​Di Depan 360 Wisudawan IAI Al-Khoziny, Kiai Asep: Pilih Mana, Harta, Tahta, atau Ilmu

Editor: MMA
Minggu, 11 April 2021 12:57 WIB

Rektor Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. saat menyampaikan sambutan pada acara wisuda ke-23 Institut Agama Islam (IAI) Al-Khoziny Buduran Sidoarjo, Ahad (11/4/2021). Foto: MMA/ BANGSAONLINE.COM

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., ternyata tidak hanya sukses mendirikan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto. Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu juga sukses mengembangkan Institut Agama Islam (IAI) Al-Khoziny Buduran Sidoarjo Jawa Timur.

Memang, banyak yang belum tahu. Di sela-sela kesibukannya sebagai pengasuh Ponpes Amanatul Ummah dan Ketua Umum PP Pergunu, ternyata Kiai Asep masih menjabat sebagai Rektor IAI Al-Khoziny.

“Mulai dulu gak diganti-ganti,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim sembari tersenyum kepada BANGSAONLINE.com. “Saya pernah mau mengundurkan diri, tapi gak boleh,” katanya sembari tertawa.

Sejarah lembaga pendidikan Al-Khoziny memang panjang. Namun di tangan Kiai Asep inilah lembaga pendidikan yang tak terpisahkan dari Pondok Pesantren Buduran itu maju pesat.

Menurut Kiai Asep, kini al-Khoziny tidak hanya berkembang secara kualitas, tapi juga jumlah mahasiswa dan aset. “Saya terus membeli tanah untuk pengembangan,” kata Kiai Asep yang memang dikenal sebagai praktisi pendidikan bertangan dingin.

Hari ini, IAI Al-Khoziny melakukan wisuda ke-23 pada 360 mahasiswa-mahasiswi, baik S1 maupun S2. “S1 sebanyak 225 wisudawan, sedang S2 berjumlah 135 wisudawan,” kata Dr Zakaria Muhtadi, Direktur Pascasarjana IAI Al-Khoziny kepada BANGSAONLINE.com di Hotel Utami Sidoarjo, Ahad (11/4/2021).

Dalam sambutannya sebagai Rektor IAI Al-Khoziny, Kiai Asep minta para wisudawan jangan berhenti menuntut ilmu. “Yang S1 melanjutkan ke S2. Melanjutkan S2 di Al-Khoziny. Yang S2 melanjutkan ke S3. Tapi di Al-Khoziny belum ada S3,” kata Kiai Asep. 

Kiai miliarder tapi dermawan itu lalu mengutip ayat al-Quran yang menceritakan Nabi Sulaiman. Menurut Kiai Asep, Nabi Sulaiman disuruh memilih tiga hal. Yaitu harta, tahta, dan ilmu. Tapi Nabi Sulaiman memilih ilmu.

Ternyata dengan memilih ilmu, Nabi Sulaiman justru mendapat dua hal yang semula tidak dipilih. Yaitu harta dan tahta atau kekuasaan. Jadi kunci semuanya adalah ilmu.

“Tapi harus jujur. Ilmu harus jujur atas keilmuannya,” kata Kiai Asep. Sebab tak semua orang punya ilmu jujur. Ia lalu mencontohkan kasus Vaksin AstraZeneca. “Baru-baru ini ada sarasehan tentang Vaksin AstraZeneca di Unesa. Nama saya ada, foto saya ditampilkan. Tapi saya, jangankan diundang, diberi tahu saja tidak,” kata Kiai Asep sembari mengatakan bahwa dirinya terkenal sebagai orang yang mengharamkan Vaksin AstraZaneca.

“Padahal dia itu santri saya dan jamaah saya. Saya sebut dia santri saya karena pernah mengaji kepada saya,” kata Kiai Asep. (mma)