Hujan Mulai Turun, BPBD Imbau Warga Cermati Alat Deteksi Dini Tanah Longsor

Editor: Revol Afkar
Wartawan: Agus Salimullah
Senin, 28 September 2020 14:50 WIB

Alat deteksi dini tanah longsor yang terpasang di Desa Sumberbrantas, dan peta titik rawan longsor di Kota Batu.

KOTA BATU, BANGSAONLINE.com - Hujan yang sudah kerap turun di Kota Batu mulai diantisipasi BPBD dengan mengintensifkan pengawasan di sejumlah wilayah yang rawan longsor. Bahkan, lembaga penanggulangan bencana ini mengingatkan warga untuk mencermati peringatan dini tanah longsor yang sudah terpasang di sejumlah titik.

"Bagi daerah rawan longsor yang di bawahnya ada pemukiman atau bangunan, BPBD sudah memasang alat peringatan dini tanah longsor. Untuk sementara masih terpasang di Desa Sumberbrantas dan Tulungrejo. Saya berharap warga bisa mencermati peringatan dini dari alat tersebut," ujar Agung Sedayu, Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, didampingi Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Gatot Noegroho, Senin (28/9) siang.

Menurut Agung Sedayu, nantinya alat peringatan dini tanah longsor itu juga akan dipasang di lokasi lain. Saat ini BPBD sudah mengusulkan pengadaan alat ini pada tahun anggaran 2021 mendatang.

"Sebenarnya tahun 2020 ini sudah dianggarkan. Namun, karena anggaran kami dialihkan ke refocusing untuk penanganan Covid-19, maka insyaallah kami usulkan lagi tahun 2021," terangnya.

Ia mengatakan, keberadaan alat deteksi dini tanah longsor tersebut sangat penting. Sebab, alat itu akan membunyikan sirine jika sewaktu-waktu ada retakan tanah, walaupun keretakannya hanya 1-3 sentimeter.

"Alat ini akan sangat membantu warga untuk siaga jika sewaktu-waktu ada longsor," lanjutnya.

Disinggung wilayah lainnya yang rawan longsor selain Sumberbrantas dan Tulungrejo, Agung mengungkapkan ada Desa Oro-oro Ombo, Songgokerto, Sumberejo, dan Temas. Sedangkan di wilayah Bumiaji terdapat di Giripurno, Gunungsari, dan Sumbergondo.

Secara keseluruhan, daerah yang memiliki kerawanan longsor yang tinggi mencapai 4.719,61 hektare. Sedangkan yang rawan sedang mencapai 7.492,06 hektare, dan rawan rendah seluas 7.705,01 hektar.

Guna meminimalisir kerawanan longsor ini, beberapa waktu lalu telah ditanam bibit vetiver di sejumlah lokasi, antara lain di wilayah Temas, Sumberejo, Gunungsari, Oro-oro Ombo, dan di Junrejo.

"Namun, kegiatan penanaman vetiver terhenti sementara karena fokus penanganan covid-19," pungkasnya. (asa/rev)