​Petani Porang Meluas, Apa Tak Bahaya? Dahlan Iskan: Pemerintah Jangan Bantu, Bikin Repot

Editor: mma
Selasa, 23 Februari 2021 07:31 WIB

Dahlan Iskan. Foto: ist

SURABAYA, .com – Wartawan produktif Dahlan Iskan hari ini menulis tentang . Tanaman yang lagi jadi idola para petani di berbagai daerah. Padahal, tulis Dahlan Iskan, tujuh tahun lalu para petani sangat sulit diajak menanam .

“Sampai hari ini harga masih terus tinggi. Bisa Rp 8.000/kg. Padahal biaya tanam dan rawatnya sangat rendah. Hanya sekitar Rp 2.000/kg. Maka banyak petani sangat menikmatinya,” tulis mantan menteri BUMN yang dikenal sebagai wartawan cerdas itu.

Karena itu, Dahlan Iskan berharap pemerintah tak pernah membantu petani . Agar mereka tetap mandiri. Sebab jika dibantu malah ruwet. “Ujung-ujungnya justru bikin repot,” tulis Dahlan Iskam.

Loh? Lalu bagaimana masa depannya? Silakan baca tulisan menarik itu yang hari ini, Selasa (23/2/2021) dimuat Disway dan HARIAN BANGSA. .COM menurunkan tulisan tersebut seca lengkap. Selamat membaca:

PETANI kini merambah ke mana-mana. Pun sampai ke Riau. Juga Sumbawa. Tidak lagi hanya di Jateng dan Jatim.

Di Gunung Kidul merajalela. Di Ponorogo demikian juga. Pun Pantura seperti Tegal dan Batang.

"Apakah ini tidak berbahaya? Apakah harga tidak akan jatuh?" tanya seorang peserta seminar Zoom yang diadakan Paguyuban Petani Porang Nasional kemarin.

Saya tidak bisa menjawab. Saya sendiri terheran-heran. Tujuh tahun lalu, ketika saya ke Purwodadi dan Blora, masih sulit meyakinkan petani untuk menanam .

Tapi hasil menanam memang meyakinkan. Harga pun masih terus naik –sampai saya sendiri miris. Harga yang terlalu baik justru tidak baik. Bisa jadi, suatu saat akan berubah jadi bencana: ketika benih sudah ikut naik, jangan sampai harga tiba-tiba jatuh. Petani bisa rugi.

Sampai hari ini harga masih terus tinggi. Bisa Rp 8.000/kg. Padahal biaya tanam dan rawatnya sangat rendah. Hanya sekitar Rp 2.000/kg. Maka banyak petani sangat menikmatinya. Lalu, tanpa dikampanyekan pun, petani tergerak sendiri untuk tanam .

Yang jelas Indonesia masih impor . Sampai sekarang. Impornya masih 100 persen pula.

Glukomanan atau konjak, bahan bakunya harus dari . Kita hanya bisa ekspor dalam bentuk umbi. Belakangan mulai berdiri beberapa pabrik tepung . Tepung itu mereka ekspor. Lumayan. Maju selangkah. Tepung itulah yang jadi bahan baku pabrik di luar negeri.

Petani adalah petani yang paling mandiri. nya tanpa subsidi. Pasarnya bebas. Penyuluhannya dari sesama petani.

Saya bangga dengan itu. Mereka tidak ingin pemerintah membantu –ujung-ujungnya justru bisa bikin repot. Dan bikin ketergantungan. "Lebih baik seperti ini. Jangan cengeng," kata saya pada mereka. "Jangan merepotkan pemerintah. Nanti justru bikin kita repot," kata saya lagi. Dalam banyak hal pemerintah itu tidak perlu membantu. Yang penting jangan ngrusuhi –jangan mengganggu.

Tidak banyak komoditas yang bisa memberikan imbal hasil sebaik . Tebu pasti kalah. Apalagi padi. Jagung. Kedelai.

Tapi begitu meluas petani yang menanam sekarang ini. Pesantren kami di Pangandaran pun saya minta tanam . Di pekarangannya yang luas itu.

Begitu banyak makanan yang tergantung pada . Kue atau minuman jelly pasti impor . Makanan yang memerlukan kekenyalan pasti mengandung . Termasuk bulatan-bulatan dalam minuman boba yang lagi ngetop sekarang.

Bagaimana masa depan ? Apakah akan menghadapi kelebihan pasok?

Saya pun menghubungi relasi lama saya. Hamzah Muhammad Ba'abud. Yang 7 tahun lalu saya gelari anak muda andalan. Yang tinggal di Lawang, Malang. Yang mampu menciptakan mesin pengolah rumput laut. Agar kita tidak lagi impor karagenan 100 persen. Yang bahan bakunya rumput laut.

Waktu itu kita hanya bisa ekspor rumput laut kering. Lalu impor karagenan.

Hamzah tidak omong kosong. Ia membuat pabrik karagenan di Pasuruan. Ia olah rumput laut kering menjadi tepung karagenan. Yakni bahan baku makanan dan pasta gigi dan banyak lagi.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video