Tradisi Kupatan, Sejarah, dan Asal Usulnya

Editor: Revol Afkar
Wartawan: Muji Harjita
Selasa, 18 Mei 2021 14:43 WIB

Abdullah, salah satu pedagang ketupat di Pasar Gurah saat melayani pembeli. foto: MUJI HARJITA/ BANGSAONLINE

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Konon, lebaran kupat atau ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Saat itu, beliau memperkenalkan dua istilah Bakda kepada masyarakat Jawa, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Bakda Lebaran dipahami dengan prosesi pelaksanaan Salat Ied 1 Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim. Sedangkan Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran.

Ternyata tradisi tersebut hingga kini masih dijalankannya oleh masyarakat. Bahkan sejak H+2 lebaran, di sejumlah pasar Kabupaten Kediri dan Kota Kediri, sudah ada yang mulai menjual kupat. Kupat atau ketupat yang dijual ada yang sudah jadi, maupun yang masih berbentuk janur kuning.

Abdullah, warga Desa Turus, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, termasuk pedagang yang memanfaatkan momen lebaran kupat ini untuk mengais rezeki dengan berjualan janur maupun kupat yang sudah jadi, di Pasar Gurah.

Ditemui saat menjajakan kupatnya di Pasar Gurah, Abdullah yang ditemani istrinya mengaku menjual kupat yang sudah jadi dengan harga Rp. 8 ribu per 10 biji. Sedangkan bagi pembeli yang ingin membeli janur, dihargai Rp.7 ribu per 10 daun.

"Saya mendapatkan janur (bahan membuat kupat) dari Pasar Grosir Ngronggo, Kota Kediri. Waktu masih banyak pohon kelapa, biasanya saya membeli langsung dari pemilik pohon kelapa," kata Abdullah sambil merangkai janur menjadi kupat, Selasa (18/5).

Selain Abdullah, di Pasar Gurah juga ada beberapa pedagang yang khusus menjual janur bahan kupat dan kupat yang sudah jadi. Selain kupat, juga dijual lepet yang bentuk bulat lonjong. Kalau kupat diisi beras, sedangkan lepet diisi beras ketan.

Untuk melengkapi sajian, biasanya masyarakat menambahkan lontong yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan daun pisang.

Menurut H. J. de Graaf, dalam bukunya Malay Annal, ketupat adalah simbol perayaan hari raya Islam pada masa Kesultanan Demak awal abad ke-15, yang saat itu dipimpin oleh Raden Patah.

Kesultanan Demak membangun kekuatan politiknya sembari menyiarkan agama Islam dengan dukungan Walisongo, salah satu di antaranya adalah Sunan Kalijaga.

Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur kelapa yang telah dibuang lidinya itu menunjukkan identitas budaya pesisir yang dipenuhi banyak pohon kelapa.

Kupatan sendiri merupakan salah satu tradisi masyarakat muslim Jawa yang masih dilestarikan sampai sekarang. Umumnya, kupatan hanya dirayakan oleh masyarakat secara individual.

Menurut Clifford Geertz, kupatan adalah tradisi selametan kecil yang dilaksanakan pada hari ketujuh bulan syawal. Secara filosofi, janur kuning yang dibuat untuk membungkus kupat menurut orang Jawa diyakini bisa menolak bala (nasib buruk). Oleh karena itu, tidak heran ketupat selalu hadir di beragam upacara adat.

Janur merupakan kependekan dari ‘Jatinining nur’ yang memiliki makna memiliki cita-cita untuk menggapai cahaya ilahi dengan hati yang bersih. Untuk itu, agar bisa mencapainya, seseorang harus selalu ingat pada Tuhan, berzikir, dan beramal saleh.

Dalam Kamus Pepak Basa Jawa, Slamet Mulyono menuliskan bahwa kata “Ketupat” berasal dari kata “Kupat”. Kupat merupakan parafrase dari “Ngaku Lepat” dan “Laku Papat”. (uji/rev)