Tanya-Jawab Islam: ​Penghina Nabi, Diterimakah Tobatnya?

Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: .
Jumat, 11 September 2020 09:50 WIB

Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.

>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<


Pertanyaan:

Assalamualaikum Kiai. Saya mau bertanya, apakah taubat menghina nabi diterima? Apakah setelah taubat harus melaporkan ke jalur hukum? Dan apakah nabi/rasul akan menuntut di hari kiamat? Jika menuntut apakah tuntutanya bisa membuat kekal di neraka? Bagaimana cara menghapus dosanya? Terima kasih. (Moreno, Jl. Wolter Monginsidi dari Lampung Kota)

Jawaban:

Wa alaikum salam. Sebesar apapun dosa yang dilakukan, pelakunya pasti bisa bertobat. Dosa terbesar itu adalah kafir atau syirik.

Allah berfirman: "Sungguh Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Ia menngampuni dosa yang selain syirik." (Qs.an Nisa'; 48).

Walaupun demikian, menurut ulama; dosa syirik pun bisa diampuni, dengan cara masuk Islam dan meninggalkan syirik total.

Jadi, dosa dan hukuman bagi penghinaan nabi Muhammad SAW itu muncul pasca beliau wafat. Ini, karena didorong kecintaan pada nabi Muhammad SAW. Ketika masih hidup, beliau tidak pernah menghukum para penghinanya, dalam arti hukuman fisik.

Saat itu penghina nabi menggunakan syiir (puisi) sebagai sarana untuk menghina. Nabi pun membalas hinaan tersebut dengan puisi. Dan yang bertugas memuji Nabi sekaligus membalas hinaan adalah Hassan bin Tsabit dan kadang Ubaidah bin al-Jarrah.

Berdasar data di atas, maka menurut saya seseorang yang menghina Nabi kemudian ia bertobat dengan cara menghentikan hinaan dan mengganti dengan pujian shalawat, inilah cara tobat yang diterima. Jika ia istiqamah bershalawat, maka insya Allah akan memberi pertolongan (syafaat) yang diperlukan pada hari kiamat. Wallahu a'lam.