Tegas, ​Jokowi dan Erdogan Dukung Kemerdekaan Palestina

Editor: MMA
Rabu, 23 September 2020 23:59 WIB

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat pidato perdana secara virtual dalam Sidang Umum PBB ke-75 dan tatap muka, Rabu (23/9 - 2020). foto: Youtube Sekretariat Presiden/ kabar24.bisnis.com.

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Pidato Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo dalam Sidang Majelis Umum (SMU) ke-75 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) cukup menarik. Secara tegas Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina. Bahkan presiden asal Solo itu mengungkap kehadiran Palestina pada Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955, tapi hingga kini nasibnya belum menikmati kemerdekaan.

"Palestina adalah satu-satunya negara yang hadir di Konferensi Bandung (Konferensi Asia Afrika), yang sampai sekarang belum menikmati kemerdekaannya. Indonesia terus konsisten memberikan dukungan bagi Palestina untuk mendapatkan hak-haknya," kata Presiden Jokowi dalam pidato berbahasa Indonesia yang disiarkan langsung YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (23/9/2020).

Jokowi juga menyinggung soal komitmen negara-negara ASEAN dalam menjaga perdamaian. Jokowi menyebut kawasan Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai dan sejahtera.

"Di kawasan kami sendiri, bersama negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia terus menjaga Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai, stabil, dan sejahtera. Pada hari jadinya yang ke-53, 8 Agustus 2020 yang lalu, ASEAN kembali menegaskan komitmennya untuk terus menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan," ujarnya.

Sikap politik tegas Jokowi itu senada dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Bahkan Recep Tayyip Erdogan – seperti dikutip detik.com - secara agresif mengecam Israel dalam pidatonya di Majelis Umum PBB. Dia menuduh Israel mengulurkan "tangan kotor" ke Yerusalem.

"Perintah pendudukan dan penindasan di Palestina, yang merupakan luka berdarah kemanusiaan, terus melukai hati nurani," kata Erdogan seperti dilansir The Times of Israel, Rabu (23/9/2020).

Erdogan juga mendorong pengunduran diri utusan Israel untuk PBB. "Tangan kotor yang mencapai privasi Yerusalem, di mana tempat suci tiga agama besar hidup berdampingan, terus meningkatkan keberaniannya," ujarnya.

Saat Erdogan menyampaikan pernyataannya, Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan bangkit dari kursinya dan perlahan meninggalkan aula Sidang Umum. Rekaman pemogokan itu kemudian didistribusikan oleh misi Israel, bersama dengan pernyataan dari Erdogan di mana utusan itu berkata, "Erdogan terus mengeluarkan pernyataan anti-Semitisme dan palsu terhadap Israel. Penting bagi dunia untuk mengakui standar moral ganda yang telah dia jalani selama bertahun-tahun."

Turki, yang pernah menjadi sekutu kuat Muslim Israel, kini telah menjadi musuh geopolitik Israel di bawah Erdogan.

Tetapi meskipun hubungan Israel-Turki berada di titik nadir, Ankara terus mempertahankan hubungan terbuka dengan negara Yahudi tersebut, termasuk di bidang pariwisata dan perdagangan.

Erdogan dalam pidatonya memuji rakyat Palestina karena "menentang kebijakan penindasan, kekerasan, dan intimidasi Israel selama lebih dari setengah abad".

Pemimpin Turki itu menolak rencana perdamaian Trump sebagai "dokumen penyerahan" dan bersumpah untuk tidak mendukung proposal perdamaian apa pun yang juga tidak didukung oleh Ramallah.

"Konflik Palestina hanya dapat diselesaikan dengan pembentukan negara Palestina yang merdeka, berdaulat, dan bersebelahan berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya," katanya.

Erdogan melanjutkan dengan menyerukan dialog "tulus" untuk menyelesaikan perselisihan yang berkembang dengan Yunani mengenai pencarian energi Ankara di Mediterania timur, menolak setiap "pelecehan" oleh Barat atas masalah tersebut.

Inilah Transkrip Lengkap Pidato Presiden Jokowi (dikutip tribunnews.com)

Yang Mulia Presiden Majelis Umum PBB,

Yang Mulia Sekretaris Jenderal PBB,

Yang Mulia Para Pemimpin Negara Anggota PBB

Tahun ini, genap 75 tahun usia PBB. 75 tahun yang lalu PBB dibentuk agar perang besar, Perang Dunia II, tidak terulang kembali. 75 tahun yang lalu PBB dibentuk agar dunia bisa lebih damai, stabil, dan sejahtera. Karena perang tidak akan menguntungkan siapapun.

Tidak ada artinya sebuah kemenangan dirayakan di tengah kehancuran. Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi terbesar di tengah dunia yang tenggelam.

Pimpinan Sidang yang terhormat,

Di usia PBB yang ke-75 ini, kita patut bertanya, apakah dunia yang kita impikan tersebut sudah tercapai? Saya kira jawaban kita akan sama, Belum.

Konflik masih terjadi di berbagai belahan dunia. Kemiskinan dan bahkan kelaparan masih terus dirasakan.

Prinsip-prinsip Piagam PBB dan hukum internasional kerap tidak diindahkan, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah.

Kita semua prihatin melihat situasi ini. Keprihatinan kita menjadi semakin besar di saat pandemi covid-19 ini.

