Silaturahim ke Kiai Asep, TGB Zainul Majdi Terkesan Kerja Ekonomi Umat Amanatul Ummah

Editor: mma
Sabtu, 05 Juni 2021 22:07 WIB

Secara tawadlu Dr Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mencium tangan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. saat pamit usai silaturahim di Guest House Institut KH Abdul Chalim di Pacet Mojokerto, Sabtu (5/6/2021). Tapi spontan Kiai Asep menarik tangannya. foto: Said/IkhacTV

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Dr Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) silaturahim kepada Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto, Sabtu (5/6/2021).

TGB – panggilan Muhamamd Zainul Majdi – diterima Kiai Asep di Guest House Institut KH Abdul Chalim (IKHAC).

Namun tak lama kemudian Kiai Asep mengajak TGB ke ruangan khusus tamu penting. Yaitu di ujung barat Guest House. “Mari kita pindah. Karena panjenengan orang alim, saya ajak pindah ke tempat di sana,” kata Kiai Asep sambil beranjak berdiri.

Namun TGB tetap duduk. “Tidak Pak Kiai. Saya masih thalabul ilmi. Saya masih belajar. Belum alim,” kata TGB merendah. Tapi Kiai Asep tetap mengajak pindah. Akhirnya Kiai Asep dan TGB menuju ke ruangan yang dimaksud, disertai rombongan.

(Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. saat berdoa bersama Dr Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi dan Muhammad Al Barra (Gus Bara) di Guest House Institut KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto, Sabtu (5/6/2021). foto: mma/bangsaonline.com)

Dalam pertemuan itu hadir Muhammad Al-Barra (Gus Bara), putra sulung Kiai Asep yang kini menjabat Wakil Bupati Mojokerto. Juga Muhiburrohman (Gus Muhib), menantu Kiai Asep, yang Rektor IKHAC.

Di ruangan itu Kiai Asep banyak bercerita tentang perkembangan lembaga pendidikan yang diasuhnya. Termasuk beberapa usaha ekonomi yang menekankan pada kemandirian umat dan pondok pesantren. Di antaranya usaha air mineral, SPPBE (Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Epliji) dan usaha ekonomi lainnya yang selama ini dikuasai kelompok tertentu.

Putra KH. Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU, itu juga mengungkap soal pentingnya umat Islam menguasai ilmu kedokteran dan kesehatan, terutama setelah kasus vaksin AstraZeneca yang proses pembuatannya mengandung tripsin babi dan ginjal bayi manusia. Karena itu kiai miliarder tapi dermawan itu kini sedang menyiapkan pembangungan rumah sakit untuk menopang pembangunan International university yang akan mengundang mahasiswa dari berbagai negara secara gratis.

TGB sangat setuju dengan pemikiran Kiai Asep tentang pentingnya umat Islam menguasai ilmu kedokteran dan kesehatan. “Karena selama ini kita kadang diombang-ambingkan karena kita tak tahu pasti,” kata TGB.

Alumnus Universitas Al Azhar Mesir yang dikenal hafal Quran itu mengaku terkesan dengan kerja ekonomi umat yang selama ini dilakukan Kiai Asep. Kepada BANGSAONLINE.com, TGB mengaku menyimak semua penuturan Kiai Asep.

DARI KIRI: TGB Dr Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, Muhammad Al Barra (Gus Bara), Muhiburrohman (Gus Muhib)

Bahkan secara tawaddlu TGB mengaku mendapat pelajaran. “Banyak hal. Intinya, semua gerak ekonomi beliau itu diawali dengan keyakinan. Dan ikhtiar-ikhtiar beliau tidak hanya bernuansa material teknis tapi juga ada yang lebih dalam dari itu. Yaitu ikhtiar-ikhtiar spiritual, dalam arti tetap tersambung kepada Allah SWT, “ kata TGB yang menyebut Kiai Asep sebagai guru kita.

“Salah satu yang sangat berharga yang dapat saya ambil adalah innamal a’malu binniah. Jadi niat beliau adalah untuk membuka akses bagi umat, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Jadi (beliau) niat memberdayakan umat. Maka Allah membalas (dengan) selalu memberdayakan beliau,” kata TGB kepada BANGSAONLINE.com usai pertemuan.

Menurut dia, ini pelajaran yang tak bisa kita temukan di kampus. “Ini tak ada di kampus, untuk anak-anak muda, kita semua, yang akan terjun berkirpah di masyarakat. Bahwa motivasi itu penting, Dan kelurusan niat itu menentukan akhir dari apa yang kita ikhtiarkan,” katanya sembari mengatakan bahwa Amanatul Ummah akan terus menjadi benchmark (tolok ukur) atau rujukan ikhtiar-ikhtiar untuk pembangunan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan sosial.

Sebelum pamit, TGB minta Kiai Asep untuk mendoakan. Namun Kiai Asep diam. TGB kembali minta agar Kiai Asep mendoakan. Akhirnya Kiai Asep berdoa yang diamini semua yang hadir.

Namun seusai mendoakan, Kiai Asep justru minta TGB mendoakan. TGB pun berdoa yang diamini semua yang hadir. 

Dua tokoh Islam itu memang sangat tawadlu. Bahkan saat pamit TGB membungkuk mencium tangan Kiai Asep. Tapi Kiai Asep spontan menarik tangannya. (mma)