​Kunjungi Surabaya, Pemkot Ternate Belajar Penerapan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah

Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Yudi Arianto
Selasa, 08 September 2020 20:36 WIB

Wali Kota Risma menerima kunjungan kerja dari Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate di rumah dinasnya, Jalan Sedap Malam Surabaya, Selasa (8/9/2020). (foto: ist).

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menerima kunjungan kerja dari Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate di rumah dinasnya, Jalan Sedap Malam Surabaya, Selasa (8/9/2020).

Wali Kota Ternate, Burhan Abdurrahman mengatakan, tujuan kedatangannya bersama para pimpinan DPRD Kota Ternate untuk mempelajari penerapan retribusi pemakaian kekayaan daerah Kota Surabaya, juga untuk mempelajari banyak hal terkait perkembangan kota.

Sebab, dalam waktu dekat Pemkot Ternate akan melakukan penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan atas Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.

“Alhamdulillah, kami bisa tatap muka dengan Ibu Risma. Kami bisa mendapatkan masukan dari Ibu karena kami tahu kota ini maju. Apalagi saat kepemimpinan beliau, kota ini bisa berubah menjadi kota yang hijau dan indah," kata Burhan.

Menurut Burhan, hal utama yang ingin dipelajari dari Wali Kota Risma dalam pertemuan tersebut adalah kebijakan-kebijakan yang berlaku di Pemkot Surabaya dalam melakukan penarikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Hal itu menjadi penting untuk dilakukan karena sangat berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang digunakan untuk membangun Ternate.

“Luar biasa pengelolaan kekayaan daerah, Pemkot Surabaya yang bisa memberikan kontribusi pendapatan aset daerah. Apalagi saat melihat pengelolaan berbagai ruang publik dan ruang terbukanya,” ungkapnya.

Selain itu, Burhan bersama jajarannya juga menanyakan berbagai hal terkait perkembangan Kota Pahlawan selama 10 tahun terakhir. Mulai dari pemungutan PBB, pembangunan berbagai jalan dengan anggaran daerah, hingga strategi Wali Kota Risma dalam membangun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Semua yang sudah diberlakukan di Surabaya akan menjadi dasar pertimbangan kami. Tinggal kami sesuaikan dengan kondisi daerah kami,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Burhan juga mengungkapkan bahwa sosok Wali Kota Risma merupakan wali kota yang penuh dengan terobosan-terobosan. Ia menilai Risma telah berhasil dalam mengubah Surabaya. “Kami salut dengan kepemimpinan Bu Risma. Beliau punya terobosan-terobosan. Saya merasakan sendiri tidak ada ruang kosong lagi yang tidak ditanami dengan bunga,” ucap Burhan.

Menariknya, di sela-sela Wali Kota Risma memaparkan materi, pertanyaan silih berganti bersahutan. Bahkan pertemuan selama dua jam itu, terasa begitu cepat. Apalagi saat Risma menceritakan suka duka dalam melakukan penarikan iuran PBB. Seketika mereka menggeleng-gelengkan kepala dan kemudian disusul dengan tepuk tengan.

Sementara itu, Risma memaparkan panjang lebar tentang apa saja yang ingin diketahui oleh tamunya itu. Ia menyebut bahwa ketika sebuah kota memiliki kemandirian keuangan, maka kota tersebut dapat melakukan banyak hal untuk masyarakatnya. “Jadi, pertama yang saya lakukan adalah kerja sama dengan RT/RW untuk pendataan di masing-masing wilayah, saya melototi datanya itu,” ungkap Risma.

Setelah itu, Presiden UCLG ASPAC ini memastikan apakah ada perubahan atau tidak. Misalnya dari tanah menjadi bangunan, atau bangunan kecil berkembang menjadi besar itu terus dalam pantauan. Hal itu menjadi penting karena semakin banyak bangunan, maka resapan air menjadi berkurang.

“Oleh karena itu, kita harus mengelola dengan baik dari uang retribusi tersebut untuk pembangunan. Kita sudah buat hampir 500 taman, kemudian sekian banyak jalan yang kita buat dari anggaran kami sendiri,” paparnya.

Bahkan, untuk mendapatkan retribusi itu, Risma bersama jajaran tidak sungkan untuk melakukan penagihan di perumahan elite, khususnya bagi warga yang terlambat bayar dan memiliki tunggakan. Ia pun meminta stafnya berkunjung langsung ke rumah elite dengan menggandeng Satpol PP. “Semua itu tujuannya untuk kesejahteraan mereka yang sudah menikmati hasilnya seperti tidak banjir salah satunya,” jelas Risma.

Di samping itu, ia menambahkan retribusi lain juga didapatkan dari pemasangan reklame, pemasangan fiber optik. Menurutnya, semua memang ditarik iuran untuk dikembalikan lagi kepada kesejahteraan masyarakat. Justru karena itu, ia menyebut survei kepuasan warga mencapai 98 persen.

“Artinya warga puas. Kami kerjanya dalam satu dinas ini satu tim, sehingga kalau masalahnya uang jadi harus diselesaikan oleh berbagai dinas. Itu cara kerja kami, Pak,” terangnya. (ian/zar)