Di saat seharusnya kita semua bersatu padu, bekerja sama melawan pandemi yang justru kita lihat adalah masih terjadinya perpecahan dan rivalitas yang semakin menajam.

Padahal kita seharusnya bersatu padu, selalu menggunakan pendekatan win-win, pola hubungan antar negara yang saling menguntungkan.

Kita tahu dampak pandemi ini sangat luar biasa, baik dari sisi kesehatan, maupun sosial ekonomi. Kita juga paham virus ini tidak mengenal batas negara. No one is safe until everyone is.

Jika perpecahan dan rivalitas terus terjadi, maka saya khawatir pijakan bagi stabilitas dan perdamaian yang lestari akan goyah atau bahkan akan sirna. Dunia yang damai, stabil dan sejahtera semakin sulit diwujudkan.

Yang Mulia

Tahun ini Indonesia juga merayakan kemerdekaan yang ke-75 tahun. Sudah menjadi tekad kami, Indonesia terus berkontribusi bagi perdamaian dunia sesuai amanah konstitusi.

Indonesia akan terus memainkan peran sebagai bridge builder, sebagai bagian dari solusi.

Secara konsisten, komitmen ini terus dijalankan Indonesia, termasuk saat Indonesia duduk sebagai anggota Dewan Keamanan PBB. Spirit kerja sama akan selalu dikedepankan Indonesia, spirit yang menguntungkan semua pihak tanpa meninggalkan satu negara pun. No one, no country should be left behind.

Persamaan derajat inilah yang ditekankan oleh Bapak Bangsa Indonesia Soekarno (Bung Karno) saat Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 yang menghasilkan Dasa Sila Bandung.

Hingga kini prinsip Dasa Sila Bandung masih sangat relevan termasuk penyelesaian perselisihan secara damai pemajuan kerja sama dan penghormatan terhadap hukum internasional.

Palestina adalah satu-satunya negara yang hadir di Konperensi Bandung yang sampai sekarang belum menikmati kemerdekaannya.

Indonesia terus konsisten memberikan dukungan bagi Palestina untuk mendapatkan hak-haknya. Di kawasan kami sendiri, bersama negara ASEAN lainnya, Indonesia akan terus menjaga Asia Tenggara… sebagai kawasan yang damai, stabil, dan sejahtera.

Pada hari jadinya yang ke-53, 8 Agustus 2020 yang lalu ASEAN kembali menegaskan komitmennya untuk terus menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.

Spirit kerja sama dan perdamaian inilah yang kemudian didorong Indonesia ke kawasan yang lebih luas kawasan Indo-Pasifik melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pacific.

Yang Mulia

Melihat situasi dunia saat ini, ijinkan saya menyampaikan beberapa pemikiran:

Pertama, PBB harus senantiasa berbenah diri melakukan reformasi, revitalisasi dan efisiensi. PBB harus dapat membuktikan bahwa multilateralism delivers termasuk pada saat terjadinya krisis.

PBB harus lebih responsif dan efektif dalam menyelesaikan berbagai tantangan global. Dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat PBB agar PBB tetap relevan dan semakin kontributif sejalan dengan tantangan zaman.

PBB bukanlah sekedar sebuah gedung di kota New York tapi sebuah cita-cita dan komitmen bersama seluruh bangsa untuk mencapai perdamaian dunia dan kesejahteraan bagi generasi penerus.

Indonesia memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan terhadap PBB dan multilateralisme. Multilateralisme adalah satu-satunya jalan yang dapat memberikan kesetaraan.

Kedua, collective global leadership harus diperkuat. Kita paham bahwa dalam hubungan antar negara, dalam hubungan internasional, setiap negara selalu memperjuangkan kepentingan nasionalnya.

Namun jangan lupa, kita semua memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi menjadi bagian dari solusi bagi perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan dunia.

Di sinilah dituntut peran PBB untuk memperkokoh collective global leadership. Dunia membutuhkan spirit kolaborasi dan kepemimpinan global yang lebih kuat untuk mewujudkan dunia yang lebih baik.

Ketiga, kerja sama dalam penanganan COVID-19 harus kita perkuat, baik dari sisi kesehatan, maupun dampak sosial ekonominya. Vaksin akan menjadi game changer dalam perang melawan pandemi.

Kita harus bekerja sama untuk memastikan, bahwa semua negara mendapatkan akses setara terhadap vaksin yang aman dan dengan harga terjangkau. Untuk jangka panjang tata kelola ketahanan kesehatan dunia harus lebih diperkuat.

Ketahanan kesehatan dunia yang berbasis pada ketahanan kesehatan nasional akan menjadi penentu masa depan dunia. Dari sisi ekonomi. reaktivasi kegiatan ekonomi secara bertahap harus mulai dilakukan dengan melakukan koreksi terhadap kelemahan-kelemahan global supply chain yang ada saat ini.

Aktivasi ekonomi harus memprioritaskan kesehatan warga dunia. Dunia yang sehat dunia yang produktif… harus menjadi prioritas kita.

Semua itu dapat tercapai jika semua bekerja sama bekerja sama dan bekerja sama.

Mari kita memperkuat komitmen dan konsisten menjalankan komitmen untuk selalu bekerja sama. Demikian Terima kasih.