​Kepemimpinan Transformatif Jatim Tahun 2021

Editor: mma
Jumat, 01 Januari 2021 20:43 WIB

Suparto Wijoyo

Oleh: Suparto Wijoyo --- Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

PADA awal 2021 ini seyogianya warga mendapati “menu istimewa” tentang Jatim di 2021. Sebuah ekspose sisik melik dari yang potensial hingga yang faktual produkkepemimpinan yang inovatif dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Semua dapat disorot on the track yang secara kontemplatif berotasi di ruang ekonomi yang inklusif, kesejahteraan yang meningkat, dan reformasi birokrasi berbasis IT dalam spirit mengatasi pandemi Covid-19. Para titik ini Jatim telah membuktikan bekerja fokus tanpa larut hingar-bingar politik nasional. Gubernur tetap tersadar sebagaimana ungkapan sufistik Jan-Fishan:

Kau bisa mengikuti suatu arus

Pastikan bahwa arus itu menuju Samudera

Tetapi jangan kacaukan arus dengan Samudera

OPOP adalah kreasi-inovasi keumatan.

Rakyat Jatim kini mengenal istilah baru produk kepemimpinan yang transformatif, yaitu mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Produk-produk pesantren diunggah menjadi inti kebangunan perekonomian umat. One Pesantren One Product (OPOP) merupakan ide mendasar yang memiliki daya ungkit kehidupan rakyat secara fundamental di tahun 2021. Basis pesantren diubah dari institusi teologis, keagamaan, dan pendidikan menjadi lembaga ekonomi yang mandiri. Transformasi fungsi pesantren “digeneratori” oleh kebijakan Gubernur. Kemandirian dan kebaruan daya hidup pesantren bagi pembangunan di Jatim adalah sesuatu banget melalui OPOP, begitu mengikuti bahasa milenial.

Dalam OPOP terdapat koneksitas peningkatan basis Produksi UMKM di mana peran menonjol dari Pemerintah Provinsi dimulai dari perencanaan yang menyiapkan database UMKM melalui sensus UMKM ala pesantren. Pemerintah hadir untuk mendesain agar produk UMKM memiliki daya saing dalam menghadapi pasar bebas dengan pelaku utama pesantren, santri, dan masyarakat. Pada kegiatan produksi niscaya dicapai paradigma inklusif (inclusive growth mindset) serta dibarengi dengan inovasi kebijakan dan strategi (policy & strategy innovation) maupun dengan menempatkan partisipasi masyarakat sebagai pengarusutamaan (participatory based development): meningkatkan output pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, pada saatnya pasca pandemi Covid-19.

OPOP dapat disuarakan dalam konteks konsepsi Jatimnomics ala Pakde Karwo dulu itu sebagai model Indonesia Incorporated dengan beberapa ciri yang tidak terpisahkan, yaitu: (a) terdapat pola keberlanjutan dan perubahan kinerja (sustainability and change), (b) output bersifat untuk semua/Indonesia, tidak hanya untuk Jatim (for all), (c) pada setiap aktivitas, tidak hanya sekedar memfungsikan kebijakan fiskal semata, namun lebih kepada peran mengkonstruksi peran pemerintah dalam pembangunan ekonomi (by design), (d) output berupa pertumbuhan tidak hanya sekedar mencapai percepatan, namun lebih kepada dampak di pengurangan kemiskinan, pengurangan disparitas serta pengurangan pengangguran dan peningkatan IPM (inclusive growth mindset), (e) pada setiap aspek selalu muncul inovasi kebijakan dan strategi dan tidak sekedar-nya atau “as usual” policy and strategy innovation, (f) dalam membangun UMKM, lebih bersifat partisipatif (participatory based development), (g) peran Pemerintah Provinsi Jatim dalam mengkonstruksi strategi ke tiga aspek kegiatan utama ekonomi baik produksi segmen UMKM, pembiayaan yang kompetitif, maupun pemasaran.

Dengan peta jalan ini sesungguhnya, kita warga Jatim amat beruntung memiliki kesinambungan sosok kepemimpinan yang tranformatif dari Pakde Karwo ke Bunda Khofifah. Mereka berupaya memberikan apa yang diamanatkan secara demokratis oleh rakyat. Semangat ini senafas dengan ungkapan puitis Sastrawan Freiligrath yang acapkali dirujuk Bung Karno dalam berpidato: “man totet de Geist nicht” yang arti bebasnya:semangat tidak bisa dibunuh”. Bunda Khofifah telah membuktikan diri dengan membuat kebijakan publik (public-policies) agar pemerintahannya bermanfaat bagi rakyat.

