Dibabat Sabit Rekan Seprofesi, Tukang Becak di Trenggalek Tewas di Tempat

Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Herman Subagyo
Kamis, 01 Juli 2021 19:41 WIB

Polres Trenggalek sedang melakukan olah TKP. (foto: HERMAN/ BANGSAONLINE)

TRENGGALEK, BANGSAONLINE.com - Tukang becak inisial TKR, warga Kelurahan Surodakan meregang nyawa akibat dibabat dengan sebilah sabit oleh rekan seprofesinya yang berinisial TG. Peristiwa pembunuhan ini terjadi di depan ATM Bank Jatim yang letaknya berada di sebelah selatan Kantor Pemerintah Kabupaten Trenggalek.

Kasat Reskrim Polres Trenggalek AKP Tatar Hernawan membenarkan jika telah terjadi perisitiwa pembunuhan di sebelah selatan Kantor Pemkab Trenggalek atau utara Alun-Alun Trenggalek. "Ya, memang ini terjadi diduga ada peristiwa pembunuhan tepatnya berada di utara alun-alun," kata Tatar saat dikonfirmasi di TKP, Kamis (1/7/2021).

Dikatakan oleh Tatar, dalam peristiwa pembunuhan tersebut, antara pelaku dan korban saling kenal dan sekaligus rekan seprofesi yang sehari-hari sebagai tukang becak. "Untuk sementara ini yang diduga tersangka itu kami amankan di polres," terangnya.

Peristiwa pembunuhan ini diperkirakan terjadi sekira pukul 10.00 WIB. Untuk kronologi kejadian, jajaran Satreskrim Polres Trenggalek masih melakukan pendalaman. "Nanti untuk pemeriksaan lebih lanjut dan proses penyidikan perkembangannya akan kami beritahukan," ujarnya.

Sementara itu, Budianto, rekan seprofesi tukang becak menyampaikan bahwa pelaku inisial TG yang sering dipanggil dengan nama Gendon merupakan warga Kabupaten Ponorogo. Di Trenggalek, pelaku tidak memiliki rumah dan sehari-hari tidur di Pasar Sore Trenggalek. "Pak Gendon itu tidurnya di Pasar Sore," ungkapnya.

Ia memprediksi peristiwa pembunuhan ini karena dilatarbelakangi rasa iri antara korban dan pelaku. Korban, kerap diberi uang oleh sebagian orang setelah mengambil uang di ATM tersebut.

Budianto lalu mengungkapkan bahwa dirinya pernah diberi uang oleh adiknya sendiri di TKP. Lalu uang hasil pemberian adiknya itu tidak dibagi dengan pelaku. Pelaku sempat naik pitam dan pernah mengancam akan membacok dirinya.

"Pak Gendon niku ngalor ngidul mbetane arit dateng wingking (Pak Gendon itu kemana pun dia pergi selalu membawa sabit yang diletakkan di belakang)," kata Budi. (man/zar)