Perketat Protkes Lewat Cluster Control New Normal, Alarm Berbunyi Otomatis Jika Tak Jaga Jarak

Editor: Revol Afkar
Wartawan: Agus Salimullah
Minggu, 18 Oktober 2020 17:06 WIB

Wali Kota Batu Hj. Dewanti Rumpoko saat mencoba alat cluster control new normal.

KOTA BATU, BANGSAONLINE.com - Teknologi canggih pendeteksi suhu yang bernama Cluster Control New Normal terpasang di Balai Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Perangkat elektronik anti Covid-19 ini diciptakan oleh Among Tani Foundation bekerja sama dengan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Perangkat elektronik karya anak bangsa ini dibuat untuk mengukur suhu termal tubuh, merekamnya, serta mengingatkan kepada semua orang agar menjaga jarak. Wali Kota Batu, Dra. Hj. Dewanti Rumpoko, M.Si. bersama Wakil Wali Kota Batu, Ir. Punjul Santoso, S.H., M.M. telah mencoba perangkat ini, Sabtu (17/10) kemarin.

Perangkat ini dipasang di depan ruang pelayanan Balai Desa Pandanrejo. Warga yang membutuhkan pelayanan diharuskan mengukur terlebih dahulu suhu tubuhnya di sebuah perangkat yang diberi nama Cluster Control New Normal.

Alat ini tidak hanya bisa mengukur suhu badan seseorang, namun bisa juga mengidentifikasi apakah orang tersebut warga Desa Pandanrejo atau bukan, karena perangkat ini terkoneksi dengan data kependudukan.

Selain itu kelebihan alat ini adalah mampu merekam histori foto, suhu badan, hingga beberapa keterangan lainnya seperti jam perekaman. Jika seseorang tubuhnya panas, maka bisa dideteksi lebih awal sehingga tidak perlu lagi masuk ke ruangan pelayanan.

Sementara di dalam ruangan pelayanan terdapat sebuah alat yang diberi nama deteksi social distancing. Alat ini akan berbunyi secara otomatis untuk mengingatkan agar kita menjaga jarak.

“Kurang satu meter berwarna merah dengan alarm berbunyi, satu meter berwarna oranye dengan alarm berbunyi, lebih dari satu meter berwarna hijau atau aman. Lewat alat ini, kita ingin memberitahukan agar kita selalu menjaga jarak,” ujar Dosen Politeknik Eletronik Negeri Surabaya, Jauhari Ahmad Nurhasim.

Alat yang dipasang ini masih berbentuk prototype dan belum diproduksi massal. Menurut Jauhari alat ini sangat berguna untuk dipasang di Kota Batu karena banyak kedatangan orang luar daerah. Adapun proses pembuatan alat ini memakan waktu 2,5 bulan.

“Idenya dari teman-teman Among Tani Foundation, kemudian kita terjemahkan dalam bentuk perangkat,” ujar Jauhari.

Sementara itu, Wali Kota Batu mengapresiasi perangkat elektronik anti Covid-19 ini. “Tapi perlu kita evaluasi seminggu. Pengadaan alat ini menggunakan CSR Among Tani Foundation. Kalau memang bagus dan punya manfaat untuk masyarakat, kita akan back up. Tapi kita akan lihat terlebih dahulu bagaimana evaluasinya,” ujar wali kota. (asa/rev)