​Lagu Mars 'Hari Merdeka' dan 'Hymne Syukur' Diciptakan Seorang Habib

Editor: MMA
Sabtu, 15 Agustus 2020 16:43 WIB

Habib Husein Muthahar. foto: wikipedia

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Peran besar kiai, ulama dan habaib dalam perang kemerdekaan Repubik Indonesia (RI) makin terang benderang dalam sejarah. Padahal jejak perjuangan para tokoh Islam itu hampir tereduksi dari sejarah Indonesia akibat manipulasi penulis sejarah yang tak jujur.

Nah, pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-75 ini, BANGSAONLINE.COM, mengangkat salah satu sisi penting dalam lembaran sejarah Indonesia. Yaitu seorang pencipta lagu kesohor yang berlatar belakang habib.

Siapa lagi kalau bukan H Mutahar, pencipta lagu yang sangat popular: Mars Hari Merdeka dan Hymne Syukur. Hymne Syukur di-launching pada Januari 1945. Sedang Mars Hari Merdeka diperkenalkan ke publik pada 1946. Karya terakhir Habib Muthahar adalah Dirgahayu Indonesiaku. Lagu ini menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia.

Sejak itu tahun 1945 dan 1946, terutama Mars Hari Merdeka dan Hymne Syukur, selalu menggema dalam acara-acara resmi kenegaraan RI, termasuk pada HUT Kemerdekaan. Sehingga kita – atau sebagian besar bangsa Indonesia – hafal lagu-lagu tersebut.

Memang, banyak orang mengira H Mutahar itu singkatan Haji Mutahar. Ternyata singkatan dari Habib Husein Muthahar. Jadi, Muthahar adalah marga sayyid dari Yaman.

Menurut Wikipedia, nama lengkap Habib Muthahar adalah Muhammad Hesein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar. Ia lahir di Semarang, Jawa Tengah, 5 Agustus 1916. Habib Muthahar wafat di Jakarta pada 9 Juni 2004 para usia 87 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Habib Muthahar yang merupakan paman Habib Umar Mutohar, ulama di Semarang, itu dikenal sebagai komponis musik Indonesia. Terutama kategori kebangsaaan dan anak-anak.

Untuk lagu anak-anak, ciptaan Habib Muthahar yang popular adalah berjudul Gembira, Tepuk Tangan Silang-Silang, Mari Tepuk, Slamatlah, Jangan Putus Asa, Saat Berpisah, dan Hymne Pramuka.

Habib Muthahar sangat nasionalis dan anti komunis (PKI). Ia pernah menjadi ajudan presiden. Karena itu ia diberi tugas menyusun upacara pengibaran bendera ketika Republik Indonesia merayakan hari ulang tahun pertama kemerdekaan, 17 Agustus 1946. Menurut dia, pengibaran bendera sebaiknya dilakukan para pemuda yang mewakili daerah-daerah Indonesia. Ia lalu memilih lima pemuda yang berdomisili di Yogyakarta (tiga laki-laki dan dua perempuan) sebagai wakil daerah mereka

Masih menurut Wikipedia, pada tahun 1967, Habib Muthahar diangkat sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Presiden Soeharto meminta Habib Muthahar menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka.

Tata cara pengibaran Bendera Pusaka disusunnya untuk dikibarkan oleh satu pasukan yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai kelompok inti pembawa bendera; kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. (MMA)