Pantai Cemara, Wisata Edukasi Konservasi Mangrove dan Penyu di Banyuwangi

Editor: Yudi Arianto
Wartawan: Ganda Siswanto
Minggu, 20 September 2020 21:35 WIB

Penyu-penyu yang ada di tempat penangkaran Pantai Cemara, Banyuwangi.

BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Banyuwangi banyak memiliki pantai cantik yang mempesona dengan keindahannya. Pantai yang bisa memikat para traveler datang di bumi sunrise of java ini.

Tetapi bukan hanya pantai cantik saja yang menarik wisatawan mancanegara maupun domestik berkunjung di Banyuwangi. Destinasi konservasi binatang yang dilindungi seperti penyu juga menjadi daya tarik sendiri bagi para traveler.

Traveler yang datang ke destinasi konservasi bisa belajar dan mengenal penyu mulai dari penangkaran sarang telur, penangkaran dan pembesaran tukik, hingga sampai dilepasliarkan di alam bebas.

Di Banyuwangi kota juga terdapat destinasi konservasi penyu yang berada di Pantai Cemara Lingkungan Rowo, Kelurahan Pakis. Munculnya wisata konservasi berkat kepedulian masyarakat nelayan lokal menyelamatkan sarang telur penyu dari binatang predator seperti biawak.

Setelah diselamatkan, sarang telur langsung ditangkar selama 46 hari sampai menetas. Lalu tukik dipelihara sampai masa pelepasliaran. Selain itu, konservasi di sini selain menjadi obyek wisata juga sebagai tempat edukasi kepada wisatawan untuk mengenal jenis penyu yang ditangkar di sini.

Muhyi, Kepala Kelompok Masyarakat dan Pengawas (Pokmaswas) mengatakan, dirinya bersama kelompoknya merintis menciptakan wisata konservasi mulai tahun 2014 dengan mencoba satu sarang telur penyu sebanyak 101 butir dengan hasil penetasan sebanyak 89 ekor.

“Tentunya kami berkelanjutan melakukan konservasi ini. Penyu yang ada di sini adalah jenis penyu lengkang. Sekarang di tempat penakaran tukik masih ada 700 ekor tukik yang siap untuk dilepasliarkan. Tapi bulan-bulan kemarin pantai kami kena abrasi yang menghancurkan bangunan penangkaran sarang telur. Sarang yang kami tangkar juga disapu hanyut dibawa arus air laut,” katanya.

Namun Muhyi tak patah arang. Ia memperbaiki tempat penangkaran itu sekadarnya, agar bisa digunakan untuk penetasan lagi. “Untuk pemantauan penyu, kelompok kami siaga mengawasi tiap malam di pantai secara bergantian,” ujarnya.

Penetasan penyu di sini hampir 80 persen hidup. Siklus penetasan setiap tahunnya semakin berkembang. Tahun 2014 mereka mencoba 101 telur menetas 89, tahun 2015 1.300 telur menetas 900, tahun 2016 2.000 telur menetas 1.650, tahun 2017 telur 4.500 butir menetas 4.300, tahun 2018 telur 3.250 butir menetas 3.150, dan 2019 telur 5.058 butir menetas 4.224. Untuk tahun 2020 tempat penangkarannya hancur terkena abrasi.

“Untuk data pelepasliaran kelompok kami pada tahun 2014 melepas 80 ekor, 2015 melepas 850 ekor, 2016 melepas 1.500 ekor, 2017 melepas 4.000 ekor, 2018 melepas 3.000 ekor, dan 2019 melepas 4.058 ekor. Pelepasliaran tukik kami lakukan di bulan Agustus dan September,” lanjut Muhyi.

Sebelum masa pandemi Covid-19, tempat konservasi itu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk melihat dan belajar tentang tata cara penangkaran dan pembesaran penyu. Selain wisatawan, juga ada mahasiswa dari beberapa kampus yang datang untuk belajar tata cara penangkaran dan pembesaran penyu yang benar. 

“Di sini selain konservasi penyu, kami juga lakukan konservasi dan pembibitan mangrove dan cemara udang,” pungkasnya. (gda/ian)