​H-8 Pilkada 2020, Dhito Blusukan ke Tarokan dan Pare

Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Muji Harjita
Rabu, 02 Desember 2020 11:38 WIB

Dhito saat mengecek pupuk organik hasil pengolahan petani Sumberduren. (foto: MUJI HARJITA/ BANGSAONLINE)

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Mengawali agenda di bulan Desember 2020 atau 8 hari menjelang hari H Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kediri 2020, Pasangan Calon Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana dan Calon Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa mengikuti debat publik terakhir yang digelar di Hotel Insumo, Kota Kediri, Selasa (1/12/2020).

Sementara pada hari ini (Rabu, 2/12/2020), Dhito, demikian sapaan akrab putra Menseskab Pramono Anung itu, melakukan blusukan ke Desa Sumberduren, Kecamatan Tarokan untuk menyapa dan berdialog dengan pelaku UMKM dan petani yang mengolah pupuk organik di Peternakan Sejahtera Lestari.

Saat berdialog dengan perwakilan Karang Taruna Desa Sumberduren, Dhito mengajak karang taruna untuk fokus membantu pemasaran hasil produksi UMKM dan masuk bidang pariwisata, lebih-lebih, Kediri akan punya bandara.

Ketika menyinggung masalah pertanian, Dhito mengatakan bahwa pertanian adalah hal yang penting. "Petani selalu mengeluhkan pupuk. Untuk itu, perlu menggunakan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik adalah salah satu langkah menyikapi kondisi lingkungan yang telah mengalami degradasi akibat eksploitasi yang berlebihan pada alam," katanya.

Dhito menyontohkan dampaknya penggunaan pupuk kimia, bahwa produktivitas pertanian kini semakin merosot dari tahun ke tahun. "Fakta ini harus diberikan pemahaman kepada masyarakat tentang perlunya kembali ke alam (back to nature)," urainya.

Berangkat dari hal inilah, Dhito merilis sebuah gerakan bernama Desa Inovasi Tani Organik yang disingkat DITO. DITO merupakan gerakan sosial untuk mengembalikan marwah aktivitas bercocok tanam yang mengedepankan prinsip ekologi (ramah lingkungan, red).

"Solusinya, kita harus kembali pada penggunaan bahan organik, dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kita," ujar Dhito.

Penggunaan pupuk organik secara mandiri, lanjut Dhito, juga menjadi jawaban atas tingginya biaya produksi pertanian akibat harga pupuk kimia yang melambung.

"Kita tidak meninggalkan pupuk kimia, namun pola mixed farming (kombinasi pupuk kimia dan organik) setidaknya akan mengurangi beban produksi petani. Tapi untuk ke depan penggunaan pupuk kimia harus dikurangi dan harus beralih menggunakan pupuk organik," imbuhnya.

Dhito menerangkan, tim ahli yang saat ini disediakan sudah memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik cair secara mandiri di sejumlah kecamatan, termasuk juga praktik pembuatan bakteri starter EM4 dari bahan yang ada di lingkungan sekitar. Seperti sisa buah-buahan, ikan, ontong (buah), batang pisang, dan susu.

"Dari pelatihan tersebut, diharapkan para petani mampu membuat pupuk organik secara mandiri guna memenuhi kebutuhan di daerah masing-masing," terang Dhito.

Ditambahkan oleh Dhito, masih banyak petani di Kabupaten Kediri yang hidup di bawah garis kemiskinan, jumlahnya mencapai 50.553 KK. Sedangkan jumlah petani perorangan mencapai 81.623 jiwa.

"Ini data resmi dari pemerintah (DTKS) ya, dan saya berharap gerakan DITO ini dapat mengurangi beban petani miskin di Kabupaten Kediri," pungkas Dhito.

Dari Desa Sumberduren, Dhito melanjutkan blusukannya ke kolam pemancingan di Desa Kerep, Tarokan. Dilanjutkan kunjungan ke tokoh masyarakat, H. Mundhofir di Desa Kaliboto, juga di Kecamatan Tarokan.

Untuk agenda sore, Dhito menemui kader PDIP di Kecamatan Pare yang dikemas dengan acara mancing bareng di Desa Tertek, Kecamatan Pare. (uji/zar)