Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, Pemangku Ponpes Al-Masyhur K.H. Masyhuri Abdulloh Wafat

Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Ahmad Fuad
Senin, 26 April 2021 12:11 WIB

K.H. Masyhuri Abdulloh, Pemangku Ponpes Al-Masyhur, Regek, Sambirejo, Rejoso, Pasuruan, wafat di kediamannya, Ahad (25/4/2021). (foto: ist)

PASURUAN, BANGSAONLINE.com - K.H. Masyhuri Abdulloh, Pemangku Ponpes Al-Masyhur, Regek, Sambirejo, Kecamatan Rejoso, Pasuruan, wafat di kediamannya, Ahad (25/4/2021). Kiai Huri, sapaan akrab almarhum, sebelumnya sudah mengidap penyakit stroke bertahun-tahun.

Hal ini disampaikan oleh salah satu Alumnus Ponpes Al-Masyhur, Muhamad Hasyim. "Yai Huri adek omor Cak, sakek stroke (Kiai Huri wafat karena stroke)," jelas Hasyim.

Dia menjelaskan bahwa pemakaman akan dilaksanakan pada hari ini (Senin, 26/4/2021) pukul 11.00 WIB, di samping Masjid Baiturrohman, Regek, atau halaman Ponpes Al-Masyhur.

Sementara itu, Kiai Zainul Arifin, salah satu saudara sepupu almarhum Kiai Huri menyampaikan bahwa di masa hidupnya, almarhum dikenal sangat dermawan. Kiai Zainul Arifin lalu menceritakan pengalamannya saat diajak Kiai Huri mendatangi acara pernikahan salah satu saudaranya di Jember.

Berangkat dari rumahnya, Kiai Huri saat tidak punya uang sama sekali. Saat perjalanan, ia mengarahkan sopirnya untuk mampir ke SPBU untuk mengisi bensin. Karena tidak punya uang, Kiai Huri berniat utang dahulu ke SPBU.

"Namun sesampai di SPBU, ternyata banyak orang bersalaman ke Kiai Huri sekalian salam templek, hingga saku bajunya penuh dengan amplopan berisi uang. Niat tadi ke pom bensin mau utang akhirnya gak jadi," kata Kiai Zainul Arifin.

Setelah itu, Kiai Huri melanjutkan perjalanannya dengan mampir terlebih dahulu ke PO. AKAS (bus angkutan umum) di Probolinggo. Setiba di sana, Kiai Huri langsung menemui bos pemilik usaha tersebut. Kiai Huri meminta merpati yang paling bagus kepada bos itu, dan merpati tersebut lalu dijual oleh Kiai Huri.

"Kalau gak salah merpati itu laku empat juta rupiah, total uang kira-kira semua yang dipegang Kiai Huri enam jutaan rupiah lebih dengan yang diamplopi orang-orang tadi," jelas Kiai Zein.

Kemudian, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Jember. Setiba di Jember, uang itu diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, tak lupa pula kepada sohibul hajat, hingga uang jutaan rupiah tersebut tersisa lima puluh ribu rupiah yang kemudian diberikan ke Kiai Zainul Arifin.

"Kiai Huri bilang kepada saya, bahwa hakikat uang itu dari Allah, kembalinya juga kepada Allah. Itulah orang yang benar-benar mengamalkan ilmu hakikat, tidak memikirkan kehidupan duniawi. Beda dengan kita, kalau dikasih uang ya disimpan sendiri," pungkas Kiai Zein. (afa/zar)