​Ketika para Mualaf Merasa Lebih Pintar Agama daripada Ulama

Editor: mma
Selasa, 20 Juli 2021 16:57 WIB

M Mas'ud Adnan. foto: bangsaonline.com

Oleh: M Mas’ud Adnan - Saya ingat ketika sekolah madrasah di kampung. Nama sekolah saya Madrasah Miftahul Choir. Di Desa Patemon, Kecamatan Tanah Merah. Kabupaten Bangkalan Madura.

Ustadz Tasik, guru saya, selalu mengingatkan tentang dua kerusakan di muka bumi.

“Ada dua kerusakan di muka bumi ini,” kata Ustadz Tasik yang kini sudah almarhum.

“Pertama, orang bodoh yang tak mengerti kebodohannya (tak menyadari bahwa ia bodoh). Kedua, orang pintar (berilmu) tapi tak mau mengamalkan ilmunya,” katanya.

Ajaran itu sangat melekat dalam benak saya. Dan sekarang saya mulai melihat fenomena itu. Banyak sekali para yang tiba-tiba merasa lebih paham agama ketimbang ulama yang sebenarnya. Ironisnya, mereka tanpa rasa malu berani mencaci ulama yang alim allamah.

Padahal kualitas dan kapasitas keilmuan mereka sama sekali tak sebanding. Jangankan dari segi ilmu agama, baca al-Quran saja banyak di antara mereka yang masih blepotan. Tapi mereka sudah merasa sangat pintar agama, berani menyalahkan orang lain, termasuk ulama. Terutama yang tak sepaham atau beda paham keagamaan.

Memang salah satu “penyakit hati” orang baru belajar agama adalah sok pintar, sok suci, dan sok paling benar. Terutama mereka yang “salah guru” atau “salah ustadz”. Yaitu yang diasuh ustadz parsial, tak punya pemahaman agama yang utuh dan komprehensif serta sanad ilmu yang jelas.

Ustadz parsial biasanya menganut paham penunggalan pendapat, otoriter, dan sibuk menyalahkan paham agama kelompok lain yang tak sealiran. Celakanya, ia menganggap dirinya paling benar. Padahal semua ulama besar tak pernah memutlakkan kebenaran pendapat. 

Alhasil, pemahaman keagamaan ustadz parsial seperti kaca mata kuda, tak membuka khasanah keilmuan yang luas. Akibatnya muncul eksklusif, sok pintar, dan merasa paling benar sendiri seperti katak dalam tempurung.

Masih ingat artis Five Vi yang baru hijrah? Ia pernah menyerang masyarakat yang suka merayakan hari lahir Nabi Muhammad atau Maulid Nabi. Tak tanggung-tanggung. Dengan memposting video ceramah gurunya, Ustadz Sufyan Baswedan, artis yang sebelumnya dikenal selalu tampil seksi itu menulis soal pandangan maulid dari 4 mazhab.

“Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” tulis Five Vi di instagramnya.

Postingan artis Five Vi itu ditanggapi KH Afifuddin Muhajir, ulama ahli ushul fiqh di BANGSAONLINE.com, (26/10/2020). Kiai Afifuddin adalah Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur. Ia juga dikenal sebagai pengarang sejumlah kitab, di antaranya Fathu al-Mujib al-Qorib. Jadi otoritas keilmuannya tak perlu diragukan.

Menurut Kiai Afifuddin, perayaan Maulid itu terdiri dari lima acara. Setidaknya, itulah yang selama ini berkembang dalam masyarakat.

Pertama, pembacaan beberapa ayat suci al-Qur'an. Kedua, pembacaan shalawat Nabi. Ketiga, pembacaan sirah (sejarah) Nabi. Keempat, penyampaian mau'idhah hasanah (pesan-pesan yang baik). Kelima, sedekah buah-buahan, makanan, minuman, dan lain-lain.

Lalu poin mana yang yang bertentangan dengan ajaran Islam? “Orang Islam yang masih normal pasti tahu bahwa hal-hal tersebut tidak dilarang dalam Islam. Bahkan sangat dianjurkan dengan anjuran yang sifatnya mutlak, yakni tidak dikaitkan dengan waktu dan tempat. Artinya, hal-hal tersebut bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tak terkecuali pada bulan Rabi'ul awwal,” kata KH Afifuddin Muhajir

Mualaf lain yang kontroversial adalah Felix Siauw. Etnis Tionghoa yang pro khilafah itu popular sebagai ustadz. Ia juga gencar ceramah di mana-mana. Bahkan pernah debat dengan tokoh agama di TV.

Tapi bacaan al-Qurannya pernah dikoreksi Ahmad Ishomuddin dari PBNU. “Belajar dulu baca Alquran dengan benar kepada para ahlinya sebelum nenjadi ustaz,” tulis Ahmad Ishomuddin di akun Facebooknya berjudul Sebuah Catatan Untuk Felix Siauw.

Yang terbaru adalah kasus Yahya Waloni, seorang yang kini menjadi ustadz. Ia mendoakan Qurasy Shihab, ulama alim dan ahli tafsir, agar cepat mati gara-gara menjadi saksi dalam kasus Ahok.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video