba, “tidak akan masuk surga orang yang menghasut dan mengadu domba”. (Hr. Muslim:303)

Maka dari itu, Islam memandang bahwa perbuatan ibu yang menghembuskan cerita-cerita itu haram hukumnya. Sikap terbaik bagi para tetangga adalah menolong kedua-duanya, dengan cara; pertama, menasehati tetangga yang membuat-buat cerita itu secara baik-baik agar tidak tersinggung. Utamakan yang memberikan nasehat adalah yang paling dituakan dan ditokohkan oleh warga setempat.

Jika dirasa tidak mampu untuk memberikan nasihat, sebaiknya berkonsultasi dengan tokoh RT/RW agar berkoordinasi dengan Kyai/Ustadz setempat untuk bisa ikut serta memberikan solusi.

Kedua, memberikan nasehat kepada pemilik rumah agar tidak terpengaruh dengan cerita-cerita itu. Kalau pemilik rumah masih merasa ragu dan was-was, agar rumahnya digunakan untuk mengaji saja, semoga -kalau cerita itu benar- dihilangkan oleh Allah, sebagaimana hadis di atas. Sebab sangat wajar, beli rumah yang sudah jadi, dan rumah itu beberapa saat tidak ditempati, kemudian ada penunggunya, sebaiknya dibuat saja untuk mengaji al-Quran.

Ketiga, sebaiknya sebagai tetangga harus bersikap seperti keluaga, agar hubungan sosial antar warga menjadi harmonis. Ibnu Umar melaporkan sebuah hadis bahwa rasul bersabda:

“Jibril itu selalu mengingatkan saya tentang hak-hak tetangga, seakan-akan mereka itu akan mewarisi hartaku”. (Hr. Bykhari: 6014).

Jangan dianggap tetangga itu orang lain, mereka adalah orang-orang yang juga punya andil dalam kebahagian kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ungkapan Arab “al-jar qabla dar” itu bermaksud carilah tetangga-tetangga yang baik dulu baru mendirikan rumah di tetangga-tetangga yang baik itu. Namun, kalau sudah terlanjur peristiwa hasutan ini terjadi, sebaiknya saling menasehati saja. Wallahu A’lam.