Selalu Bahasa Madura, Kiai Nawawi Abdul Jalil Pemegang Teguh Tradisi Pesantren

Editor: mma
Minggu, 13 Juni 2021 20:49 WIB

M Mas'ud Adnan

Oleh: M Mas’ud Adnan --- Saat beliau masih hidup. Saya beberapa kali sowan. Ke KH Nawawi Abdul Jalil. Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Yang sore tadi dikabarkan wafat. Innalilallahi wainna ilaihi roji’un.

Tentu saya tak sendirian. Tapi bersama rombongan kecil. Tapi dipimpin orang besar. KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Ya, saat cucu pendiri NU Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari itu masih hidup. Saat aktif sosialisasi "NU bersih". 

Atau lebih tepatnya saat Gus Sholah gencar menegakkan khittah NU. Yang sulitnya bukan main. Namun tetap dilakukan. Dengan tegar. Dengan sabar. Agar NU tak terus menerus terkontaminasi politik dan uang.

Respons Kiai Nawawi luar biasa. Kiai yang selalu berpenampilan sederhana itu menyambut hangat Gus Sholah.

Gus Sholah pun sowan lagi. Ke Sidogiri. Beberapa minggu kemudian.

Kali ini Gus Sholah mengundang para kiai. Untuk sharing “NU bersih”. Sesuai khitah 26. Bersih dari politik dan money politics.

Untuk silaturahim kedua ini Kiai Nawawi menyiapkan ruangan khusus. Maklum, Gus Sholah mengundang banyak kiai. Sekitar 30 kiai. Dari berbagai daerah.

(KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) saat diterima KH Nawawi Abdul Jalil di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, saat dua kiai itu masih hidup. Tampak KH Azaim Ibrahimi, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo dan KH Hisyam Syafaat, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung Banyuwangi. foto: Ustadz Amin Zen Tebuireng)

Kiai Nawawi ikut pembukaan pertemuan itu. Para kiai pun penuh semangat. Merasa disupport. Sharing tentang NU berlangsung hangat.

Saya selalu memperhatikan Kiai Nawawi. Termasuk semua pecakapan yang beliau lontarkan. Saya berkesimpulan. Kiai Nawawi adalah pemegang teguh tradisi pesantren. Tawadlu’. Ta’dzim. Terutama pada guru.

Loh, apakah Kiai Nawawi berguru pada Gus Sholah?

“Salah satu pengasuh Pondok Sidogiri pernah mondok di Tebuireng,” kata Kiai Nawawi Abdul Jalil suatu ketika saat menyikapi Gus Dur dalam percaturan politik nasional. Karena itu ia minta semua santri dan alumni Sidogiri mendukung Gus Dur.

Bayangkan. “Hanya” karena salah satu Pengasuh Pondok Sidogiri pernah mondok di Tebuireng. Tapi Kiai Nawawi ikut ta’dzim. Bahkan Kiai Nawawi juga minta agar semua santri dan alumni Sidogiri ta’dzim pada Kiai Tebuireng.

Bukankah ini sikap ta’dzim luar biasa? Nah, inilah salah satu dasar mengapa saya berkesimpulan bahwa Kiai Nawawi Abdul Jalil pemegang teguh tradisi pesantren.

Belakangan saya baru dengar informasi. Bahwa Kiai Nawawi justru sering ke Pesantren Tebuireng. Tapi saat itu Gus Sholah minta jangan dipublikasikan. Silaturahim Gus Sholah ke Sidogiri justru silaturahim balasan. Karena sebelumnya Kiai Nawawi yang silaturahim ke Tebuireng.

Kiai Nawawi memang sangat ta’dzim pada dzuriyah Tebuireng. Terutama pada Gus Sholah dan Gus Dur. Putra KH A Wahid Hasyim. Yang juga cucu Hadratussyaikh. 

Lebih-lebih pada Gus Dur. Yang pernah jadi ketua umum PBNU. Tiga periode. Dan Presiden ke-4 RI.

Tentu Kiai Nawawi ta'dzim pada Gus Dur dan Gus Sholah juga karena cucu pendiri NU. Saya kira semua kiai yang paham kultur NU niscaya ta'dzim pada dzuriyah. Hanya kiai yang tak paham kultur NU yang tidak hormat pada cucu pendiri NU.

Bahkan Kiai Nawawi tidak hanya ta’dzim. Tapi juga fanatik pada Gus Dur. Setidaknya ini penilaian subyektif saya.

Saya mendengar sendiri saat Kiai Nawawi merespons kontroversi petinggi PBNU pasca Gus Dur. Yang suka membuat pernyataan kontroversial.

Lap mahelap. Niroah Gus Dur. Tak Bisa. Derejaddeh laen,” demikian kira-kira komentar Kiai Nawawi dalam bahasa Madura. Arti bebasnya, berlagak nylenih. Mau niru Gus Dur. Tak bisa. Derajatnya beda atau lain.

Kiai Nawawi memang selalu berbahasa Madura. Penampilannya sangat sederhana. Namun kharisma dan dedikasinya luar biasa.

Kini Kiai Nawawi Abdul Jalil telah dipanggil Sang KekasihSemoga patah tumbuh hilang berganti. Sehingga pondok pesantren Sidogiri yang santrinya puluhan ribu itu makin maju dan penuh manfaat. Bagi umat. Sekaligus mewarisi nilai-nilai mulya yang telah Kiai Nawawi wariskan. Wallahua’lam bisshawab.