​Petugas Biarkan Pawai Obor Keliling Baca Burdah di Pamekasan, Ini Alasannya

Editor: mma
Minggu, 11 Juli 2021 07:40 WIB

Pawai obor keliling sambil membaca burdah mentradisi di Pamekasan Madura. foto: skesindonews.com

PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Pawai obor keliling ke kampung-kampung sambil membaca salawat burdah kini banyak digelar masyarakat Pamekasan Madura. Mereka menggelar acara tersebut sebagai ikhtiar menghilangkan Covid-19 dari Pamekasan, Jawa Timur dan Indonesia.

Bahkan mereka - seperti dikutip Antara - menggelar pawai obor secara rutin. “Hampir tiap malam ada pawai obor dengan membaca burdah oleh masyarakat di sini,” tutur Pathol Arifin, warga Trasak, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.

Bukan hanya warga Trasak yang menggelar acara pawai obor. Warga Dusun Toroy dan Karang Tengah, Desa Dempo Barat, Kecamatan Pasean, juga menggelar pawai keliling bernuansa religius itu.

Mereka berkeliling kampung pada malam hari sambil membawa obor dan membaca dzikir dan qasidah burdah.

Peserta pawai ini terdiri dari berbagai usia. Sebagian pemuda, anak-anak, dan sebagian bahkan tokoh masyarakat serta perangkat desa.

Berbeda dengan acara keramaian lain yang dilarang, pawai obor ini tampak dibiarkan oleh petugas. Bahkan Satgas Covid-19 tampak ikut berjaga-jaga di tempat yang dilalui para peserta pawai obor tersebut.

Apa alasan petugas? Saiful, petugas Satgas Covid-19 di Pamekasan menyatakan bahwa pihaknya membiarkan acara tersebut karena bagian dari ikhtiar menghilangkan Covid-19

“Yang penting menjaga jarak dan memakai masker,” kata Saiful saat mengawasi pawai obor tersebut Jumat (9/7/2021) malam.

Pantauan BANGSAONLINE.com, pawai obor merupakan tradisi mengakar di sebagian masyarakat Madura. Pawai obor tidak hanya dilakukan masyarakat Pamekasan tapi juga masyarakat di kabupaten lain di Madura. Di antaranya di Bangkalan.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE.com, saat Covid-19 sedang ganas-ganasnya menyerang warga Arosbaya Bangkalan beberapa hari lalu, beberapa kiai kampung berinisiatif membaca burdah dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung. Mereka meyakini bahwa qasidah burdah yang berupa syair pujian terhadap Rasulullah SAW itu bisa mengusir wabah Covid-19 dari Arosbaya.

“Sekarang warga Paserean mengamalkan dzikir dan salawat. Terutama burdah agar selamat dari Covid-19,” kata Hj. Yeni Susilowati, warga Kampung Paserean, Kecamantan Arosbaya Bangkalan Madura kepada BANGSAONLINE.com, Minggu (13/7/2021).

“Sekarang ada burdah keliling,” tambahnya. Maksudnya, beberapa orang berkeliling kampung membaca salawat sembari memohon kepada Allah SWT agar selamat dari wabah Covid-19. Tentu mereka dengan protokol kesehatan yang sangat ketat, terutama pakai masker danmenjaga jarak aman.

Burdah adalah qasidah yang berisi salawat puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Burdah banyak diamalkan oleh warga NU.

Dalam catatan Wikipedia, Burdah diciptakan oleh ulama sufi besar dari Mesir bernama Imam Al-Bushiri (610-695H/1213-1296 M). Nama lengkapnya Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri. Selain menulis Burdah, Al-Bushiri juga menulis beberapa qashidah lain. Di antaranya Al-Qashidah Al-Mudhariyah dan Al-Qashidah Al-Hamziyah.

Penciptaan Burdah ini ada sejarahnya. Suatu ketika Al-Bushiri menderita sakit lumpuh sehingga tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Lalu dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’atnya. Di dalam tidurnya, Al-Bushiri mimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Nabi mengusap wajah Al-Bushiri, kemudian dia melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh Al-Bushiri. Saat ia bangun dari mimpinya, seketika itu juga ia sembuh dari lumpuhnya.

Maka para ulama lalu banyak mengamalkan Burdah ciptaan Imam Al-Bushiri itu. (tim)