Pak Luhut Pelajari Covid-19 di Arosbaya Bangkalan! Dulu Neraka Kini Reda

Editor: mma
Sabtu, 17 Juli 2021 16:06 WIB

M Mas'ud Adnan

Oleh: M Mas’ud Adnan --- Pemerintah telah menghabiskan dana Rp 1.050 triliun untuk penanganan Covid-19. Namun hingga sekarang angka Covid-19 di negeri ini bukan turun. Sebaliknya justru meroket tajam. Indonesia bahkan mencatat rekor tertinggi. Terbesar. Dalam angka kasus baru harian di seluruh dunia. Yaitu 54. 517 kasus. Pada Kamis 14 Juli 2021 lalu.

Begitu juga angka kematian baru. Indonesia tertinggi. Se-Asia Tenggara: 991 kematian baru. Dari total 69.210 kematian.

Kasus Covid-19 di Indonesia pun mencapai 2.67 juta. Jumlah yang luar biasa tinggi.

Kenapa Covid-19 makin tak terkendali di Indonesia? Sudah banyak kritik tajam berhamburan. Di media massa. Baik di surat kabar, TV maupun online. Sampai Pak Luhut Binsar Panjaitan marah besar.

“Jadi yang bicara tidak terkendali itu bisa datang ke saya. Nanti saya tunjukkan ke mukanya bahwa kita terkendali,” tegas Pak Luhut dalam konferensi pers daring, Senin 12 Juli 2021.

Pak Luhut pantas marah. Karena Pak Luhut-lah orang paling bertanggung jawab terhadap lonjakan Covid-19. Bukankah Presiden Jokowi telah menunjuk pak Luhut sebagai kordinator PPKM Darurat Jawa dan Bali.

Namun marah saja tak cukup. Perlu bukti. Pak Luhut akhirnya mengakui bahwa virus yang mengguncang dunia itu memang tak terkendali. “Covid-19 varian Delta tak bisa dikendalikan,” kata Pak Luhut, Kamis, 15 Juli 2021.

Hanya berselang tiga hari. Pak Luhut sudah berubah. Itu lebih baik. Ketimbang tak mau mengakui fakta yang terjadi.

Logikanya, bagaimana Pak Luhut bisa menyelesaikan masalah, jika fakta yang terjadi tak diakui. Lalu apa yang akan diselesaikan. Nah.

Kini Pemerintah tampak gamang. Apakah PPKM Darurat diperpanjang atau distop. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhajir Efendi menyatakan bahwa Presiden Jokowi dalam rapat terbatas telah memutuskan diperpanjang hingga akhir Juli.

Tapi Edy Priyono, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) menyatakan belum diputuskan. Baru wacana.

Mana yang benar? Rakyat pun bingung. Yang pasti, hingga saat ini Covid-19 masih tak terkendali. Ini berarti koordinasi Pak Luhut selama dua minggu tak efektif.

Nah, saya berpikir sudah saatnya para petinggi negeri ini – termasuk Pak Luhut – tidak hanya berorientasi global. Tapi juga berorientasi lokal dalam penangan Covid-19 agar kita segera keluar dari krisis. Baik krisis kesehatan maupun ekonomi. Sekaligus – tentunya - tetap punya harga diri karena mampu menjaga kedaulatan serta indepedensi sebagai bangsa yang berdaulat.

Kenapa saya menekankan punya harga diri dan berdaulat?. Saya baca di media massa, jika virus Corona terus tak terkendali, Pak Luhut akan minta pertolongan ke Tiongkok untuk menangani Covid-19.

Benarkah? Semoga ini tak benar. Namun jika benar, tentu sangat ironis. Langkah itu selain menambah ketergantungan kita pada negara lain juga mempermalukan diri sendiri.

Kenapa? karena kita secara terang-terangan mengumumkan kepada dunia bahwa kita sudah tak mampu mengurus, apalagi menyelesaikan, negara kita sendiri. Lalu apa fungsi pemerintah? Bukankah para petinggi negara itu digaji besar oleh rakyat? Sudah sedemikian parahkah kita sebagai bangsa dan negara sehingga untuk mengurus kesehatan rakyat saja kita minta negara lain intervensi?

Para petinggi Indonesia – termasuk Pak Luhut – saatnya menunduk. Tidak terus mendongak ke dunia global, tapi berorientasi ke lokal dalam menangani Covid-19. Bukankah di beberapa daerah banyak kasus Covid-19 meledak seperti neraka namun bisa diselesaikan dengan baik? Salah satu contoh penanganan Covid-19 di Arosbaya, Bangkalan Madura.

