Jhonny Thio Doran Membangun Sukses dari Sebuah Kamar Kos

Editor: Yudi Arianto
Wartawan: M Didi Rosadi
Selasa, 01 Desember 2020 22:30 WIB

Jhonny Thio Doran, CEO Doran Group & JETE Indonesia. foto: istimewa

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Jhonny Thio Doran meraih kesuksesan di usia muda. Namun siapa sangka, jika pengusaha Wearable Gadget & Accessories merek-merek ternama ini sempat melewati masa-masa perjuangan di sebuah kamar kos berukuran 1,5 x 4 meter.

Dijumpai di ruang kerjanya, Jhonny menceritakan awal mula ia membangun kerajaan bisnis pada tahun 2008 silam. "Saya memulai usaha dari kamar kos-kosan berukuran 1,5 x 4 meter," terang Jhonny, Selasa (1/12/20).

Saat itu, ia berjualan secara online melalui platform Kaskus. Karena terganjal modal, ia memulai dengan menjadi dropshipper jam tangan murah. Selain berjualan jam, Jhonny juga mengerjakan beberapa project pembuatan website dari klien.

Prospek penjualan jam tangan tersebut cukup bagus. Awalnya ia tak memiliki stok sama sekali. Namun, lambat laun terkumpul modal yang dapat digunakan untuk memulai usaha penjualan casing handphone. "Saat itu sangat booming dengan handphone Blackberry," kenang CEO dari Doran Group & JETE Indonesia tersebut.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Pelan tapi pasti. Bisnisnya kian melesat. Kini, Jhonny fokus mengembangkan usaha di bidang Wearable Gadget & Accessories yang membawa brand JETE, Garmin, Samsung Wearable, DJI, Gopro, Sandisk, Logitech.

Ia menyadari tak semudah membalik telapak tangan menggapai kesuksesan. Banyak kisah suka duka saat membuka usaha yang ia geluti saat ini. Mulai kepuasan melihat kinerja tim hingga menerjang masa-masa sulit.

"Sukanya saat melihat tim saya terus bertumbuh, tim yang saya bangun dari awal bergabung dengan perusahaan, terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki banyak pengalaman. Yang paling penting mereka dapat membawa perubahan positif untuk keluarga kecil mereka," imbuh pria kelahiran Samarinda, 18 Juni 1986 tersebut.

Kendati demikian, ia juga sempat melewati masa-masa yang tak mudah. Jhonny menganggap rintangan itu harus ditaklukkan. Tantangan adalah pembelajaran untuk membuatnya lebih berkembang dan terus belajar.

"Jadi hingga saat ini, saya tidak pernah mengingat hal-hal duka yang pernah saya lewati. Untuk apa mengingat hal negatif bila kita bisa mengingat hal yang positif," ujarnya optimistis.

Di sisi lain, banyak pelajaran hidup ia temui dari sekeliling. Bahkan sebuah pengalaman tak terlupakan yang mengantarnya menuju kesuksesan. Perjalanan seorang rekan yang juga pernah menduduki posisi general manager di perusahaan miliknya.

"Totalitas hatinya ada di perusahaan, suka duka selalu bersama saya, tidak pernah mengeluh dan selalu mengerti apa yang hari kita kerjakan bersama," ucap Jhonny.

Namun takdir berkata lain. Pada tahun 2019, temannya tersebut mengidap penyakit dan harus menghadap ke Sang Pencipta.

"Nama beliau adalah Dicky Ibrahim. Beliau sangat berjasa kepada saya dan perusahaan. Tanpa beliau, tidak ada Doran di hari ini," pungkasnya. (mdr/ian)