Gandeng UMKM Sidoarjo, Mahasiswa KKN UPN Jatim Kembangkan Pemberdayaan Masyarakat di Tengah Pandemi

Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Catur Andy
Kamis, 08 Juli 2021 20:35 WIB

Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jawa Timur yang sedang menempuh program Kuliah Kerja Nyata (KKN) menggandeng pengusaha industri rumahan yang terletak di kawasan Kelurahan Magersari, Sidoarjo. (foto: ist)

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jawa Timur yang sedang menempuh program Kuliah Kerja Nyata (KKN) menggandeng pengusaha industri rumahan yang terletak di kawasan Kelurahan Magersari, Sidoarjo. UMKM aneka jenis sabun pembersih kuman dan bakteri ini mampu mengembangkan pemberdayaan masyarakat sekitar di tengah pandemi Covid-19.

KKN merupakan bentuk kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan kalangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan menggunakan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral.

Koordinator KKN Tematik Belanegara UPN Veteran Jawa Timur Silma Nuril Jannah tak menyangka, jadwal KKN bersama teman-temannya harus berbarengan dengan aturan pemerintah saat PPKM darurat. Di mana dalam aturan tersebut, segala bentuk kegiatan masyarakat akan dibatasi. Mulai dari pendidikan, pariwisata, peribadatan, hingga perekonomian.

Meski demikian, dia meyakini mampu menjalani hari-harinya bersama warga sekitar Magersari, Sidoarjo. Silma mengatakan bahwa ada banyak program yang akan dilakukan kalangan mahasiswa KKN di Magersari, Sidoarjo. Seperti bidang pendidikan, kesehatan, inovasi teknologi, kewirausahaan, kominfo, dan sosial pemberdayaan desa.

Sebagaimana tema yang digagas sebelumnya, yakni Pengembangan Pariwisata Lokal dan Peningkatan UMKM di Tengah Pandemi Covid-19. "Tapi kami akan lebih fokus pada sosial pendidikan dan ekonomi kreatif," ujar Silma, Kamis (8/7/2021).

Adapun untuk mendukung programnya tersebut, dia dan teman-temannya menggandeng seorang pengusaha mandiri asal Kelurahan Magersari, Sidoarjo. Usaha yang dirintis sejak dua bulanan terakhir berlatar dari pergolakan ekonomi masyarakat saat diterpa pandemi Covid-19.

Ya, pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan semata, melainkan semua aspek kehidupan. Dampaknya, tak sedikit warga yang kehilangan mata pencahariannya. Hal itulah yang membuat pengusaha tersebut memilih untuk mengembangkan ide-ide kreatif. Salah satunya, membuat aneka jenis sabun pembersih kuman dan bakteri.

"Ada sabun cuci tangan, karbol lantai, pembersih keramik, hand sanitizer, disinfektan, softener, hingga sabun karpet dan mobil," katanya.

Nantinya, kalangan mahasiswa ini akan melakukan sosialisasi terkait pentingnya protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19, melakukan penyemprotan disinfektan dari produk usaha rumahan tersebut, dan membagi-bagikan hand sanitizer serta sabun cuci tangan untuk masyarakat sekitar Magersari, Sidoarjo.

Selain itu, kalangan mahasiswa ini juga akan melakukan edukasi terkait digital marketing. Di mana dalam penerapannya pelaku usaha tidak bisa sekadar mengandalkan promosi manual, melainkan memanfaatkan teknologi yang ada untuk mengembangkan produk UMKM terutama di wilayah Magersari, Sidoarjo.

Sementara dari aspek pengelolaan keuangan sendiri, pelaku UMKM juga akan diberi edukasi mengatur segala bentuk pemasukan dan pengeluaran hasil usaha berbasis aplikasi, sehingga ke depannya pengelolaan UMKM lebih tertata rapi.

"Untuk aspek pendidikan sendiri, kita akan menggali potensi dari kalangan siswa SD dan SMP. Kita juga akan melakukan pendampingan ke anak-anak di sekitar sini bagaimana memanfaatkan pembelajaran secara daring," terangnya.

Usaha rumahan ini merupakan milik salah satu warga Magersari, Sidoarjo, yakni Bagus Sugeng Hendrawan. Sebelum menggeluti bisnis rumahan, Alumnus Universitas Bhayangkara Surabaya tersebut merupakan seorang wiraswasta dan aktif dalam organisasi ke-NU-an di wilayah Magersari.

Namun sejak beberapa bulan terakhir ini, dia sempat memikirkan nasib perekonomian warga sekitar di tengah pandemi Covid-19. Banyak pemuda-pemuda sekitar yang mulai menganggur, kebutuhan sandang pangan meningkat, daya beli masyarakat menurun, dan pendapatan pun kian anjlok.

Hingga akhirnya dia berinisiatif untuk membuat bisnis rumahan dengan melibatkan warga sekitar. Seperti yatim piatu, fakir miskin, anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Banser. Jumlah karyawannya pun mencapai 18 orang.

"Ini adalah usaha mandiri. Kita melihat banyak adik-adik yatim piatu, putus sekolah, tulang punggung keluarga, tidak punya penghasilan tetap, tidak ada kesibukan yang positif, dan bisanya cuma begadang nongkrong sana-sini. Makanya kita ajak berkarya. Dan sudah saatnya yang muda yang berkarya untuk kegiatan yang positif demi mengurangi tingkat kriminalitas," ungkap Bagus.

Selain melibatkan warga sekitar, keberadaan usaha rumahan ini juga sebagai bentuk pemulihan ekonomi warga sekitar, khususnya Magersari, Sidoarjo, dan penghasilan yang didapat, sebagian akan disisihkan untuk pendidikan, tempat ibadah, maupun dukungan terhadap kesehatan masyarakat Magersari. (cat/zar)