Puan Maharani Minta Pemerintah Tingkatkan Perlindungan pada Nakes

Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: Nanang Fachrurozi
Jumat, 09 Juli 2021 12:47 WIB

Ketua DPR RI Puan Maharani saat kunjungan kerja ke Jawa Timur didampingi Gubernur Khofifah Indar Parawansa, belum lama ini.

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Ketua DPR-RI Puan Maharani minta pemerintah memberi perhatian khusus pada nakes (tenaga kesehatan) dalam menghadapi pandemi Covid-19 gelombang kedua ini. Nakes dan keluarganya menghadapi risiko berlipat-lipat dibanding kelompok masyarakat lainnya.

“Nakes bukan saja harus membantu kesembuhan pasien Covid-19, dia juga harus menjaga dan melindungi diri serta keluarganya agar tidak ikut terinfeksi virus. Kami meminta pemerintah membuat sistem perlindungan untuk nakes, baik secara fisik maupun mental,” ujar Puan di Jakarta, Jumat (9/7/2021).

Data yang dihimpun PERSI, bersama sejumlah organisasi lainnya seperti IDI dan PPNI, sejak awal pandemi hingga 28 Juni 2021, tercatat sudah ada 1.031 tenaga kesehatan yang gugur. Jumlah ini terdiri atas 405 dokter, 43 dokter gigi, 328 perawat, 160 bidan, dan 95 tenaga kesehatan lain.

“Indonesia telah kehilangan ribuan pejuang kesehatan akibat pandemi ini. Apalagi dengan kasus harian yang terus melonjak, kondisi para nakes semakin mengkhawatirkan,” ujar Puan.

Politikus PDI Perjuangan ini mengatakan, jumlah tenaga kesehatan yang aktif saat ini juga berkurang karena banyak dari mereka yang masih terinfeksi Covid-19.

“Saya dapat laporan bahwa para tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 juga tidak memiliki banyak waktu untuk memulihkan kesehatan mereka setelah dinyatakan sembuh. Ketika negatif, langsung diminta kembali bekerja karena rumah sakit kekurangan tenaga,” ucap dia.

Mantan Menko PMK ini menegaskan, sistem perlindungan terhadap nakes ini tidak hanya secara fisik, tetapi juga perlindungan secara mental. Sehingga kalaupun terinfeksi bisa segera sembuh kembali,.

“Teman-teman nakes ini kondisinya kelelahan, mengalami burn out, dengan beban kerja berat yang seakan tak ada ujungnya ini. Jam kerja semakin panjang dan ketidakpastian kapan pandemi berakhir mengancam kesehatan mental mereka,” kata alumnus FISIP Universitas Indonesia ini.

Semua faktor tersebut, lanjut dia, akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan fisik para nakes. Jika para nakes kelelahan atau berguguran, masyarakatlah yang dirugikan.

“Kesehatan mental nakes merupakan isu yang vital dan mendesak untuk diperhatikan pemerintah. Dengan tekanan kerja yang begitu besar, para nakes membutuhkan pelindungan fisik dan mental lebih besar lagi dari hari-hari biasa mereka bekerja,” tuturnya.

Karena itu, Puan meminta masyarakat luas untuk terus mengapresiasi perjuangan para nakes yang sedang bekerja keras di garda tedepan penanganan pandemi ini.

“Kita bisa membantu mendukung para nakes ini dengan memberikan perhatian dan apresiasi, atau dalam bentuk yang lebih nyata. Apresiasi bisa dimulai dari teman, kerabat dan sanak saudara yang berpforesi sebagai nakes,” ujar Puan.

“Atau kalau belum bisa mengapresiasi, minimal masyarakat, khususunya keluarga pasien, agar menhindari selisih paham atau tuduhan-tuduhan yang kontra-produktif kepada para nakes, sehingga tidak melemahkan mental dan fisik mereka,” ujar Puan. (nf/ns)