Tafsir Al-Kahfi 30-31: Hijau, Warna Favorit Pakaian Penduduk Surga

Editor: Redaksi
Minggu, 06 September 2020 22:45 WIB

Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

30. inna alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati innaa laa nudhii’u ajra man ahsana ‘amalaan

Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.

31. ulaa-ika lahum jannaatu ‘adnin tajrii min tahtihimu al-anhaaru yuhallawna fiihaa min asaawira min dzahabin wayalbasuuna tsiyaaban khudhran min sundusin wa-istabraqin muttaki-iina fiihaa ‘alaa al-araa-iki ni’ma altstsawaabu wahasunat murtafaqaan

Mereka itulah yang memperoleh Surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; (dalam surga itu) mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.

TAFSIR AKTUAL

Setelah menginformasikan keadaan orang-orang kafir di neraka yang teramat pedih, kini mengabarkan penghuni surga yang begitu mewah, nyaman, dan serba tersedia, serta cepat saji. Tidak sekadar servis akomadasi, seperti tempat tidur dan tempat santai, hingga pakaian, perhiasan, bahkan warna baju mereka dikabarkan. Pokoknya, semua serba "wah". Ni'ma al-tsawab wa hasunat murtafaqa. Terma ini sebagai pengimbangan dari kondisi neraka yang serba buruk, "Bi'sa al-syarab wa sa'at murtafaqa" (29).

Ketika Tuhan mengomentari neraka, yang ditampilkan sebagai buruk bersifat sampling, yakni hanya minuman saja, "bi'sa al-syarab..", sementara azab yang lain tidak. Hal itu agar manusia bisa berpikir sendiri, lalu mengambil pelajaran. Seperti apa minuman neraka?

Seperti yang dijelaskan ayat sebelumnya, bahwa mereka sungguh haus bukan kepalang. Lalu berteriak meminta minum dan Tuhan mengabulkan. Yang diberikan ternyata bukan air segar, melainkan cairan menjijikkan seperti nanah campur darah berbau busuk, pekat dan mendidih. Sedikit saja kulit terkena, maka pasti terkelupas. Apalagi kena wajah, maka matang terpanggang, "yasywi al-wujuh".

Pada ayat lain disebutkan pula minuman penghuni neraka ini dengan sifat serupa, seperti "wa yusqa min ma' shadid.." (Ibrahim:16). Juga pada surah Muhammad: 15, "wa suqu ma'a hamima faqatta'a am'a-ahum". Minuman air mendidih yang membuat usus mereka berantakan. Itu baru minumannya yang terpaksa mereka minum, belum siksa lainnya.

Tidak sama ketika Tuhan menjelaskan kenikmatan surga, maka yang disebutkan adalah pahala, balasan terindah, menyeluruh melebihi apa yang disebutkan pada siksa neraka. "ni'ma al-tsawab..", meskipun tetap menunjuk beberapa yang dianggap penting untuk diungkap. Semisal villa VVIP yang di bawahnya mengalir sungai jernih.

Disebutkan pula dandanan penghuninya yang mewah bergelang emas murni. Pakaian mereka berbahan sutera berkualitas tinggi, ada yang tipis, halus, dan sangat nyaman di badan (sundus) dan ada pula yang empuk tebal bersulam emas sebagai pakaian kebesaran (istabraq). Bahkan disebutkan pula warna favorit mereka, yaitu: hijau (tsiyaba khudlra). Tempat tidurnya yang mewah dan sofanya begitu melegakan. Artinya, tidak terbayangkan servis Tuhan di surga nanti sehingga tak seorang pun mampu membahasakan.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.