Wabup Bu Min Lepas Ekspor Sarung Tenun Wedani Cerme ke Timur Tengah

Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: M. Syuhud Almanfaluty
Selasa, 04 Mei 2021 16:07 WIB

Wabup Bu Min ketika mengunjungi sentra sarung tenun Wedani dan melepas ekspor sarung tenun Wedani, Cerme ke Timur Tengah. (foto: ist)

GRESIK, BANGSAONLINE.com - Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah (Bu Min) menandai pelepasan ekspor sarung tenun dari Desa Wedani, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik ke Timur Tengah dengan pemecahan kendil pada kendaraan pengangkut, Selasa (4/5/2021).

"Semoga dengan ekspor sarung Wedani kali ini dapat membuka keran ekspor semakin besar dan pada akhirnya dapat menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Kami sangat mendukung agar ekspor sarung ini bisa mendongkrak perekonomian masyarakat," harap Wabup Bu Min.

Diakui Bu Min, sejak masa pandemi ini perekonomian masyarakat sempat terpuruk. Karenanya, dia berharap UMKM sarung Desa Wedani bisa mencari terobosan. "Kami tahu, kualitas sarung produksi masyarakat Wedani ini sangat bagus. Saya sudah melihat proses pembuatannya. Hasilnya sungguh sangat luar biasa," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Gresik Bier Budy Kismulyanto menyatakan bahwa pengiriman ekspor kali ini bukan yang pertama, karena menurutnya pada awal Januari 2021 lalu sarung dari Wedani sudah melakukan ekspor.

"Menurut catatan saya, pada Januari lalu kami sudah pernah memfasilitasi ekspor sarung dari Wedani ke beberapa negara Timur Tengah. Kami berharap ekspor kedua kali ini akan semakin membuka pasar ekspor baru dan sarung dari Wedani, Cerme semakin dikenal di mancanegara," ucap Bier mendampingi Wabup Bu Min.

Pada kesempatan tersebut, salah satu anggota tim asesmen dari Jakarta yaitu CEO PT Kakean Primanda Indonesia Achmad Nur Hasyim Hamada juga ikut bersama-sama melepas ekspor sarung dari Wedani ke Dubai, Jeddah, Brunei Darussalam, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab.

Achmad Nur Hasyim Hamada menyatakan bahwa Gresik sudah terkenal dengan hasil tenun songket sejak zaman dahulu. Menurutnya, produksi tenun songket hasilnya lebih menguntungkan secara ekonomis karena harganya bisa mencapai puluhan juta.

"Hasil tenun songket Gresik kami temukan pada museum di Belanda dan tertulis pada sejarah tenun dan tekstil. Tapi sejak seratus tahun terakhir songket Gresik sudah tidak ada lagi. Kami berharap para pengrajin tenun di Gresik untuk menguri-uri kembali agar tenun songket Gresik bisa berjaya lagi," katanya.

Turut hadir dalam acara tersebut, yakni Ketua DPRD Gresik Much. Abdul Qodir, Ketua Dekranasda Gresik Nurul Haromaini Ali Akhmad Yani, Kadiskoperindag Agus Budiyono, dan Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur. (hud/zar)