Salat Malam, Ulama-Tokoh Jatim Cari Lailatul Qadar, juga Doakan Putri Ini Jadi Pemimpin Nasional

Editor: mma
Selasa, 11 Mei 2021 10:46 WIB

Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto saat memimpin istighatsah di kediaman Ning Imah di kawasan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Senin (10/5/2021) malam. foto: mma/ bangsaonline.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Puluhan ulama dan tokoh Jawa Timur kembali melakukan salat malam dan istighatsah di kawasan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, Senin (10/5/2021) malam. Salat malam dan istighatsah itu dipimpin Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto.

“Kita cari Lailatul Qadar. Ini malam 29 Ramadan. Semoga kita mendapatkan Lailatul Qadar,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim saat menyampaikan sambutan singkat yang kemudian diamini oleh para kiai dan tokoh yang hadir.

Dalam acara salat malam yang diakhiri makan sahur bersama itu hadir Kakanwil Kemenag Jawa Timur Ahmad Zayadi, Kepala Badan Pengelola Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Dr. KH. M. Sujak, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur KH. Drs. M. Roziqi, Ketua Yayasan Khadijah Surabaya Prof. Dr. KH. Ridwan Nasir, Ketua Ikatan Sarjana NU (ISNU) Jawa Timur, Prof Dr Mas’ud Said, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Jamaluddin, mantan ketua umum MUI Jatim KH. Abdusshomad Bukhori, mantan Wakil Bupati Lamongan Kartika Hidayati, dan sejumlah kiai pengasuh pondok pesantren dari seluruh Jawa Timur.

Di depan para ulama dan tokoh itu Kiai Asep menyinggung tentang himbauan Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas agar rakyat Indonesia salat Idul Fitri di rumah masing-masing agar tidak terjadi keurumunan. 

Kiai Asep justru minta agar pemerintah mengizinkan salat Idul Fitri di masjid. Sebab, kata Kiai Asep, banyak masyarakat kita yang belum tahu tata cara salat Idul Fitri. “Kalau dilaksanakan di rumah, banyak orang yang belum tahu kaifiyahnya,” kata kiai yang memiliki 12.000 santri itu.

Karena itu, ia minta pemerintah memberi kebijakan yang memperbolehkan umat Islam menggelar salat Idul Firi di masjid-masjid. “Tapi dengan protokol kesehatan yang ketat,” tegas Kiai Asep yang pada bulan Ramadan ini menghabiskan uang Rp 8 miliar untuk sedekah.

Uang Rp 8 miliar itu diwujudkan dalam bentuk beras 200 ton senilai Rp 2 miliar, sarung Rp 2 miliar, dan uang tunai Rp 4 miliar.

Pernyataan Kiai Asep itu didukung oleh KH. Abdusshomad Bukhori, mantan Ketua Umum MUI Jatim. Menurut dia, masyarakat banyak yang kesulitan untuk melaksanakan salat Idul Fitri sendiri di rumahnya. Terutama mereka yang rumahnya kecil.

“Saya mendapat pertanyaan dari masyarakat. Bagaimana kalau rumahnya hanya beberapa meter. Kalau salat Idul Fitri di rumah malah ngerumpel (kerumunan),” kata Kiai Abdusshomad Buchori.

Karena itu, ia minta pemerintah tetap memberi kelonggaran, yaitu mengizinkan salat idul fitri di masjid.

Dalam acara itu para kiai secara bergantian memimpin doa untuk keselamatan bangsa dan para pemimpin Indonesia, di samping tentu saja mendokan diri sendiri secara bersama. Para ulama itu secara khusus berdoa agar semua bencana segera lenyap dari bumi Indonesia.

“Banyak bencana menimpa Indonesia. Mulai dari terbakarnya kilang minyak Pertamina Balongan, gempa bumi dan tenggelamnya kapal Nanggala 402. Kita berdoa semoga semua bencana itu dilenyapkan dari Indonesia,” kata Kiai Asep.

Bahkan Kiai Asep juga mendoakan Presiden dan Wapres RI Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin serta para bupati dan gubernur seluruh Indonesia. Khusus Guburnur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kiai Asep berdoa semoga sukses memimpin Jawa Timur.

“Semoga Ibu Khofifah sukses memimpin Jawa Timur sehingga menjadi provinsi termaju di seluruh Indonesia dan Ibu Khofifah menjadi pemimpin nasional. Semoga putri Indonesia ini menjadi Presiden Republik Indonesia,” kata Kiai Asep yang diamini secara serentak para kiai dan tokoh yang hadir. (mma)