Tafsir Al-Kahfi 65: Khidir A.S., Nabinya Komunitas Green Peace

Editor: Redaksi
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB

Ilustrasi. foto: gomedii

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaan

Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.


TAFSIR AKTUAL

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, bahkan sampai kebablasan, lalu balik lagi, kini Musa A.S. berhasil menemumui guru spiritual yang dicari-cari, yaitu Khidir A.S. al-Sayyid Muhsin al-Misawy menyebut nama kecil Khidir adalah Balya ibn Balkan yang kemudian berjuluk Khadlir, Sang Hijau.

Banyak versi terkait latar belakang penjulukan tersebut, antara lain: pertama, sesuai maknanya, “hijau”, bahwa nabi ini punya keistimewaan menakjubkan, di mana setiap ada lahan kering, rerumputan atau apa yang pernah disinggahi beliau, maka setelah itu cepat sekali menjadi hijau dan subur, meskipun pada musim kemarau.

Kedua, Khadlir A.S. dikenal sebagai orang shalih yang doanya mustajab, spesial mendoakan kemakmuran, kesuburan tanah pertanian atau pertumbuhan ekonomi rakyat. Tidak hanya mendoakan, Khadlir juga suka penghijauan lahan demi kemaslahatan hidup generasi mendatang. Waw, andai Khadlir A.S. warga negara negeri ini, maka dijadikan menteri pertanian, perhutanan seumur hidup.

Ketiga, Khadlir A.S. sangat menyukai lingkuangan yang bersih dan bebas dari limbah maupun polusi. Sebaran “hijau” yang dicanangkan Khadlir A.S. tidak hanya di daratan saja, melainkan hingga ke pantai dan laut. Makanya, saat nabi Musa A.S. memburunya, dia ditemui di pantai, majma’ al-bahrain. Pengembara dan pecinta lingkungan ini benar-benar layak menjadi nabinya komunitas Green Peace.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.