20% Penyintas Covid-19 Alami Gangguan Kejiwaan, Gernas MUI Buka Layanan Konsultasi Agama

Editor: tim
Sabtu, 07 Agustus 2021 06:49 WIB

Dr. KH. Cholil Nafis. foto: ist.

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Gerakan Nasional Majelis Ulama Indonesia (Gernas ) Penanggulangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi meluncurkan layanan konsultasi agama dan kesehatan virtual bagi masyarakat terkait Covid-19.

Wakil Ketua Gernas , KH Cholil Nafis, menjelaskan layanan ini didasari hadirnya pandemi Covid-19 di Indonesia yang tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi berdampak pada kesehatan mental.

Apalagi, kata Kiai Cholil, sejak pembatasan sosial serta terjadinya peningkatan kasus Covid-19 yang sangat tinggi menjadikan kesabaran dan kepatuhan umat terus diuji.

Kiai Cholil menyebutkan hasil kajian Universitas Oxford Inggris yang diterbitkan Jurnal The Lancet Psychiatry, menemukan fakta bahwa satu dari lima penyintas Covid-19 mempunyai risiko besar terkena gangguan mental. Dalam riset tersebut terungkap sebanyak 20 persen orang yang pernah terinfeksi Covid-19 mengalami gangguan kejiwaan dalam waktu 90 hari. Gejala yang banyak muncul setelah mereka dinyatakan sembuh adalah kecemasan, depresi, dan insomnia.

Temuan ini, menurut dia, sejalan dengan survei Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang Dan Diklat Kementerian Agama berjudul “Urgensi Layanan Agama di Masa Pandemi Covid-19”. Hasil survei tersebut menyebutkan 55,1 persen respons setuju bahwa Covid-19 memengaruhi keyakinan/praktik keberagamaan.

Menurut Kiai Cholil, pandemi Covid-19 memang telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan, termasuk rutinitas mengakses kajian, ceramah, dan tausiyah keislaman secara langsung tatap muka dengan ustadz yang barangkali biasa dilakoni dalam kondisi normal. “Apalagi bagi mereka yang terpapar parah Covid-19. Kendala akses tentu lebih sulit lagi,” kata Kiai Cholil Nafis dalam rilisnya pada BANGSAONLINE.com, Sabtu (7/8/2021).

Kabar baiknya, kata dia, 86,7 persen responden berupaya terhubung dengan (mencari support dari) pemuka agama dan komunitas agama mereka. Saat isolasi mandiri, ragam aktivitas dilakukan. Sebanyak 56,3 persen mendengar atau membaca kitab suci, 47,2 persen mendengar ceramah, dan 42,8 persen dzikir/meditasi. Sedikit sekali yang konsultasi-psikologis khusus.

Simak berita selengkapnya ...

1 2

 

Berita Terkait

Bangsaonline Video