Harus kita akui, kasus penyelesaian Covid-19 di Arosbaya sangat unik dan ajaib. Hanya dalam waktu singkat angka kasus baru dan kematian yang semula sangat tinggi bisa ditekan secara drastis. Padahal saat virus Corona mengganas, RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan sempat dikabarkan kekurangan peti mati. Saking banyaknya orang mati. Setidaknya itulah pengakuan Ibu Nur Syamsiah yang menyuplai peti mati ke RSUD Syamrabu Bangkalan.

Sedemikian singkat sampai banyak orang tak percaya saat diumumkan virus Corona telah terkendali di Bangkalan. Maklum, sebelumnya Arosbaya tiap detik masuk media, terutama TV, surat kabar, dan media online secara nasional.

Bagaimana virus Corona di Arosbaya bisa ditangani dengan baik. Saya berapa kali mengontak famili saya di Arosbaya. Baik saat kasus Corona meledak seperti neraka maupun setelah reda. Kebetulan salah seorang wartawan BANGSAONLINE.com, Subaidah, juga warga Arosbaya.

“Selama dua minggu berturut-turut disemprot disinfektan. Baik di pasar maupun di rumah-rumah warga di kampung-kampung,” tutur Lisa Muyassir, salah seorang famili saya dari ujung telepon di Arosbaya Bangkalan.

Lisa Muyassir adalah perempuan muda yang tiap hari berjualan pakaian di Pasar Arosbaya. Tapi saat virus corona mengganas ia tak berani keluar. “Orang semua ketakutan. Tiap hari di kampung saya 6 orang meninggal. Itu di kampung saya saja. Belum di kampung lain,” kata Lisa dengan suara bergidik sambil berkali-kali minta didoakan agar ia dan keluarganya selamat dari serangan virus Corona.

Menurut Lisa, warga Arosbaya semula sangat bandel. Tak pernah peduli protokol kesehatan (Prokes). Mereka selalu berkerumun. Baik dalam acara resepsi pernikahan maupun cangkruk dan pelesiran.

Bahkan, kata Lisa, orang yang taat prokes justru dipersoalkan. “Dulu kalau ada orang pakai masker ditertawakan. Sekarang mereka pakai masker rangkap tiga,” kata Lisa.

Kemarin sore, Jumat (16/7/2021), saya kontak Lisa Muyassir lagi. Menurut dia, penyemprotan disinfektan terus digencarkan. Warga juga tidak mengandalkan pemerintah.

“Kita di kampung urunan (sumbangan). Sampai sekarang masih kita semprot karena dana (hasil urunan) itu masih ada,” kata Lisa Muyassir.

Sekarang ia mengaku sudah merdeka. Ia bebas ke mana-mana. Saat saya kontak Lisa mengaku sedang melintas di Jembatan Suramadu.

Hajah Yeni Susilowati, warga Arosbaya yang lain, juga sempat saya kontak. Menurut dia, saat virus Corona menyerang, Arosbaya benar-benar mencekam. Orang mati di mana-mana. Warga pun tak ada yang berani keluar rumah.

Lalu beberapa kiai kampung berkeliling membaca qasidah burdah dan dzikir. Burdah adalah qasidah yang dicipta Imam Al-Busyiri yang isinya puji-pujian kepada Rasulullah SAW.

Artinya, selain upaya-upara rasional sesuai ilmu kesehatan juga ada upaya spiritual. Tentu dimensi spiritualitas itu sesuai keyakinan agamanya masing-masing.

Alhasil, salah satu yang paling digencarkan adalah penyemprotan disinfektan. Tentu di samping penyekatan, gerakan pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak, di samping yang lain. Memang ada informasi bahwa disinfektan tidak direkomendasikan WHO. Tapi kalau ternyata efektif dan tidak mengganggu kesehatan. Kenapa tidak? 

Saya melihat pada PPKM Darurat ini tak ada sama sekali penyemprotan disinfektan. Baik di Surabaya maupun di daerah kabupaten dan kota lain di Jawa Timur. Padahal virus varian baru dikabarkan melayang-layang di udara.

Yang paling dominan dalam PPKM Darurat justru penyekatan. Padahal rakyat sudah jenuh. Kenapa? Penyekatan bukan saja mematikan ekonomi tapi juga pemborosan ekonomi rakyat. Kendaraan harus berputar-putar. Karena d imana-dimana jalan raya ditutup. Otomatis pengeluaran BBM berlipat.

Belum lagi rakyat harus bertengkar. Dengan petugas di jalan raya. Karena dibentak-bentak. Kapolri yang pernah berjanji akan mengedepankan pendekatan humanis ternyata praktik di lapangan berbeda. Warga pun banyak yang jengkel. Gaduh. Tak bersahabat. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis alumnus Pesantren Tebuireng, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater-Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) dan Pascasarjana Unair.