Kepemimpinan Matahari-Rembulan-Bumi

Dengan kepemimpinan transformatif itu bagi saya dapat terkonstruksi segi tiga pertautan antara demokrasi, birokrasi, dan rakyat secara monumental, yang terbaca dalam sistem semesta. Demokrasi merupakan “matahari” yang memancarkan sinarnya untuk dituang dalam wadah birokrasi yang laksana “rembulan” untuk dipantulkan kembali guna menerangi rakyat sebagai “bumi”. Tentu saja bumi (“umat”) harus diolah (bukan dijarah) dengan kelembutan rembulan (“birokrasi”) yang bertugas memantulkan tanpa henti cahaya matahari (“demokrasi”), dengan tetap memperhatikan garis edar tata surya yang bertaburan bintang-bintang (sebagai pemandu) yang berupa norma-norma bernegara. Hubungan cahaya mencahayai atau pantul memantulkan energi matahari ke rembulan menuju bumi harus dibaca secara siklikal, dan bukan vertikal maupun horisontal agar tidak terjadi penggerhanaan yang dapat menimbulkan keriuhan rakyat.

Disinilah sejatinya tertambat bahwa rakyat yang menyediakan kesuburan bumi (daulatnya) sudah seyogianya ditata kelola (“good governance”) rembulan birokrasi yang mendapatkan percikan cahaya (kuasa) melalui mekanisme demokrasi (pencahayaan matahari). Meski dalam skala relativisme dapat dikatakan bahwa rakyat sejatinya adalah sumber dari segala sumber kuasa birokrasi yang mentrasformasikan daulatnya melalui “madrasah” demokrasi. Spektrum fundamental ini membawa serta kepada ruang bahwa rakyat adalah Sang Daulat yang semestinya mendapatkan pelayanan terbaik dari para birokrat yang sekadar menerima limpahan welas asihnya rakyat dengan jalan demokrasi.

Hal itu merupakan penanda kesadaran untuk selalu ingat pada asal usul kuasanya, sumber daulatnya. Ibarat air yang mengalir di sungai pada lanjutan kisahnya harus tetap berlabuh di muara luas yang bernama lautan. Terhadap hal ini ada ungkapan puitis yang dilansir Proklamator Republik Indonesia, Soekarno:

Door de zee op te zoeken,

is de rivier trouw aan haar bron.

Dengan mengalirnya ke lautan,

sungai setia kepada sumbernya.

Saya menyaksikan bahwa kepemimpinan Jatim telah memberikan daya juang pelaksanaan urusan pemerintahan yang dibangun secara demokratis dan mengedepankan fungsi sebagai pelayan rakyat yang baik (”good-services”). Dalam lingkup inilah terbaca kuat tekad melakukan administrative reform agar seluruh jajaran birokrasi pemerintahan mampu menjadi pelayan rakyat yang terbaik. Rajutan tekad demikian ini membutuhkan perhatian serius dari seluruh stakeholders untuk bersumbangsih atas upaya para kepala daerah melakukan reformasi administratif dalam tataran birokrasi pemerintahan.

Catatan ini pun diharapkan menjadi kepedulian birokratik yang berbasis kematangan akademik dengan dimensi sosio-budaya untuk peningkatan kinerja pemerintahan dalam panduan norma kenegaraan. Kinerja birokrasi di Jatim mutlak terus ditingkatkan dengan memobilisasi seluruh jiwa raga bagi kebaikan negeri ini. Apa yang telah dilakukan dan diraih pemimpin daerah ini dapat dijadikan kaca pelihat di samping kaca benggala yang memantulkan kekuatan baru berkelanjutan dalam melakukan inovasi pelayanan yang penuh dedikasi.

Berbagai gebrakan Bunda Khofifah adalah keterpanggilan mandat demokrasi bagi perjalanan berikutnya, untuk memberi yang “mereka punya” dengan melakukan padatan-padatan kreasi demi terwujudnya birokrasi yang menyelam dalam kolam “amanat penderitaan rakyat”. Ungkapan saya ini semakna sebagai bingkai mozaik jiwa-jiwa pepohonan yang harus berbuah. Diungkapkan oleh Syeikh Musliuddin Sa’di Shirazi dalam karya sastranya Bustan:

Setiap orang yang tidak memiliki kenangan yang ditinggalkan

Pohon keberadaannya tidak akan menghasilkan buah

...

Dan setiap orang mendapatkan apa yang dulu ia semaikan

Selamat Tahun Baru 2021.